Ketika membicarakan Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, bayangan banyak orang biasanya langsung tertuju pada Sriwijaya atau kerajaan besar lain di Sumatra. Padahal, pada rentang abad ke 6 hingga awal abad ke 7 Masehi, di wilayah yang kini menjadi Indonesia sudah berdiri beberapa kerajaan penting yang berkembang sejajar dengan masa hidup Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Kerajaan kerajaan ini tidak hanya membentuk struktur politik awal di Nusantara, tetapi juga menjadi penghubung awal antara dunia kepulauan Asia Tenggara dengan India, Cina, dan kawasan lain yang kelak menjadi jalur masuk Islam.
Menyusuri Jejak Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad
Pembahasan tentang Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad sering kali terpinggirkan dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Fokus pendidikan biasanya lebih kuat pada periode kerajaan bercorak Islam atau pada masa kejayaan Majapahit. Padahal, justru kerajaan kerajaan awal inilah yang membangun pondasi jaringan perdagangan dan diplomasi yang nantinya memudahkan proses penyebaran Islam ke Nusantara beberapa abad kemudian.
Dalam rentang waktu kehidupan Nabi Muhammad, sekitar tahun 570 hingga 632 M, wilayah kepulauan yang sekarang menjadi Indonesia sudah masuk dalam peta perdagangan internasional. Kapal kapal dari India, Cina, dan mungkin juga dari kawasan Timur Tengah, berlayar melintasi Selat Malaka dan Laut Jawa untuk mencari rempah, kapur barus, emas, dan komoditas lain. Di titik titik strategis jalur laut inilah muncul kerajaan kerajaan awal yang menjadi simpul kekuasaan dan ekonomi.
“Sering kali kita mengira Nusantara baru ‘terhubung’ dengan dunia Islam setelah kedatangan para ulama dan pedagang muslim pada abad ke 13, padahal jalur laut dan jaringan dagangnya sudah terbangun berabad abad sebelumnya.”
Tiga kerajaan yang paling menarik untuk ditelusuri dalam konteks Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad adalah Tarumanegara di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah bagian utara, dan Kutai Martadipura di Kalimantan Timur. Ketiganya memiliki karakter berbeda, namun sama sama menggambarkan bagaimana Nusantara sudah lama menjadi bagian dari dinamika global, bahkan ketika Islam baru tumbuh di Makkah dan Madinah.
Tarumanegara, Kerajaan Sungai di Tepi Laut Jawa
Tarumanegara adalah salah satu kandidat terkuat ketika membicarakan Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad. Kerajaan ini berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Jawa Barat, terutama di sekitar aliran Sungai Citarum dan daerah Bogor hingga Bekasi. Bukti keberadaannya ditemukan melalui prasasti berbahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa, serta catatan musafir Cina.
Tarumanegara sebagai Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad
Tarumanegara diperkirakan berdiri sejak abad ke 4 Masehi dan mencapai puncak kekuasaan pada abad ke 5 hingga awal abad ke 7 Masehi. Ini berarti, sebagian masa kejayaan Tarumanegara tumpang tindih dengan masa hidup Nabi Muhammad. Dalam konteks kronologi, ketika Nabi Muhammad masih hidup dan berdakwah di Makkah dan Madinah, di Jawa Barat sudah ada kekuasaan terorganisir dengan rajanya, tentaranya, sistem irigasi, dan hubungan luar negeri.
Catatan penting tentang Tarumanegara datang dari prasasti yang menyebut nama raja Purnawarman. Beberapa prasasti yang terkenal antara lain Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Tugu, dan Prasasti Cidanghiang. Di Prasasti Tugu, misalnya, disebutkan tentang penggalian saluran air sepanjang lebih dari 11 kilometer yang dilakukan pada masa Purnawarman. Ini menunjukkan tingkat organisasi sosial dan kemampuan teknis yang cukup tinggi untuk ukuran masa itu.
Dalam catatan musafir Cina, terutama dari Dinasti Sui dan Dinasti Tang, muncul nama To lo mo atau To lo mo po, yang oleh banyak sejarawan diidentifikasi sebagai Tarumanegara. Catatan ini menyebut adanya kerajaan di wilayah selatan yang mengirim utusan ke istana kaisar Cina, membawa upeti dan menjalin hubungan diplomatik. Artinya, Tarumanegara tidak hanya berpengaruh di tingkat lokal, tetapi juga sudah terhubung dengan jaringan kekuasaan regional.
Corak Agama, Budaya, dan Jaringan Perdagangan Tarumanegara
Tarumanegara berlandaskan tradisi Hindu, khususnya aliran Wisnu. Pada beberapa prasasti, raja Purnawarman dipuji dan disamakan dengan Dewa Wisnu yang turun ke bumi. Di Prasasti Ciaruteun, terdapat pahatan telapak kaki yang dianggap sebagai simbol kekuasaan raja, mirip dengan tradisi simbolik di India. Bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa menunjukkan kuatnya pengaruh India di lingkungan istana.
Meski demikian, budaya lokal Nusantara tidak hilang. Nama Tarumanegara sendiri diduga berasal dari kata “Taruma”, yang dikaitkan dengan Sungai Citarum, dan “negara” yang berarti kerajaan. Penggabungan unsur lokal dan India ini menjadi pola umum di banyak kerajaan awal di Indonesia.
Secara ekonomi, letak Tarumanegara sangat strategis. Wilayah Jawa Barat bagian utara berada dekat pesisir Laut Jawa dan berhadapan dengan Selat Sunda, jalur penting perdagangan antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Kapal kapal yang berlayar dari India ke Cina kemungkinan besar melewati perairan dekat wilayah Tarumanegara. Dari sinilah kerajaan tersebut memperoleh keuntungan politik dan ekonomi, baik dari perdagangan langsung maupun dari pungutan terhadap kapal kapal yang singgah.
Dalam konteks Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, posisi Tarumanegara sebagai simpul perdagangan menjadi menarik. Pada abad ke 6 dan 7, pedagang dari India Selatan dan Sri Lanka sudah berlayar jauh hingga ke Cina. Sebagian dari mereka mungkin sudah mengenal Islam pada fase awal penyebarannya, meski belum tentu membawa agama itu secara intensif ke Nusantara. Namun, jaringan perdagangan yang sudah terbentuk di era Tarumanegara inilah yang kelak akan dimanfaatkan oleh para pedagang muslim pada abad abad berikutnya.
“Tarumanegara adalah contoh bagaimana sebuah kerajaan di Nusantara sudah memainkan peran regional ketika dunia Arab baru memasuki babak baru sejarahnya melalui dakwah Nabi Muhammad.”
Kalingga di Pantai Utara Jawa, Kerajaan yang Misterius
Berbeda dengan Tarumanegara yang meninggalkan cukup banyak prasasti, Kalingga atau yang kadang disebut Holing lebih banyak dikenal melalui catatan Cina. Kerajaan ini diperkirakan berada di wilayah Jawa Tengah bagian utara, mungkin di sekitar Jepara, Pekalongan, atau daerah pesisir lain. Kalingga sering disebut sebagai salah satu Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad yang paling menarik karena sosok penguasanya yang terkenal, yaitu Ratu Shima.
Kalingga sebagai Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad
Catatan Cina dari Dinasti Tang menyebut bahwa Holing atau Kalingga sudah ada sekitar abad ke 7 Masehi. Ini berarti, keberadaannya sangat mungkin sejajar dengan masa akhir kehidupan Nabi Muhammad dan masa awal Khulafaur Rasyidin. Sumber Cina menggambarkan Kalingga sebagai kerajaan yang cukup makmur dan memiliki sistem hukum yang tegas.
Salah satu kisah paling terkenal adalah tentang Ratu Shima, penguasa Kalingga yang dikenal sangat menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Dalam kisah itu, diceritakan ada seorang pedagang asing yang menguji kejujuran rakyat Kalingga dengan meninggalkan kantong berisi emas di jalan. Selama bertahun tahun, tidak ada seorang pun yang berani mengambilnya. Ketika akhirnya seorang pangeran tanpa sengaja menyentuh kantong itu dengan kakinya, Ratu Shima menjatuhkan hukuman potong kaki. Hukuman kemudian diringankan atas permohonan para penasihat, namun kisah ini menunjukkan gambaran ideal tentang kerasnya penegakan hukum di Kalingga.
Kisah ini, meski bercampur antara fakta dan legenda, memberi gambaran tentang bagaimana kerajaan di Jawa sudah memiliki sistem nilai dan etika yang kuat pada masa Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad. Ketaatan pada hukum, penghormatan terhadap hak milik orang lain, dan wibawa penguasa menjadi fondasi stabilitas kerajaan.
Letak, Pengaruh Hindu Budha, dan Hubungan Dagang Kalingga
Letak pasti Kalingga masih menjadi perdebatan para arkeolog. Namun, sebagian besar sepakat bahwa kerajaan ini berada di pesisir utara Jawa Tengah. Ada yang mengaitkannya dengan wilayah Jepara dan Gunung Muria, ada pula yang menunjuk ke daerah Pekalongan dan sekitarnya. Wilayah ini sangat strategis karena menghadap langsung ke Laut Jawa, yang menjadi salah satu rute utama pelayaran antara Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan kepulauan lain.
Kalingga diduga bercorak Hindu Budha, dengan pengaruh kuat dari India. Namun, tradisi lokal Jawa juga memainkan peran penting. Beberapa peneliti mengaitkan Kalingga dengan perkembangan awal kebudayaan Jawa Kuna, terutama dalam hal bahasa dan tradisi lisan. Sayangnya, hingga kini belum ditemukan prasasti yang secara tegas menyebut nama Kalingga, sehingga banyak detail sejarahnya tetap diselimuti misteri.
Sebagai salah satu Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, Kalingga berada pada persimpangan arus budaya dan perdagangan. Kapal kapal dari India, Cina, dan mungkin juga dari wilayah yang kelak menjadi dunia Islam, berpotensi singgah di pelabuhan pelabuhan Kalingga. Komoditas seperti beras, kayu, dan hasil bumi Jawa lainnya menjadi daya tarik bagi pedagang asing. Sebaliknya, Kalingga mendapatkan kain, logam, dan barang barang mewah dari luar.
Dalam konteks perkembangan Islam, penting dicatat bahwa pada abad ke 7, pelabuhan pelabuhan di India Barat dan Sri Lanka mulai mengenal pedagang muslim. Meski belum ada bukti langsung bahwa mereka sudah mencapai Kalingga pada masa itu, jaringan pelayaran yang sama inilah yang kelak akan membawa Islam ke Nusantara. Dengan kata lain, Kalingga ikut membentuk panggung awal di mana pertemuan budaya antara Nusantara dan dunia Islam kelak terjadi.
Ratu Shima dan Warisan Nilai dalam Sejarah Nusantara
Sosok Ratu Shima sering dijadikan simbol penguasa perempuan yang tegas dan adil di Nusantara. Dalam beberapa tradisi, ia digambarkan sebagai ratu yang tidak segan menghukum anggota keluarganya sendiri demi menegakkan hukum. Terlepas dari seberapa akurat kisah kisah tersebut, yang jelas, citra Kalingga sebagai kerajaan dengan etika publik yang kuat telah mengakar dalam imajinasi sejarah Indonesia.
Ketika membahas Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, kehadiran figur seperti Ratu Shima menunjukkan bahwa di wilayah lain di dunia, pada saat yang hampir bersamaan, sedang berlangsung juga eksperimen sosial dan politik mengenai bagaimana kekuasaan dijalankan, bagaimana hukum ditegakkan, dan bagaimana keadilan diupayakan. Sementara di Madinah, Nabi Muhammad membangun masyarakat dengan Piagam Madinah dan prinsip prinsip keadilan sosial, di Jawa Tengah, Kalingga membangun reputasi sebagai kerajaan yang menjunjung tinggi kejujuran.
Kisah kisah tentang Kalingga mungkin tidak sedetail catatan sejarah Timur Tengah, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Nusantara bukan wilayah terpencil yang terputus dari dinamika global pada abad ke 7. Sebaliknya, ia adalah salah satu simpul penting yang sudah lama berinteraksi dengan dunia luar.
Kutai Martadipura, Kerajaan Tertua di Tepi Sungai Mahakam
Jika Tarumanegara dan Kalingga berkembang di Jawa, Kutai Martadipura hadir di Kalimantan Timur sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Kerajaan ini sering disebut sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia berdasarkan bukti prasasti yang ditemukan di daerah Muara Kaman, di tepi Sungai Mahakam. Dalam pembahasan tentang Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, Kutai menempati posisi unik karena akar sejarahnya yang bahkan lebih tua.
Kutai Martadipura sebagai Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad
Prasasti Yupa, yaitu tugu batu yang berisi tulisan Sanskerta dengan huruf Pallawa, menjadi sumber utama informasi tentang Kutai Martadipura. Prasasti ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke 4 hingga 5 Masehi. Di dalamnya disebutkan nama raja Mulawarman, putra Aswawarman, cucu Kudungga. Dari sini dapat ditarik garis bahwa kerajaan ini sudah berkembang cukup mapan beberapa abad sebelum masa Nabi Muhammad.
Namun, keberadaan Kutai Martadipura tidak berhenti pada abad ke 5. Banyak sejarawan berpendapat bahwa kerajaan ini terus bertahan hingga abad abad berikutnya, meski tidak banyak catatan tertulis yang tersisa. Jika kerajaan ini masih eksis hingga abad ke 7, maka ia termasuk dalam jajaran Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, meski mungkin sudah mengalami perubahan struktur kekuasaan dan dinamika internal.
Kutai Martadipura berada di sepanjang aliran Sungai Mahakam, yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi dan sosial. Sungai ini menghubungkan wilayah pedalaman yang kaya sumber daya dengan pesisir yang berhadapan langsung dengan Laut Makassar. Posisi ini menjadikan Kutai sebagai penghubung antara perdagangan laut dan darat, sekaligus pintu masuk pengaruh budaya luar ke pedalaman Kalimantan.
Hindu awal, Sungai Mahakam, dan Perdagangan Laut Kutai
Kutai Martadipura bercorak Hindu, dengan pengaruh kuat dari India. Prasasti Yupa menceritakan tentang upacara kurban besar yang dilakukan oleh raja Mulawarman untuk para brahmana. Penyebutan hadiah berupa ribuan ekor sapi menunjukkan adanya struktur sosial kompleks dan kekayaan ekonomi yang signifikan. Bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa kembali menjadi bukti kuatnya hubungan budaya dengan India.
Sungai Mahakam memainkan peran penting dalam kehidupan Kutai. Di tepi sungai inilah pusat pusat pemukiman berkembang, ladang dan kebun dibuka, serta kegiatan ritual keagamaan dilakukan. Sungai juga menjadi jalur utama pergerakan barang dan manusia, baik dari pedalaman ke pesisir maupun sebaliknya. Dari pesisir Mahakam, kapal kapal dapat berlayar ke berbagai arah, termasuk ke Sulawesi, Jawa, dan Maluku.
Sebagai salah satu Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, Kutai Martadipura berada di jalur perdagangan yang berpotensi terhubung dengan dunia yang lebih luas. Pada abad ke 6 dan 7, Laut Makassar dan sekitarnya menjadi bagian dari jaringan pelayaran Asia Tenggara yang menghubungkan India, Cina, dan kepulauan rempah. Meski belum ada bukti langsung tentang kontak dengan pedagang muslim pada masa itu, struktur perdagangan yang sudah terbentuk menjadi landasan penting bagi proses islamisasi Kalimantan beberapa abad kemudian.
Dari Kutai Hindu ke Kutai Islam, Jembatan Panjang Sejarah
Menariknya, di wilayah yang sama, beberapa abad setelah masa Nabi Muhammad, muncul kerajaan Kutai Kartanegara yang kemudian memeluk Islam. Kutai Kartanegara inilah yang kelak berproses menjadi salah satu pusat kekuasaan Islam di Kalimantan Timur. Hubungan antara Kutai Martadipura yang bercorak Hindu dengan Kutai Kartanegara yang kemudian menjadi kerajaan Islam menunjukkan adanya kesinambungan geografis dan, dalam batas tertentu, kultural.
Dalam kerangka Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad, Kutai Martadipura dapat dilihat sebagai bab awal dari sebuah kisah panjang transformasi sosial dan keagamaan di Kalimantan Timur. Ketika Nabi Muhammad menyebarkan Islam di Makkah dan Madinah, di tepian Sungai Mahakam sedang berkembang sebuah kerajaan yang mengadopsi Hindu dari India, membangun struktur kekuasaan, dan mengendalikan jalur perdagangan sungai dan laut. Berabad abad kemudian, wilayah yang sama akan menjadi tempat tumbuhnya komunitas muslim yang kuat.
Perjalanan panjang dari Kutai Martadipura hingga Kutai Kartanegara menggambarkan bagaimana Nusantara selalu berada dalam proses perubahan, menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan ciri lokalnya. Dalam hal ini, Kutai menjadi contoh konkret bahwa sejarah Indonesia tidak pernah berjalan dalam ruang tertutup, melainkan selalu bersinggungan dengan arus besar sejarah dunia, termasuk dengan lahir dan berkembangnya Islam.
Jaringan Maritim Nusantara di Era Nabi Muhammad
Jika tiga kerajaan tadi dilihat secara bersamaan, muncul gambaran menarik tentang Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad sebagai bagian dari jaringan maritim yang luas. Tarumanegara menguasai wilayah strategis di Jawa Barat dan Selat Sunda, Kalingga mengontrol sebagian pantai utara Jawa Tengah, sementara Kutai Martadipura menguasai jalur sungai penting di Kalimantan yang terhubung ke Laut Makassar. Masing masing memiliki peran unik dalam membentuk peta kekuasaan dan perdagangan Nusantara awal.
Pada abad ke 6 dan 7, jalur laut yang menghubungkan India, Sri Lanka, Semenanjung Melayu, Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Cina sudah ramai dilayari. Kapal kapal membawa rempah, kapur barus, emas, kain, logam, dan berbagai barang lain. Di sepanjang jalur ini, muncul banyak pelabuhan dan kerajaan yang berfungsi sebagai perantara, pemungut pajak, sekaligus pelindung perdagangan. Tarumanegara, Kalingga, dan Kutai Martadipura adalah tiga di antara simpul simpul penting tersebut.
Dalam periode yang sama, dunia Arab mengalami perubahan besar. Nabi Muhammad lahir, menerima wahyu, dan menyebarkan Islam di tengah masyarakat Makkah dan Madinah. Setelah wafatnya Nabi, para khalifah melanjutkan ekspansi politik dan penyebaran agama ke berbagai wilayah, termasuk Persia, Mesir, dan sebagian wilayah Asia Barat. Meski jarak geografis antara Jazirah Arab dan Nusantara sangat jauh, keduanya terhubung secara tidak langsung melalui jalur perdagangan laut yang melewati India dan Sri Lanka.
Keberadaan Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad menunjukkan bahwa ketika Islam lahir dan mulai menyebar, Nusantara bukan wilayah kosong tanpa struktur kekuasaan. Sebaliknya, sudah ada kerajaan kerajaan yang cukup kuat, memiliki hubungan dengan India dan Cina, serta menguasai jalur jalur penting perdagangan. Kondisi ini menjelaskan mengapa ketika pedagang muslim mulai aktif berlayar ke Asia Tenggara beberapa abad kemudian, mereka menemukan wilayah yang sudah siap menjadi mitra dagang, bukan sekadar pelabuhan terpencil.
Banyak sejarawan meyakini bahwa proses islamisasi Nusantara berlangsung secara bertahap dan damai, melalui jalur perdagangan dan perkawinan, bukan lewat penaklukan militer besar besaran. Jika dilihat dari sudut pandang ini, Tarumanegara, Kalingga, dan Kutai Martadipura dapat dianggap sebagai “pembuka jalan” yang secara tidak langsung mempersiapkan panggung bagi masuknya Islam. Mereka membangun pelabuhan, menghubungkan pedalaman dan pesisir, serta membiasakan masyarakat lokal dengan kehadiran pedagang dan budaya asing.
Mengapa Kerajaan Sezaman Nabi Muhammad Jarang Diangkat?
Meskipun memiliki posisi penting, Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad seperti Tarumanegara, Kalingga, dan Kutai Martadipura relatif jarang dibahas secara mendalam dalam wacana publik. Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan hal ini.
Pertama, keterbatasan sumber tertulis. Berbeda dengan sejarah Timur Tengah yang kaya dengan teks, hadis, dan catatan sejarawan klasik, sejarah awal Nusantara banyak bergantung pada prasasti batu, catatan asing, dan tradisi lisan. Prasasti sering kali singkat dan fokus pada pujian kepada raja atau keterangan upacara, sehingga sulit menyusun gambaran lengkap tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Kedua, fokus pendidikan sejarah di Indonesia cenderung menitikberatkan pada periode periode yang dianggap lebih dekat dengan pembentukan identitas nasional, seperti masa kerajaan Islam, perlawanan terhadap kolonialisme, dan pergerakan nasional. Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad sering kali hanya disebut sekilas sebagai “kerajaan Hindu Budha awal” tanpa penjelasan konteks global yang lebih luas.
Ketiga, ada kecenderungan memisahkan secara tajam antara “sejarah Islam” dan “sejarah pra Islam” di Nusantara. Padahal, jika dilihat dari perspektif kronologi, masa hidup Nabi Muhammad beririsan langsung dengan keberadaan kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Menempatkan keduanya dalam satu bingkai waktu membantu kita memahami bahwa proses sejarah tidak berjalan dalam kotak kotak terpisah, melainkan saling berkelindan.
Keempat, minimnya eksplorasi populer. Film, buku populer, dan konten media sering kali lebih tertarik mengangkat tokoh tokoh besar yang sudah dikenal luas, seperti Gajah Mada, Sultan Agung, atau Wali Songo. Nama nama seperti Purnawarman, Ratu Shima, atau Mulawarman belum banyak diangkat dalam karya karya populer yang dapat menjangkau publik luas.
Padahal, menghidupkan kembali cerita tentang Kerajaan Indonesia sezaman Nabi Muhammad dapat memperkaya cara pandang kita terhadap sejarah Nusantara. Ini membantu menyadarkan bahwa ketika Islam lahir di Jazirah Arab, di ujung lain Samudra Hindia sudah ada masyarakat yang terorganisir, berbudaya tinggi, dan terlibat aktif dalam jaringan perdagangan internasional. Dari sinilah kemudian jembatan panjang antara dunia Arab dan Nusantara dibangun, bukan secara tiba tiba, melainkan melalui proses bertahap sepanjang berabad abad.
