Saung Ciburial, Wajah Desa Garut yang Menyatukan Alam dan Budaya Kabupaten Garut tidak hanya menawarkan gunung, kawah, pemandian air panas, dan pantai di wilayah selatan. Di Kecamatan Samarang, wisatawan dapat menemukan Desa Wisata Saung Ciburial yang menghadirkan suasana pedesaan melalui kegiatan pertanian, peternakan domba Garut, kesenian Sunda, permainan tradisional, kerajinan, serta penginapan di lingkungan warga.
Desa wisata ini berada di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawasannya dikelilingi lahan pertanian, kolam, perkampungan, dan bentang perbukitan dengan udara yang relatif sejuk. Pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga dapat mengikuti kegiatan masyarakat melalui paket yang disusun oleh pengelola lokal.
Saung Ciburial mulai dirintis pada 2010, menjalani peluncuran awal pada 2013, lalu diresmikan pada 20 Desember 2018. Desa ini kemudian masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021. Pengembangannya mengusung wisata edukasi dan ekowisata berbasis kearifan lokal dengan slogan “Berbagi Cerita Dalam Nuansa Desa”.
Suasana Desa Menjadi Daya Tarik Utama
Pengalaman di Saung Ciburial dimulai dari bentang alam yang masih erat dengan kegiatan warga. Wisatawan dapat melihat petani mengolah lahan, menanam sayuran, memanen hasil kebun, memelihara ternak, hingga menyiapkan makanan dari bahan yang tersedia di sekitar desa.
Pemandangan tersebut bukan dekorasi yang sengaja dibuat untuk kebutuhan wisata. Sebagian besar wilayah Desa Sukalaksana digunakan untuk pertanian. Pemerintah Kabupaten Garut mencatat sekitar 85 persen wilayah desa merupakan kawasan pertanian, dengan produksi sawi yang pernah disebut mencapai sekitar 40 ton per hari. Kegiatan menyangkul, menanam, dan memanen kemudian dimasukkan ke dalam pengalaman kunjungan.
Kolam yang berada di sekitar bangunan saung ikut memperkuat kesan tenang. Bangunan kayu, jalan setapak, kebun, serta permukiman warga membentuk lingkungan yang jauh berbeda dari tempat wisata buatan dengan wahana besar.
Wisatawan dapat berjalan santai menyusuri kampung sambil mengenal susunan permukiman, sumber penghidupan, dan cara warga menggunakan sumber daya di sekitarnya. Kegiatan semacam ini membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Garut.
“Kekuatan Saung Ciburial terletak pada keseharian warga yang tetap berjalan secara alami. Wisata hadir sebagai ruang perjumpaan, bukan sebagai panggung yang memisahkan penduduk dari tamunya.”
Pertanian Sawi Menjadi Ruang Belajar Terbuka
Lahan pertanian bukan hanya latar pemandangan. Pengelola menawarkan kegiatan edukasi bertani sawi yang mengajak wisatawan mengenali tahapan budidaya, mulai dari persiapan tanah, penanaman, pemeliharaan, hingga panen.
Aktivitas ini cocok untuk rombongan sekolah karena anak dapat melihat langsung sumber sayuran yang biasa ditemukan di meja makan. Mereka juga dapat memahami bahwa hasil pertanian membutuhkan perawatan, air, tenaga, serta ketelitian sebelum dikirim menuju pasar.
Wisatawan dewasa dapat memperoleh pengetahuan mengenai pola tanam dan kehidupan petani dataran tinggi. Percakapan dengan warga memberi gambaran mengenai perubahan harga, kebutuhan pupuk, pengairan, tenaga kerja, dan cara hasil panen dipasarkan.
Menurut daftar atraksi Jadesta, kegiatan edukasi bertani sawi ditawarkan sebagai salah satu paket wisata alam. Tarif yang tercantum dimulai dari Rp25.000, meskipun pengunjung tetap perlu memastikan harga terbaru kepada pengelola sebelum melakukan perjalanan.
Jelajah Kampung Membuka Sudut Desa yang Lebih Luas
Wisatawan yang ingin melihat wilayah lebih jauh dapat mengikuti kegiatan jelajah kampung. Rutenya membawa peserta melintasi lingkungan permukiman, area pertanian, serta sejumlah titik yang memperlihatkan bentang alam Sukalaksana.
Perjalanan biasanya didampingi pemandu lokal. Kehadiran pemandu penting karena pengunjung tidak hanya membutuhkan petunjuk jalan, tetapi juga penjelasan mengenai kebiasaan warga, tanaman yang ditemui, sejarah kampung, serta aturan ketika memasuki area tertentu.
Kegiatan ini dapat disesuaikan dengan kemampuan rombongan. Keluarga dengan anak kecil bisa memilih jalur yang lebih ringan, sedangkan kelompok yang terbiasa berjalan kaki dapat menempuh rute lebih panjang.
Jadesta mencantumkan paket tracking kampung dengan harga awal Rp20.000. Daftar tersebut juga menampilkan kegiatan luar ruang lain seperti river tubing, perkemahan, paintball, dan permainan edukatif.
Ngagogo Menghidupkan Tradisi Menangkap Ikan
Salah satu kegiatan yang banyak menarik perhatian di Saung Ciburial adalah ngagogo. Peserta masuk ke kolam dan berusaha menangkap ikan menggunakan tangan kosong. Kegiatan ini membutuhkan ketangkasan karena ikan bergerak cepat di dalam air yang mulai keruh akibat langkah para peserta.
Ngagogo berasal dari kebiasaan masyarakat yang dahulu digelar pada peristiwa tertentu sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan bersama. Tradisi tersebut kemudian dihidupkan kembali sebagai bagian dari kegiatan desa wisata.
Peserta tidak hanya mengejar ikan untuk kesenangan. Mereka belajar bekerja sama, berbagi ruang, dan menghargai hasil yang diperoleh. Ikan yang berhasil ditangkap dapat dibawa pulang atau dimasak untuk dinikmati bersama di lokasi.
Pakaian ganti perlu disiapkan karena seluruh peserta akan bersentuhan langsung dengan air dan lumpur. Alas kaki yang tidak licin juga membantu mengurangi risiko terpeleset saat bergerak di dalam kolam.
Tarif paket ngagogo yang tercantum di Jadesta dimulai dari Rp65.000. Reservasi lebih awal dibutuhkan agar pengelola dapat menyiapkan kolam, ikan, pemandu, serta konsumsi apabila dimasukkan dalam pesanan rombongan.
Domba Garut Diperkenalkan dari Dekat
Domba Garut menjadi salah satu identitas penting Kabupaten Garut. Di Saung Ciburial, pengunjung dapat mengenal cara pemeliharaan, kebersihan kandang, perawatan bulu, pemberian pakan, serta karakter fisik ternak tersebut.
Domba Garut dikenal melalui tubuh yang kokoh dan bentuk tanduk yang khas pada pejantan. Perawatannya membutuhkan ketelatenan agar hewan tetap sehat, bersih, dan memiliki kondisi tubuh yang baik.
Wisatawan dapat mengunjungi kandang serta melihat bagaimana warga memandikan dan merawat domba. Pada paket tertentu, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan ketangkasan yang disajikan sebagai bagian dari kebudayaan setempat.
Pemerintah Kabupaten Garut menyebut pertunjukan domba, cara pemeliharaan, dan pengenalan ketangkasan domba sebagai bagian dari sajian Saung Ciburial. Pengelola juga memasukkan edukasi memelihara domba dan kegiatan bertema domba dalam daftar paket wisatanya.
Penyajian atraksi hewan tetap perlu memperhatikan kesehatan dan perlakuan yang layak. Pengunjung sebaiknya mengikuti instruksi pemandu serta tidak memberi makanan sembarangan tanpa izin pemilik.
Pencak Silat Menjaga Seni Gerak Sunda
Kehidupan budaya di Saung Ciburial juga terlihat melalui pencak silat Gajah Putih Mega Paksi Pusaka. Wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan sekaligus mengenal gerakan dasar yang diwariskan melalui latihan antargenerasi.
Pencak silat tidak hanya menampilkan kemampuan bela diri. Pertunjukannya memadukan disiplin tubuh, iringan, busana, tata gerak, serta penghormatan antara pesilat. Setiap gerakan membutuhkan keseimbangan dan pengendalian tenaga.
Pengunjung dapat mengikuti pengenalan jurus bersama pelatih lokal. Bagi anak sekolah, kegiatan tersebut menjadi cara yang lebih menarik untuk mengenal seni tradisional daripada sekadar melihat gambar atau penjelasan di ruang kelas.
Pemerintah Kabupaten Garut mencatat pertunjukan dan pembelajaran jurus pencak silat sebagai bagian dari pengalaman budaya di Saung Ciburial. Paket pertunjukan Gajah Putih Mega Paksi Pusaka juga tersedia dalam daftar atraksi desa wisata.
Permainan Tradisional Mengurangi Jarak Antargenerasi
Kelompok Kaulinan Barudak Lembur atau Kabarulem memperkenalkan permainan yang dahulu sering dimainkan anak di halaman, kebun, dan lapangan kampung. Kegiatannya dapat mencakup egrang, sondah, serta permainan berkelompok yang membutuhkan gerak dan kerja sama.
Atraksi ini menjadi salah satu bagian yang mudah dinikmati keluarga. Orang tua dapat mengenang permainan semasa kecil, sedangkan anak memperoleh pengalaman yang berbeda dari permainan digital.
Kepala Desa Sukalaksana pernah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut ingin memperlihatkan kepada anak bagaimana generasi terdahulu bermain sebelum telepon pintar menjadi bagian utama keseharian.
Permainan tradisional juga membuat interaksi antarpeserta terjadi secara langsung. Anak perlu berbicara, bergantian, menyusun strategi sederhana, serta menerima hasil permainan bersama kelompok.
Membatik dan Melukis Membawa Pulang Karya Sendiri
Saung Ciburial menyediakan kegiatan membatik yang memperkenalkan pengunjung kepada batik tulis Garutan. Peserta mendapat penjelasan mengenai alat, bahan, penggunaan canting, dan ragam motif yang dikenal di Garut.
Pengelola menyiapkan media serta pendamping agar peserta dapat membuat contoh motif. Karya yang selesai dapat dibawa pulang sebagai cendera mata, sehingga oleh oleh tidak hanya dibeli, tetapi dibuat sendiri selama kunjungan.
Tarif belajar membatik yang tercantum di Jadesta dimulai dari Rp55.000. Harga tersebut dapat berubah sesuai ukuran media, jumlah peserta, perlengkapan, dan susunan kegiatan yang dipilih.
Pilihan lain adalah melukis dekoratif menggunakan cecempeh atau dudukuy. Cecempeh merupakan tampah kecil yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah tangga, sedangkan dudukuy adalah penutup kepala berbentuk caping.
Melalui kegiatan itu, benda yang dekat dengan kehidupan pedesaan berubah menjadi media seni. Peserta bebas memilih warna dan pola, kemudian membawa hasilnya sebagai kenang kenangan.
Pandai Besi Memperlihatkan Keterampilan yang Jarang Disaksikan
Kegiatan panday besi atau gosali membawa wisatawan menuju proses pembuatan peralatan berbahan logam. Pengunjung dapat melihat besi dipanaskan, dibentuk, ditempa, dan diselesaikan menjadi alat yang digunakan dalam pekerjaan sehari hari.
Pekerjaan pandai besi membutuhkan ketepatan, kekuatan, dan pengalaman. Suhu tinggi serta alat berat membuat area kerja harus diikuti dengan disiplin keselamatan.
Bagi rombongan pendidikan, kegiatan ini memperlihatkan hubungan antara keterampilan tradisional dan kebutuhan pertanian. Cangkul, pisau, serta peralatan lain tidak muncul begitu saja di toko, tetapi melalui rangkaian pekerjaan perajin.
Jadesta memasukkan wisata budaya panday besi atau gosali sebagai salah satu atraksi Saung Ciburial dengan tarif awal Rp25.000. Wisatawan perlu mengikuti batas aman yang ditentukan oleh perajin dan pemandu selama berada di area kerja.
Kuliner Desa Memakai Hasil Bumi Setempat
Perjalanan ke Saung Ciburial terasa lebih lengkap melalui sajian kuliner. Pengunjung dapat menikmati makanan Sunda dengan bahan yang berasal dari kebun, kolam, serta usaha warga sekitar.
Salah satu minuman yang diperkenalkan adalah Teh Kewer atau Teh Karuhun. Minuman ini dibuat dari biji buah kewer, tanaman perdu yang dikenal oleh masyarakat setempat. Pilihan lain adalah kopi akar wangi dengan aroma khas.
Camilan tradisional seperti rangginang, wajit, dan anglèng juga dapat ditemukan. Ikan hasil tangkapan dari kegiatan ngagogo dapat dimasak dan disantap bersama, tergantung susunan paket yang dipilih.
Makan bersama di saung memberi suasana yang berbeda dari restoran perkotaan. Pengunjung dapat duduk menghadap kolam, kebun, atau perbukitan sambil menikmati hidangan yang disiapkan warga.
“Kuliner di desa wisata sebaiknya tidak hanya dinilai dari tampilan hidangan. Nilai terbesarnya berada pada hubungan antara kebun, dapur warga, resep keluarga, dan perputaran pendapatan di tingkat desa.”
Saung dan Homestay Membuka Kesempatan Menginap
Wisatawan yang ingin tinggal lebih lama dapat memilih saung penginapan atau homestay milik warga. Menginap memungkinkan tamu menikmati suasana pagi, udara malam, dan kegiatan desa yang tidak seluruhnya terlihat dalam kunjungan singkat.
Data Jadesta menyebut Saung Ciburial memiliki tujuh saung penginapan dengan 22 kamar dan kapasitas sekitar 75 hingga 100 orang. Selain itu, terdapat sekitar 80 homestay warga yang telah tersertifikasi.
Homestay memberi pengalaman lebih personal karena wisatawan tinggal dekat dengan pemilik rumah. Mereka dapat mengenal kebiasaan keluarga, cara penyajian makanan, serta kehidupan masyarakat di luar jadwal atraksi.
Rombongan besar perlu memesan jauh hari agar pembagian kamar, konsumsi, ruang pertemuan, dan kegiatan dapat disiapkan dengan baik. Pengunjung juga sebaiknya menanyakan fasilitas kamar, air panas, kapasitas tempat tidur, kamar mandi, serta aturan waktu masuk dan keluar.
Desa wisata menyediakan balai pertemuan, kafetaria, musala, kamar mandi umum, area parkir, tempat makan, kios suvenir, area swafoto, WiFi, dan fasilitas kegiatan luar ruang.
Pengelolaan Wisata Melibatkan BUMDes dan Warga
Saung Ciburial tidak berdiri sebagai usaha milik investor yang terpisah dari kehidupan desa. Pengelolaannya melibatkan Badan Usaha Milik Desa serta warga yang menyediakan penginapan, makanan, pemandu, atraksi, kerajinan, dan hasil pertanian.
Pemerintah Kabupaten Garut mencatat BUMDes Sukalaksana tidak hanya mengelola desa wisata, tetapi juga layanan air bersih dan rest area. Pendapatan dari kegiatan tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan desa.
Pengelolaan berbasis desa memberi peluang agar belanja wisatawan tersebar kepada lebih banyak pelaku. Uang yang dibayarkan untuk homestay, makanan, pemandu, kerajinan, dan atraksi dapat masuk kepada keluarga serta kelompok yang berbeda.
Desa ini juga pernah dipilih sebagai pusat pencanangan program One Village One Company pada 20 Desember 2018. Pemilihan tersebut berkaitan dengan pengembangan ekonomi kreatif warga melalui kegiatan desa wisata.
Akses dari Bandung dan Pusat Kota Garut
Saung Ciburial berada di wilayah Samarang yang dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan sewaan. Dari Bandung, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam, bergantung pada titik keberangkatan dan kepadatan lalu lintas.
Perjalanan dari Jakarta dapat memakan waktu sekitar empat hingga lima jam melalui jalur tol menuju Bandung dan Garut. Waktu tempuh dapat bertambah pada akhir pekan, musim liburan, atau ketika terjadi kepadatan di jalur utama.
Alamat yang tercantum dalam Jadesta berada di Jalan Waluran Tonggoh RT 01 RW 06, Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.
Kendaraan roda empat dapat mencapai kawasan desa, tetapi pengunjung tetap perlu memastikan keadaan jalan dan lokasi parkir kepada pengelola, terutama apabila datang menggunakan bus besar.
Perjalanan sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar wisatawan memiliki cukup waktu mengikuti beberapa kegiatan. Kabut, hujan, dan udara dingin dapat muncul di kawasan Garut, sehingga jaket, payung, serta alas kaki yang sesuai perlu disiapkan.
Reservasi Dibutuhkan Sebelum Rombongan Datang
Kunjungan ke Saung Ciburial berbeda dari mendatangi taman kota yang dapat dimasuki tanpa persiapan. Sebagian besar atraksi membutuhkan pemandu, pelaku seni, perajin, lahan, ternak, bahan, atau perlengkapan yang harus disiapkan terlebih dahulu.
Kepala Desa Sukalaksana pernah menyebut desa ini memiliki 23 paket wisata dan menerima kunjungan kelompok berdasarkan pesanan. Jumlah wisatawan tahunan disebut berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 orang ketika keterangan itu disampaikan pada 2024.
Pengunjung perlu menyampaikan tanggal, jumlah peserta, rentang usia, kebutuhan makanan, lama kegiatan, serta pilihan atraksi. Informasi tersebut membantu pengelola menyusun jadwal yang tidak bertabrakan dengan pekerjaan warga.
Rombongan sekolah dapat menggabungkan pertanian, permainan tradisional, membatik, dan pengenalan domba. Keluarga dapat memilih ngagogo, kuliner, jelajah kampung, serta menginap. Kelompok perusahaan dapat memadukan pertemuan, permainan, dan kegiatan luar ruang.
Harga yang tertera di Jadesta dapat dijadikan gambaran awal, tetapi nilai akhir perlu dikonfirmasi karena paket rombongan sering dipengaruhi jumlah peserta, konsumsi, penginapan, pemandu, dan durasi kegiatan. Reservasi juga membantu wisatawan mengetahui kegiatan yang tersedia pada tanggal kunjungan.






