Nama Mpu Prapanca hampir selalu dilekatkan pada Nagarakretagama, kitab pujian terhadap Raja Hayam Wuruk yang menjadi rujukan utama sejarah Majapahit. Namun di balik ketenaran itu, tersimpan jejak lain yang jauh lebih samar, berupa kemungkinan kitab kuno Mpu Prapanca selain karya mahsyurnya tersebut. Pembicaraan tentang kitab kuno Mpu Prapanca bukan hanya soal teks tua, tetapi juga menyangkut bagaimana kita membaca ulang sejarah, menafsirkan tradisi sastra Jawa Kuno, dan menimbang celah kosong dalam pengetahuan kita tentang Majapahit.
Menyibak Jejak Tersembunyi kitab kuno Mpu Prapanca
Nama Prapanca muncul dalam kolofon Nagarakretagama sebagai dharmadyaksa ring kasogatan, pejabat tinggi urusan agama Buddha di lingkungan Majapahit. Posisi ini membuatnya bukan sekadar penulis, tetapi juga intelektual istana yang terlibat dalam urusan keagamaan, politik, dan kebudayaan. Dari sini, banyak filolog beranggapan bahwa sangat mungkin ada kitab kuno Mpu Prapanca lain yang ia susun, baik berupa kakawin, kidung, maupun teks keagamaan yang kini belum teridentifikasi secara pasti.
Di lingkungan keraton Majapahit, tradisi penulisan tidak berhenti pada satu karya. Seorang penyair istana umumnya menghasilkan lebih dari satu teks, apalagi bila ia memegang jabatan penting. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa hanya Nagarakretagama yang sejauh ini dapat dipastikan sebagai karyanya, sementara jejak lain begitu kabur. Dugaan adanya kitab lain muncul dari gaya bahasa, struktur metrum, hingga cara bertutur yang mirip pada beberapa naskah Jawa Kuno yang masih diperdebatkan pengarangnya.
“Semakin banyak kita membaca teks Jawa Kuno, semakin jelas bahwa yang hilang bukan sekadar lembaran lontar, tetapi juga cara pandang sebuah zaman terhadap dirinya sendiri.”
Majapahit dan Tradisi Penulisan yang Penuh Lapisan
Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan yang produktif dalam melahirkan karya sastra. Kakawin, kidung, prasasti, hingga teks keagamaan lahir dari lingkungan keraton dan biara. Penulis tidak selalu menandatangani karyanya secara eksplisit, sehingga identifikasi pengarang kerap mengandalkan analisis gaya bahasa dan perbandingan antar teks. Dalam suasana seperti ini, kitab kuno Mpu Prapanca yang mungkin pernah ada bisa saja larut dalam arus tradisi penyalinan yang panjang dan berlapis.
Tradisi penyalinan naskah di Jawa dan Bali membuat satu teks bisa mengalami perubahan, penambahan, atau pengurangan. Ketika sebuah lontar disalin ulang, penyalin bisa menyesuaikan bahasa, mengubah istilah, bahkan menyisipkan bagian baru. Hal ini menambah rumit upaya menelusuri apakah suatu naskah berasal dari tangan Prapanca, muridnya, atau generasi penyalin jauh sesudahnya. Namun justru di dalam kerumitan itu, para peneliti mencoba menemukan pola yang konsisten dan khas.
Antara Fakta dan Dugaan dalam Karya selain Nagarakretagama
Perdebatan mengenai kitab kuno Mpu Prapanca di luar Nagarakretagama sering berputar pada dua poros, yaitu bukti tekstual dan bukti historis. Bukti tekstual berkaitan dengan gaya bahasa, pilihan kata, penggunaan metrum, serta cara menyusun cerita. Sementara bukti historis menyangkut kronologi, konteks politik, dan keterkaitan tokoh yang disebut dalam teks dengan masa hidup Prapanca.
Beberapa naskah Jawa Kuno menunjukkan gaya penggambaran perjalanan, pujian terhadap raja, dan susunan geografis yang mengingatkan pada Nagarakretagama. Ada teks yang menggambarkan perjalanan suci atau kunjungan ke tempat keramat dengan cara yang sangat terstruktur, mirip dengan cara Prapanca mengisahkan perjalanan keliling kerajaan. Namun, tanpa kolofon yang tegas, semua itu tetap berada di wilayah dugaan.
Jejak Manuskrip di Bali dan Jawa Timur
Penelusuran kitab kuno Mpu Prapanca banyak bertumpu pada koleksi naskah di Bali dan Jawa Timur. Di Bali, tradisi penyalinan lontar berlangsung berabad abad, menjadikan pulau ini semacam gudang ingatan tertulis atas warisan Jawa Kuno. Di beberapa desa tua, lontar lontar yang berisi kakawin dan kidung masih disimpan di griya atau puri, sebagian sudah didigitalisasi, sebagian lain masih menunggu untuk diteliti lebih lanjut.
Di Jawa Timur, jejak naskah lebih rapuh. Iklim lembap, perubahan politik, dan gelombang Islamisasi membuat banyak naskah Hindu Buddha lenyap atau berpindah tangan. Beberapa koleksi pribadi di pedesaan diyakini menyimpan salinan tua yang belum seluruhnya dipetakan. Para filolog yang meneliti naskah naskah ini kadang menemukan fragmen yang gaya bahasanya mengingatkan pada Nagarakretagama, namun belum cukup kuat untuk diklaim sebagai karya Prapanca.
Prapanca sebagai Pejabat Agama dan Penulis Istana
Sebagai dharmadyaksa ring kasogatan, Prapanca memegang tanggung jawab mengatur urusan agama Buddha di lingkungan kerajaan. Jabatan ini menempatkannya di tengah pusaran kebijakan istana, upacara keagamaan, dan hubungan dengan komunitas biara. Dari sudut pandang ini, sangat mungkin ia menyusun teks keagamaan atau pedoman ritual yang bersifat internal, berbeda dari Nagarakretagama yang jelas dimaksudkan sebagai pujian publik terhadap raja.
Kitab kuno Mpu Prapanca yang bersifat keagamaan mungkin berisi penjelasan tentang tata upacara, penafsiran ajaran, atau panduan etika bagi pejabat dan rohaniawan. Teks semacam ini lazimnya tidak sepopuler kakawin istana yang dibacakan dalam upacara besar, sehingga peluang untuk disalin ulang lebih kecil. Bila naskah naskah tersebut pernah ada, besar kemungkinan mereka lenyap lebih cepat, terkalahkan oleh perubahan zaman dan bergesernya tradisi keagamaan di Jawa.
Gaya Bahasa dan Ciri Khas Penulisan Prapanca
Analisis gaya bahasa menjadi kunci untuk menelusuri kitab kuno Mpu Prapanca. Nagarakretagama menampilkan ciri yang khas, antara lain kecermatan dalam menyebut nama tempat, kecenderungan menyusun daftar panjang, serta cara memadukan pujian dengan pengamatan detail terhadap kehidupan istana. Prapanca juga tampak gemar memberi keterangan geografis yang rinci, sesuatu yang tidak selalu ditemukan pada kakawin lain.
Gaya ini membuat beberapa peneliti menduga bahwa teks teks yang memadukan pujian terhadap raja dengan deskripsi perjalanan atau upacara secara teliti berpotensi terkait dengan Prapanca. Namun, kemiripan gaya bisa juga muncul karena penyalin atau pengarang lain menjadikan Nagarakretagama sebagai model. Di sinilah batas antara pengaruh dan keaslian menjadi kabur, memaksa penelitian berjalan hati hati dan perlahan.
Dugaan Keterlibatan dalam Teks Keagamaan Buddha
Sebagai pejabat agama Buddha, Prapanca kemungkinan besar akrab dengan teks teks ajaran Mahayana dan Vajrayana yang beredar di lingkungan Majapahit. Ada dugaan bahwa ia terlibat dalam penyusunan atau penyalinan teks yang memadukan ajaran Buddha dengan tradisi lokal Jawa. Kitab kuno Mpu Prapanca dalam ranah ini mungkin berupa komentar, penjelasan, atau adaptasi ajaran Buddha ke dalam bahasa Jawa Kuno.
Beberapa naskah keagamaan dari masa akhir Majapahit menunjukkan perpaduan antara istilah Sanskerta dan Jawa Kuno, dengan struktur yang teratur dan bahasa yang cenderung formal. Penelitian filologis mencoba mengaitkan pola ini dengan lingkungan intelektual Prapanca, meski belum ada yang bisa dipastikan sebagai karyanya. Keterlibatannya bisa saja bersifat kolektif, bekerja bersama rohaniawan lain, sehingga nama pribadi tidak selalu ditonjolkan.
Tradisi Kakawin di Lingkungan Majapahit
Kakawin menjadi salah satu bentuk sastra utama di Majapahit. Banyak kakawin yang mengadaptasi epos India seperti Ramayana dan Mahabharata, namun diberi warna lokal dan dimasukkan ke dalam kerangka politik Jawa. Di tengah tradisi ini, Prapanca tampil dengan Nagarakretagama yang berbeda, lebih mirip laporan perjalanan dan pujian istana daripada kisah mitologis.
Perbedaan ini menimbulkan dugaan bahwa bila ada kitab kuno Mpu Prapanca lain, kemungkinan besar ia juga bereksperimen dengan bentuk yang tidak sepenuhnya mengikuti pola kakawin epos. Ia mungkin menulis teks yang lebih deskriptif, menggabungkan unsur laporan, doa, dan pujian. Karya semacam ini berpotensi terselip di antara naskah naskah yang selama ini dikategorikan sebagai teks upacara atau teks istana tanpa identifikasi pengarang yang jelas.
Naskah Naskah yang Diperdebatkan Atribusinya
Di kalangan filolog, ada beberapa naskah yang kerap disebut ketika membahas kemungkinan kitab kuno Mpu Prapanca selain Nagarakretagama. Sebagian merupakan teks pujian terhadap raja, sebagian lagi berkaitan dengan urusan keagamaan. Namun, perdebatan mengenai atribusi pengarang membuat semuanya tetap bersifat hipotesis.
Ada teks yang memperlihatkan susunan bait mirip Nagarakretagama, dengan pola penyebutan tempat yang runtut dan penggunaan istilah istana yang konsisten. Namun, perbedaan kecil dalam pilihan kata atau cara mengakhiri bait membuat sebagian peneliti ragu. Di sisi lain, ada pula naskah yang di dalamnya termuat nama Prapanca, tetapi konteks penyebutannya tidak jelas apakah sebagai pengarang, tokoh cerita, atau sekadar rujukan.
“Justru di ruang abu abu antara kepastian dan dugaan, kita bisa melihat betapa dinamisnya tradisi penulisan masa Majapahit, yang tak pernah berhenti bergerak meski penulisnya telah lama tiada.”
Peran Kolofon dan Catatan Pinggir Naskah
Kolofon adalah bagian akhir naskah yang sering memuat informasi tentang penyalin, waktu penyalinan, dan kadang nama pengarang. Dalam penelusuran kitab kuno Mpu Prapanca, kolofon menjadi sumber penting. Namun, tidak semua naskah memiliki kolofon yang lengkap. Ada yang hanya mencantumkan nama penyalin, ada yang menyebut tarikh tanpa nama, dan ada pula yang hanya berisi doa singkat.
Catatan pinggir naskah, yang ditulis oleh pembaca atau penyalin berikutnya, kadang memuat petunjuk menarik. Misalnya, komentar yang menyebut bahwa teks ini “seperti karya Prapanca” atau “dari zaman Majapahit”. Meski tidak bisa dijadikan bukti langsung, catatan seperti ini membantu memetakan bagaimana generasi kemudian memandang suatu teks dan mengaitkannya dengan figur tertentu. Rekonstruksi atribusi pengarang sering kali bergantung pada puzzle kecil semacam ini.
Filologi Modern dan Upaya Rekonstruksi
Filologi modern bekerja dengan membandingkan berbagai varian naskah, menelaah perbedaan bacaan, dan mencoba merekonstruksi bentuk teks yang paling mendekati aslinya. Dalam konteks kitab kuno Mpu Prapanca, kerja ini menjadi berlipat rumit karena banyak naskah yang hanya tersisa dalam satu atau dua salinan. Tanpa varian yang cukup, sulit menilai apakah suatu ciri bahasa merupakan gaya pengarang atau hasil intervensi penyalin.
Selain itu, filologi kini juga memanfaatkan teknologi digital untuk memindai, menyimpan, dan membagikan naskah. Digitalisasi koleksi lontar di berbagai perpustakaan dan desa adat membuka peluang baru untuk menemukan teks teks yang sebelumnya terabaikan. Dari kumpulan ini, para peneliti bisa melakukan pencarian kata kunci, pola metrum, atau bentuk kalimat yang mirip dengan Nagarakretagama, sebagai langkah awal menelusuri kemungkinan karya lain Prapanca.
Peran Arsip Kolonial dan Koleksi Museum
Banyak naskah Jawa Kuno yang kini tersimpan di perpustakaan dan museum di luar Indonesia, hasil pengumpulan masa kolonial. Koleksi di Leiden, London, dan kota kota Eropa lainnya menyimpan ratusan bahkan ribuan naskah yang berasal dari Jawa dan Bali. Di antara naskah tersebut, ada yang belum diteliti secara mendalam, terutama yang tidak memiliki katalog rinci.
Penelusuran kitab kuno Mpu Prapanca juga menyentuh koleksi koleksi ini. Beberapa peneliti menemukan naskah yang memuat bagian yang mirip dengan Nagarakretagama, atau menyebut nama tokoh dan tempat dari masa Majapahit akhir. Namun, keterbatasan waktu, akses, dan dana membuat proses identifikasi berjalan perlahan. Setiap temuan baru berpotensi mengubah peta pemahaman kita tentang tradisi penulisan Majapahit.
Kitab Kuno sebagai Sumber Sejarah Alternatif
Nagarakretagama selama ini menjadi salah satu sumber utama rekonstruksi sejarah Majapahit. Namun, bila kitab kuno Mpu Prapanca lain benar benar ada dan suatu hari berhasil diidentifikasi, ia bisa menjadi sumber sejarah alternatif yang memperkaya, bahkan mungkin mengoreksi, gambaran kita selama ini. Teks keagamaan, misalnya, dapat mengungkap sisi spiritual kehidupan istana yang tidak banyak tampak dalam teks pujian.
Kitab yang lebih teknis, seperti pedoman upacara atau tata kelola lembaga keagamaan, mungkin memberi detail tentang struktur birokrasi, hubungan antara raja dan rohaniawan, serta peran agama dalam pengambilan keputusan politik. Dengan demikian, karya karya lain Prapanca, bila ditemukan, tidak hanya penting bagi sejarah sastra, tetapi juga bagi pemahaman menyeluruh tentang Majapahit sebagai sebuah negara.
Mengapa Banyak Karya Diduga Hilang
Kehilangan kitab kuno Mpu Prapanca yang mungkin pernah ada tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar yang melanda Jawa setelah runtuhnya Majapahit. Pergeseran pusat kekuasaan ke kerajaan kerajaan Islam, perubahan bahasa tulis dari Jawa Kuno ke Jawa Tengahan dan Jawa Baru, serta pergeseran tradisi keagamaan membuat teks Hindu Buddha kehilangan fungsi sosialnya. Naskah yang tidak lagi dibaca cenderung dibiarkan rusak, hilang, atau dihancurkan.
Selain itu, bahan penulisan seperti lontar dan kertas organik sangat rentan terhadap iklim tropis. Tanpa perawatan khusus, naskah mudah berjamur, rapuh, dan hancur. Hanya naskah yang dianggap penting oleh komunitas tertentu, misalnya karena fungsi ritual atau nilai prestise, yang akan disalin ulang dan diwariskan. Bila kitab kuno Mpu Prapanca di luar Nagarakretagama tidak memiliki fungsi semacam itu, peluang bertahannya menjadi jauh lebih kecil.
Prapanca di Mata Peneliti dan Masyarakat Modern
Di mata peneliti, Prapanca adalah pintu masuk ke dunia Majapahit yang rumit, tempat politik, agama, dan sastra saling berkelindan. Di mata masyarakat modern, namanya mungkin tidak sepopuler tokoh tokoh kerajaan, tetapi karyanya memengaruhi cara kita membayangkan kejayaan masa lalu. Pembicaraan tentang kitab kuno Mpu Prapanca selain Nagarakretagama membuka ruang untuk melihatnya bukan hanya sebagai penulis satu kitab, melainkan sebagai intelektual istana yang mungkin memiliki produksi intelektual lebih luas.
Pergeseran minat publik terhadap sejarah dan naskah kuno dalam beberapa tahun terakhir memberi peluang baru. Penerbitan terjemahan, kajian populer, hingga program digitalisasi naskah membuat nama Prapanca lebih sering muncul di luar lingkaran akademik. Di tengah gairah baru ini, pertanyaan tentang karya karya lain Prapanca menjadi semakin relevan, bukan hanya untuk para ahli, tetapi juga bagi pembaca umum yang ingin memahami warisan budaya secara lebih utuh.
Kitab Kuno sebagai Ruang Tafsir yang Terbuka
Kitab kuno Mpu Prapanca yang belum ditemukan atau belum diidentifikasi pasti membuka ruang tafsir yang luas. Setiap dugaan atribusi mendorong kita untuk meninjau kembali cara membaca teks, mempertanyakan otoritas penyalin, dan menimbang ulang hubungan antara penulis dan tradisi. Alih alih mencari kepastian mutlak, banyak peneliti kini lebih menekankan keterbukaan terhadap kemungkinan, sembari terus mengumpulkan bukti.
Dalam ruang tafsir ini, pembaca masa kini diajak melihat naskah bukan hanya sebagai benda mati, tetapi sebagai hasil dialog panjang antara generasi penulis, penyalin, dan pembaca. Prapanca menjadi salah satu simpul penting dalam dialog itu, namun bukan satu satunya. Kemungkinan adanya kitab kuno lain dari tangannya justru menegaskan bahwa sejarah sastra Jawa Kuno adalah jaringan yang rumit, bukan garis lurus yang sederhana.
Tantangan dan Harapan Penelitian ke Depan
Penelitian terhadap kitab kuno Mpu Prapanca menghadapi berbagai tantangan, dari keterbatasan naskah, minimnya sumber langsung, hingga persoalan atribusi yang rumit. Namun, kemajuan teknologi, kerja sama antar lembaga, dan meningkatnya minat generasi muda terhadap filologi memberi harapan bahwa jejak jejak baru akan terus muncul. Setiap lontar yang dibuka, setiap naskah yang dipindai, dan setiap teks yang dibaca ulang menyimpan kemungkinan penemuan.
Harapan ini bukan berarti menunggu keajaiban berupa penemuan satu naskah utuh yang dengan jelas mencantumkan nama Prapanca. Lebih sering, pengetahuan bertambah melalui temuan kecil dan lambat. Fragmen, kutipan, atau catatan pinggir bisa menjadi titik tolak untuk merekonstruksi lanskap intelektual Majapahit. Di dalam lanskap itulah, sosok Prapanca dan kitab kitab kunonya, baik yang sudah dikenal maupun yang masih tersembunyi, terus hidup dalam ingatan dan penelitian.
