Pasar Lama Tangerang Surga Kuliner Viral & Jejak Cina Benteng

Wisata8 Views

Pasar Lama Tangerang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi magnet baru bagi pemburu kuliner dan penikmat sejarah perkotaan. Kawasan yang dulunya identik dengan pasar tradisional dan pertokoan tua ini kini bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, ramai, dan viral di media sosial. Di satu sisi, deretan jajanan kekinian menggoda pengunjung muda. Di sisi lain, jejak panjang komunitas Cina Benteng masih terasa kuat lewat arsitektur, tempat ibadah, hingga kuliner peranakan yang melegenda.

Denyut Kehidupan Malam di Pasar Lama Tangerang

Memasuki kawasan Pasar Lama Tangerang menjelang sore, suasana mulai berubah pelan namun pasti. Toko tua menutup rolling door, sementara gerobak dan tenda kuliner mulai ditata di sepanjang jalan. Aroma bakso, sate, martabak, dan aneka jajanan goreng bercampur dengan bau kopi dan teh tarik. Lampu kuning dari kios portabel menyinari bangunan tua, menciptakan suasana yang hangat sekaligus sedikit nostalgik.

Bagi warga Tangerang dan sekitarnya, kawasan ini bukan sekadar tempat makan. Pasar Lama sudah menjadi tempat berkumpul, jalan santai, dan berfoto. Lajur kendaraan yang sebagian ditutup pada jam tertentu memberi ruang bagi pejalan kaki untuk menikmati suasana tanpa harus terus menepi dari motor dan mobil. Di akhir pekan, kepadatan pengunjung bisa membuat orang berjalan pelan seperti arus sungai yang penuh.

Di tengah keramaian, suara pedagang yang menawarkan menu, suara anak kecil yang merengek minta jajan, hingga denting sendok dan piring dari kios tenda berpadu menjadi satu. Di beberapa sudut, tampak pengunjung sibuk menata makanan mereka agar tampak menarik di kamera ponsel sebelum akhirnya disantap. Fenomena “foto dulu baru makan” seolah menjadi ritual wajib di kawasan ini.

“Ketika sebuah kawasan tua bisa seramai ini tanpa kehilangan karakternya, di situ terasa bahwa kota sedang berdialog dengan masa lalunya.”

Jejak Panjang Cina Benteng di Pasar Lama Tangerang

Sejarah Pasar Lama Tangerang tidak bisa dilepaskan dari komunitas Cina Benteng yang sudah ratusan tahun bermukim di wilayah ini. Istilah Cina Benteng merujuk pada keturunan Tionghoa yang sejak era kolonial tinggal di sekitar benteng VOC di Tangerang. Mereka mengembangkan budaya peranakan yang khas, memadukan unsur Tionghoa dengan budaya lokal Betawi dan Sunda.

Di kawasan Pasar Lama Tangerang, jejak itu terlihat jelas dari bangunan ruko tua dengan jendela kayu besar dan pintu lebar, beberapa di antaranya masih mempertahankan warna merah dan hijau khas Tionghoa. Di lantai atas, terkadang tampak lampion kecil atau ventilasi berbentuk lengkung yang mengingatkan pada rumah toko di pecinan kota pelabuhan lain.

Tak jauh dari jalur utama kuliner, berdiri Klenteng Boen Tek Bio yang menjadi salah satu penanda penting keberadaan Cina Benteng di kawasan ini. Klenteng ini diyakini sebagai salah satu yang tertua di Tangerang, menjadi tempat ibadah, sekaligus pusat kegiatan sosial budaya komunitas Tionghoa setempat. Aroma hio yang menyengat, patung dewa dewi, serta lilin merah raksasa di bagian dalam klenteng menjadi kontras yang menarik dengan hiruk pikuk kuliner di luar pagar.

Di sekitar klenteng dan gang kecil, masih bisa ditemui warga keturunan Tionghoa yang menjalankan usaha turun-temurun, seperti toko obat, penjual kue tradisional, atau warung makan sederhana. Nama toko yang memakai aksara Mandarin dan huruf Latin berdampingan menjadi pemandangan yang akrab di mata warga setempat.

Kuliner Legendaris yang Menjaga Tradisi Cina Benteng

Di antara deretan kuliner kekinian, kuliner tradisional Cina Benteng di Pasar Lama Tangerang tetap menjadi magnet tersendiri. Beberapa kedai sudah beroperasi lintas generasi, dikenal luas hingga ke luar kota.

Salah satu yang sering disebut adalah kedai yang menyajikan laksa dan aneka mi dengan cita rasa peranakan. Kuah gurih dengan aroma rempah, taburan daun kucai, dan tekstur mi yang kenyal menghadirkan rasa yang berbeda dari laksa daerah lain. Pengunjung lama sering menyebut bahwa rasa yang mereka nikmati hari ini tidak jauh berbeda dengan yang mereka cicipi puluhan tahun lalu.

Selain itu, ada pula kedai kue tradisional yang menjual kue keranjang, kue mangkok, bakpia, dan aneka kue basah berwarna cerah. Kue ini bukan hanya untuk perayaan Imlek atau Cap Go Meh, tetapi juga menjadi camilan harian bagi warga sekitar. Banyak pembeli yang sengaja datang pagi hari sebelum keramaian malam untuk mendapatkan kue yang baru matang dari dapur.

Di beberapa sudut, terdapat juga penjual minuman tradisional seperti liang teh, minuman herbal, dan jamu peranakan yang dipercaya bisa menjaga kesehatan. Botol kaca, etalase tua, dan meja kayu panjang menjadi saksi bagaimana kebiasaan minum ramuan tradisional masih bertahan di tengah serbuan minuman kekinian.

Ledakan Kuliner Kekinian di Pasar Lama Tangerang

Perubahan besar di Pasar Lama Tangerang mulai terasa ketika media sosial, terutama Instagram dan TikTok, mulai ramai menampilkan konten kuliner dari kawasan ini. Satu per satu pedagang baru bermunculan, menawarkan menu yang sengaja dirancang fotogenik dan “instagramable”.

Di sepanjang jalan, pengunjung bisa menemukan jajanan seperti corn dog keju lumer, minuman boba dengan topping berlimpah, roti bakar dengan aneka isian manis dan gurih, es krim warna warni, hingga makanan pedas ekstrem yang menantang nyali. Penataan kios yang penuh lampu dan papan nama warna cerah membuat kawasan ini tampak seperti pasar malam yang modern.

Sebagian pedagang memanfaatkan tren viral dengan menamai produknya secara unik, menonjolkan level pedas, ukuran porsi jumbo, atau kombinasi rasa tidak biasa. Di titik titik tertentu, antrean mengular di depan kios yang sedang naik daun, sementara pedagang lain memanggil pengunjung yang lewat agar melirik menu mereka.

Fenomena ini membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, kawasan Pasar Lama Tangerang menjadi semakin dikenal luas, mendatangkan pengunjung dari Jakarta, Bogor, Depok, bahkan luar provinsi. Di sisi lain, beberapa pengunjung lama mengeluhkan bahwa suasana kini terlalu padat dan harga makanan cenderung naik, jauh dari citra “murah meriah” di masa lalu.

“Tempat ini adalah contoh bagaimana tren bisa mengangkat sebuah kawasan, sekaligus menguji seberapa kuat ia bertahan pada jati dirinya sendiri.”

Wajah Arsitektur Tua di Tengah Lalu Lintas Modern

Jika menengadahkan kepala sejenak di tengah keramaian kuliner Pasar Lama Tangerang, pengunjung akan menyadari bahwa mereka sesungguhnya sedang berjalan di koridor sejarah. Deretan ruko tua dengan fasad yang mulai pudar, dinding berlumut, dan genteng yang menghitam menyimpan kisah panjang perdagangan di tepi Sungai Cisadane.

Beberapa bangunan masih mempertahankan bentuk aslinya, dengan pintu kayu besar dan jendela tinggi berdaun dua. Ada pula yang telah mengalami renovasi, namun tetap menjaga bentuk fasad depan agar selaras dengan lingkungan sekitar. Di antara ruko, gang sempit mengarah ke permukiman warga yang juga menyimpan kombinasi arsitektur tradisional dan modern.

Keberadaan bangunan tua ini memberi karakter kuat bagi Pasar Lama Tangerang. Jika kuliner adalah daya tarik yang mudah dirasakan, maka arsitektur adalah latar yang diam diam membentuk kesan mendalam. Banyak fotografer dan pemburu foto jalanan datang pada pagi hari, ketika kios kuliner belum buka, untuk mengabadikan suasana ruko tua yang masih sepi.

Pemerintah daerah dan komunitas pecinta heritage beberapa kali mengadakan kegiatan tur sejarah, pameran foto, atau festival budaya yang menjadikan bangunan tua sebagai panggung utama. Upaya ini menjadi pengingat bahwa kawasan ini bukan sekadar tempat jajan, melainkan juga ruang warisan yang perlu dirawat.

Pasar Lama Tangerang dan Denyut Ekonomi Warga

Transformasi Pasar Lama Tangerang sebagai pusat kuliner dan wisata sejarah membawa pengaruh besar pada perekonomian lokal. Banyak warga sekitar yang memanfaatkan peluang dengan membuka usaha kecil, baik sebagai pedagang makanan, penyedia jasa parkir, penyewaan kursi dan meja, hingga pengelola homestay sederhana bagi wisatawan luar kota.

Pedagang yang sebelumnya hanya mengandalkan pelanggan tetap kini menikmati lonjakan pembeli berkat promosi gratis dari pengunjung di media sosial. Satu unggahan video yang viral bisa membuat lapak mereka diserbu pengunjung selama berhari hari. Beberapa di antaranya bahkan mengembangkan merek sendiri, membuka cabang di luar kawasan Pasar Lama.

Namun, geliat ekonomi ini juga membawa tantangan. Harga sewa ruko dan kios meningkat, membuat sebagian pelaku usaha lama terdesak. Pendatang baru dengan modal lebih besar mampu menyewa lokasi strategis dan mendesain tempat lebih menarik, sehingga persaingan semakin ketat. Di sisi lain, kebutuhan akan pengelolaan sampah, kebersihan, dan ketertiban juga meningkat seiring membludaknya pengunjung.

Diskusi mengenai bagaimana menjaga keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha lama dan baru, antara wisata kuliner dan kenyamanan warga, menjadi isu yang kerap muncul di forum komunitas setempat. Pasar Lama Tangerang kini bukan lagi sekadar urusan jual beli, tetapi juga soal pengelolaan ruang kota yang adil dan berkelanjutan.

Pesona Malam Pasar Lama Tangerang yang Sulit Ditolak

Ketika matahari tenggelam, lampu lampu di Pasar Lama Tangerang menyala hampir serempak. Suasana yang tadinya ramai berubah menjadi lebih padat dan berkilau. Cahaya neon dari papan nama, lampu bohlam kuning dari tenda, dan sorot lampu kendaraan yang masih melintas berpadu menjadi lanskap visual yang khas.

Pengunjung yang datang malam hari biasanya sudah siap dengan daftar kuliner yang ingin dicoba. Ada yang sengaja datang demi satu menu yang viral di media sosial, ada pula yang memilih berjalan santai sambil melihat lihat dan memutuskan di tempat. Di sela sela itu, pedagang kaki lima menawarkan berbagai barang, mulai dari aksesoris, mainan anak, hingga pakaian.

Musik dari pengeras suara beberapa kios menambah semarak suasana. Terkadang terdengar lagu pop Indonesia terbaru, kadang lagu lawas Mandarin yang mengalun dari toko tua di sudut jalan. Di beberapa titik, pengamen jalanan ikut meramaikan dengan gitar dan suara seadanya.

Bagi sebagian orang, pengalaman menikmati malam di Pasar Lama Tangerang bukan hanya soal rasa makanan, tetapi juga soal sensasi berada di tengah kerumunan yang hidup. Ada rasa lelah setelah berjalan jauh dan mengantre, tetapi ada pula kepuasan ketika berhasil menemukan spot makan yang nyaman di tengah hiruk pikuk.

Menyusuri Pagi Tenang di Pasar Lama Tangerang

Berbeda dengan malam yang riuh, pagi hari di Pasar Lama Tangerang menawarkan wajah lain yang lebih tenang. Sebelum kios kuliner kekinian buka, aktivitas di kawasan ini didominasi oleh warga setempat yang berbelanja kebutuhan harian, membuka toko, atau sekadar duduk di depan rumah sambil menikmati udara pagi.

Beberapa warung kopi tradisional sudah melayani pelanggan tetap sejak dini hari. Di sana, para pedagang, sopir angkutan, dan pekerja sekitar berkumpul, mengobrol tentang kabar terbaru sambil menyeruput kopi tubruk dan menyantap roti sederhana. Suasana ini mengingatkan bahwa Pasar Lama bukan hanya panggung wisata, tetapi juga ruang hidup sehari hari bagi banyak orang.

Di jam jam awal, fotografer dan pejalan kaki yang ingin menikmati sisi heritage biasanya memanfaatkan momen ini. Mereka bisa memotret fasad ruko tanpa terganggu kerumunan, mengamati detail arsitektur, atau mengunjungi klenteng dengan lebih leluasa. Pagi hari juga menjadi waktu yang tepat untuk mencicipi kuliner legendaris yang hanya buka hingga siang.

Kontras antara pagi yang tenang dan malam yang hiruk pikuk menjadikan Pasar Lama Tangerang seperti dua dunia dalam satu kawasan. Keduanya saling melengkapi, menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang datang di waktu yang berbeda.

Rute, Akses, dan Dinamika Transportasi ke Pasar Lama Tangerang

Pasar Lama Tangerang berada tidak jauh dari pusat Kota Tangerang dan relatif mudah dijangkau dari berbagai arah. Stasiun Tangerang menjadi salah satu pintu masuk utama bagi pengunjung dari Jakarta dan sekitarnya. Dari stasiun, pengunjung bisa berjalan kaki atau naik angkutan lokal menuju kawasan Pasar Lama.

Bagi pengguna kendaraan pribadi, tersedia sejumlah kantong parkir di sekitar kawasan, meski pada akhir pekan dan hari libur sering kali penuh sesak. Beberapa ruas jalan diberlakukan rekayasa lalu lintas dan penutupan sementara pada jam jam tertentu demi memberi ruang lebih luas bagi pejalan kaki. Kondisi ini menuntut pengunjung untuk lebih sabar dan siap berjalan kaki agak jauh dari titik parkir menuju pusat keramaian.

Transportasi online juga menjadi pilihan favorit, meski titik penurunan penumpang biasanya diatur agar tidak menambah kemacetan di jalur utama. Di jam sibuk, kemacetan di sekitar Pasar Lama Tangerang hampir menjadi pemandangan rutin yang tak terhindarkan.

Di tengah dinamika ini, muncul wacana penataan transportasi yang lebih terintegrasi, termasuk kemungkinan penambahan area parkir terpusat dan jalur khusus pejalan kaki yang lebih nyaman. Bagi banyak pengunjung, pengalaman menuju lokasi menjadi bagian penting dari keseluruhan kunjungan, bukan sekadar proses teknis.

Pasar Lama Tangerang dalam Sorotan Media dan Wisatawan

Popularitas Pasar Lama Tangerang tidak lepas dari sorotan media dan konten kreator yang menjadikannya bahan liputan dan konten rutin. Program televisi kuliner, kanal YouTube makanan jalanan, hingga akun media sosial berbasis lokal berlomba menampilkan sudut sudut menarik kawasan ini.

Dalam banyak liputan, Pasar Lama digambarkan sebagai “surga kuliner” yang menawarkan pilihan hampir tanpa batas, dari makanan tradisional hingga jajanan kekinian. Sementara itu, sisi sejarah dan budaya Cina Benteng sering dijadikan nilai tambah yang membedakan kawasan ini dari pusat kuliner lain di Jabodetabek.

Wisatawan yang datang membawa ekspektasi tinggi setelah menonton berbagai ulasan. Ada yang pulang dengan rasa puas karena berhasil menemukan kuliner favorit baru, ada juga yang merasa kewalahan oleh keramaian dan antrean panjang. Namun, hampir semua sepakat bahwa Pasar Lama Tangerang adalah tempat yang “wajib dicoba setidaknya sekali” bagi pecinta kuliner dan penjelajah kota.

Seiring berjalannya waktu, tantangan bagi kawasan ini adalah bagaimana mempertahankan pesonanya agar tidak sekadar menjadi tren sesaat. Keseimbangan antara promosi dan pengelolaan di lapangan menjadi faktor kunci agar Pasar Lama tetap nyaman dikunjungi, baik oleh wisatawan maupun warga lokal yang sudah lama menjadikannya bagian dari kehidupan sehari hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *