Pelantikan pengurus baru Perhimpunan Umat Buddha Indonesia atau Permabudhi di Kubu Raya memasuki babak baru ketika sosok muda yang kian dikenal di kalangan umat Buddha, Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya, tampil sebagai figur sentral dalam prosesi resmi periode 2026-2030. Acara yang digelar dengan khidmat ini tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga penanda arah gerak organisasi keagamaan di tingkat daerah yang semakin dinamis dan adaptif terhadap perubahan sosial di Kubu Raya dan Kalimantan Barat.
Seremoni Pelantikan yang Menggambarkan Arah Baru
Prosesi pelantikan pengurus baru yang dipimpin oleh Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya berlangsung dalam suasana penuh keakraban namun tetap menjaga nuansa religius yang kuat. Sejak awal acara, tampak jelas upaya panitia untuk menghadirkan pelantikan yang tidak sekadar formalitas, melainkan ruang perjumpaan lintas generasi umat Buddha di Kubu Raya.
Susunan acara dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta lagu-lagu rohani Buddhis yang menggugah suasana batin. Kehadiran sejumlah tokoh lintas agama dan perwakilan pemerintah daerah menambah bobot seremoni ini, menegaskan bahwa Permabudhi Kubu Raya telah menjadi mitra penting dalam menjaga kerukunan dan stabilitas sosial di wilayah tersebut.
Dalam sambutannya, Steven menekankan bahwa periode 2026-2030 bukan hanya kelanjutan dari program sebelumnya, tetapi sebuah lembaran baru yang menuntut keberanian untuk berinovasi. Ia menyampaikan bahwa pengurus yang dilantik bukan sekadar pengisi struktur, melainkan motor penggerak pelayanan umat dan jembatan dialog dengan berbagai unsur masyarakat.
> “Pelantikan ini bukan garis akhir sebuah proses, melainkan titik awal dari perjalanan panjang pengabdian. Setiap nama yang tercantum dalam SK pengurus adalah janji terbuka kepada umat, bahwa kita siap bekerja, mendengar, dan melayani tanpa lelah.”
Rangkaian acara diakhiri dengan pembacaan surat keputusan, pengucapan ikrar pengurus, serta penandatanganan berita acara pelantikan. Momen penyerahan bendera organisasi menjadi simbol estafet kepemimpinan dan amanah yang kini berada di tangan pengurus baru.
Profil Singkat Steven Greatness dan Peran Strategis di Kubu Raya
Sebelum memimpin pelantikan, nama Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya sudah cukup dikenal melalui berbagai aktivitas sosial dan keagamaan di tingkat kabupaten. Sosoknya sering muncul dalam kegiatan bakti sosial, perayaan hari besar keagamaan, hingga forum lintas umat yang digelar bersama pihak pemerintah dan organisasi keagamaan lain.
Steven dikenal sebagai figur yang berusaha memadukan semangat kepemudaan dengan kearifan tradisi Buddhis. Latar belakangnya yang dekat dengan komunitas akar rumput membuatnya peka terhadap persoalan umat di tingkat vihara, mulai dari pendidikan Dhamma bagi anak-anak, kebutuhan pembinaan remaja, hingga pendampingan umat lanjut usia.
Di Kubu Raya, Permabudhi berperan sebagai wadah koordinasi berbagai vihara dan komunitas Buddhis. Peran strategis ini menjadikan posisi pimpinan Permabudhi sangat krusial, bukan hanya dalam mengelola internal organisasi, tetapi juga dalam menjalin hubungan harmonis dengan pemerintah daerah, tokoh adat, dan organisasi keagamaan lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kubu Raya berkembang sebagai salah satu wilayah dengan dinamika sosial ekonomi yang cukup cepat di Kalimantan Barat. Pertumbuhan pemukiman baru, sentra ekonomi, dan mobilitas penduduk menuntut organisasi keagamaan seperti Permabudhi untuk lebih aktif menjangkau umat yang tersebar, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang rukun dan damai.
Struktur Pengurus Baru dan Komposisi Lintas Generasi
Pengurus baru periode 2026-2030 yang dilantik oleh Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya menampilkan komposisi yang menarik. Di dalamnya tampak perpaduan antara tokoh senior yang berpengalaman dengan generasi muda yang energik. Susunan ini mencerminkan upaya untuk menjaga kesinambungan nilai sekaligus membuka ruang inovasi dalam program-program Permabudhi.
Struktur kepengurusan mencakup ketua, sekretaris, bendahara, serta sejumlah bidang yang menangani urusan keagamaan, sosial, pendidikan, pemuda, perempuan, dan hubungan antar lembaga. Setiap bidang diisi oleh figur yang dinilai memiliki kapasitas dan rekam jejak pengabdian di komunitas masing-masing.
Keterlibatan generasi muda dalam kepengurusan menjadi salah satu sorotan utama. Beberapa di antara mereka sebelumnya aktif sebagai penggerak kegiatan di vihara, pengajar kelas Dhamma, maupun relawan kegiatan sosial. Dengan masuknya mereka ke dalam struktur resmi Permabudhi Kubu Raya, diharapkan jangkauan organisasi terhadap kalangan remaja dan pemuda semakin kuat.
Di sisi lain, tokoh-tokoh senior tetap mendapat porsi penting sebagai penasihat dan pembina. Pengalaman mereka dalam mengelola organisasi dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak menjadi modal berharga bagi pengurus baru. Keseimbangan antara energi muda dan kebijaksanaan senior inilah yang diharapkan menjadi kekuatan utama Permabudhi Kubu Raya dalam lima tahun ke depan.
Visi dan Arah Gerak Permabudhi Kubu Raya 2026-2030
Setelah pelantikan, salah satu hal yang paling ditunggu adalah penjelasan mengenai visi dan arah gerak pengurus baru. Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya menegaskan bahwa kepengurusan periode 2026-2030 akan berfokus pada penguatan pelayanan umat, pengembangan sumber daya manusia Buddhis, dan perluasan kerja sama lintas sektor.
Visi yang disampaikan menekankan pada terwujudnya komunitas umat Buddha yang berdaya, harmonis, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat luas. Untuk mewujudkan hal tersebut, pengurus baru menyusun beberapa garis besar program yang akan dijalankan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Steven juga menekankan pentingnya konsistensi. Menurutnya, organisasi sering kali memiliki rencana yang baik di atas kertas, namun terkendala dalam pelaksanaan. Karena itu, ia menyoroti pentingnya manajemen waktu, pembagian tugas yang jelas, serta evaluasi berkala agar setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan umat.
> “Organisasi keagamaan harus hadir bukan hanya di altar dan mimbar, tetapi juga di tengah pergulatan hidup umat sehari-hari. Jika umat merasakan kehadiran Permabudhi ketika mereka membutuhkan dukungan, di situlah visi kami menemukan bentuk nyatanya.”
Visi ini menjadi semacam kompas bagi seluruh pengurus baru, sekaligus pesan kepada umat bahwa Permabudhi Kubu Raya bertekad untuk tidak berhenti pada kegiatan seremonial dan perayaan hari besar semata.
Program Penguatan Umat di Tingkat Vihara
Salah satu fokus utama yang dijabarkan oleh Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya adalah penguatan umat di tingkat vihara. Pengurus baru menilai bahwa vihara adalah titik terdepan pelayanan keagamaan, tempat umat belajar, berdoa, dan membangun komunitas. Karena itu, dukungan organisasi tingkat kabupaten menjadi sangat penting.
Program yang direncanakan mencakup pembinaan rutin bagi pengurus vihara, pelatihan dasar organisasi, serta pendampingan dalam penyusunan program kerja lokal. Dengan demikian, setiap vihara diharapkan tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung dalam jejaring Permabudhi yang saling menguatkan.
Pengurus baru juga menyoroti perlunya peningkatan kualitas pembinaan Dhamma bagi anak-anak dan remaja. Banyak vihara yang sudah memiliki kelas Dhamma, namun masih menghadapi keterbatasan tenaga pengajar dan materi ajar yang sistematis. Permabudhi Kubu Raya berencana memfasilitasi pelatihan bagi calon pengajar dan menyediakan bahan ajar yang lebih terstruktur.
Selain itu, perhatian terhadap umat lanjut usia juga menjadi bagian dari program penguatan umat. Di beberapa vihara, umat senior menjadi tulang punggung kegiatan ibadah, namun sering kali belum mendapatkan pendampingan khusus. Pengurus baru ingin mendorong program kunjungan, pendampingan kesehatan, dan ruang berbagi pengalaman bagi umat lansia.
Peran Pendidikan dan Pelatihan di Era Kepengurusan Baru
Dalam penjelasan program kerja, Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya menempatkan pendidikan dan pelatihan sebagai salah satu pilar utama. Pendidikan di sini tidak hanya dimaknai sebagai pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter, etika, dan kemampuan sosial yang berlandaskan ajaran Buddha.
Pengurus baru berencana menyelenggarakan berbagai pelatihan, mulai dari pelatihan kepemimpinan muda Buddhis, pelatihan komunikasi publik bagi tokoh umat, hingga workshop manajemen kegiatan keagamaan. Tujuannya adalah membekali para penggerak komunitas dengan keterampilan yang relevan dengan tantangan zaman.
Di sisi lain, kerja sama dengan lembaga pendidikan Buddhis di tingkat provinsi maupun nasional juga akan diperkuat. Hal ini diharapkan membuka akses beasiswa, program pertukaran pelajar, maupun kegiatan bersama yang dapat memperluas wawasan generasi muda Buddhis di Kubu Raya.
Pendidikan nonformal seperti pelatihan kewirausahaan berbasis etika Buddhis juga masuk dalam wacana program. Dengan demikian, umat tidak hanya dibekali pemahaman spiritual, tetapi juga kemampuan untuk mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai moral.
Jalinan Kerja Sama dengan Pemerintah dan Organisasi Lain
Kehadiran perwakilan pemerintah daerah dalam pelantikan pengurus baru menjadi sinyal positif bagi hubungan antara Permabudhi Kubu Raya dan pihak eksekutif maupun legislatif setempat. Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya menegaskan bahwa sinergi dengan pemerintah sangat penting, terutama dalam isu kerukunan umat beragama, pendidikan karakter, dan kegiatan sosial.
Pengurus baru berkomitmen untuk aktif dalam forum-forum resmi yang melibatkan organisasi keagamaan, seperti forum kerukunan umat beragama dan berbagai rapat koordinasi terkait kegiatan besar keagamaan. Dengan keterlibatan aktif, Permabudhi dapat menyuarakan aspirasi umat Buddha sekaligus berkontribusi dalam merumuskan kebijakan yang menyentuh kehidupan masyarakat luas.
Selain dengan pemerintah, kerja sama dengan organisasi keagamaan lain juga akan terus diperkuat. Kegiatan lintas agama seperti bakti sosial bersama, dialog kebangsaan, dan peringatan hari besar nasional menjadi ruang penting untuk mempererat persaudaraan. Di tengah beragamnya latar belakang masyarakat Kubu Raya, pendekatan yang inklusif ini dinilai sebagai kunci menjaga keharmonisan sosial.
Permabudhi Kubu Raya juga membuka peluang kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat dan komunitas relawan. Banyak isu sosial seperti lingkungan hidup, pendidikan anak, dan bantuan kebencanaan yang membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Dalam konteks ini, peran organisasi keagamaan bukan hanya sebagai pelaksana ritual, tetapi juga sebagai mitra sosial yang dapat diandalkan.
Tantangan Sosial dan Keagamaan di Kubu Raya
Pengurus baru yang dilantik oleh Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi umat Buddha di Kubu Raya. Di satu sisi, umat menikmati kebebasan beribadah dan ruang yang cukup untuk menjalankan tradisi keagamaan. Namun di sisi lain, terdapat tantangan yang membutuhkan kerja serius dan berkelanjutan.
Salah satu tantangan adalah penyebaran umat yang cukup luas di wilayah kecamatan dan desa. Tidak semua daerah memiliki akses mudah ke vihara atau tempat ibadah. Hal ini berdampak pada keterbatasan pembinaan rutin, terutama bagi umat yang tinggal jauh dari pusat kegiatan. Pengurus baru perlu merancang pola pembinaan yang fleksibel, mungkin dengan memanfaatkan teknologi atau kunjungan berkala ke daerah pinggiran.
Tantangan lain berkaitan dengan arus informasi dan budaya digital. Generasi muda Buddhis di Kubu Raya, seperti di banyak daerah lain, hidup dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi media sosial dan konten digital. Tanpa pendampingan yang tepat, nilai-nilai kebajikan yang diajarkan dalam Dhamma bisa tersisih oleh gaya hidup instan dan konsumtif. Di sinilah peran Permabudhi untuk menghadirkan materi pembinaan yang relevan dengan dunia anak muda.
Isu ekonomi keluarga juga tidak lepas dari perhatian. Di beberapa komunitas, umat Buddha bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang fluktuatif. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mendukung kegiatan vihara maupun pendidikan anak. Program pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi dengan nilai-nilai Buddhis menjadi salah satu jawaban atas tantangan ini.
Peran Generasi Muda dalam Kepemimpinan Permabudhi
Salah satu aspek yang paling menonjol dalam pelantikan pengurus baru adalah penekanan pada peran generasi muda. Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya secara terbuka menyatakan bahwa keberlanjutan organisasi sangat bergantung pada sejauh mana anak-anak muda diberi ruang untuk belajar memimpin dan mengelola kegiatan.
Keterlibatan generasi muda tidak hanya dimaknai sebagai pelengkap susunan panitia, tetapi sebagai mitra sejajar dalam merancang dan mengeksekusi program. Pengurus baru ingin agar remaja dan pemuda Buddhis terlibat sejak tahap perencanaan, sehingga mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan program.
Kegiatan seperti kemah kebhinnekaan, retret pemuda, pelatihan kepemimpinan, dan program relawan sosial menjadi sarana pembentukan karakter pemuda Buddhis Kubu Raya. Melalui aktivitas semacam ini, mereka tidak hanya belajar teori Dhamma, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai welas asih, disiplin, dan kerja sama dalam kehidupan nyata.
Di tengah cepatnya perubahan sosial, generasi muda juga diharapkan menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi. Mereka dapat membantu vihara dan organisasi memanfaatkan teknologi untuk keperluan dokumentasi, publikasi kegiatan, hingga pembuatan konten edukatif di media sosial. Dengan demikian, pesan-pesan kebaikan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Tradisi Keagamaan dan Kegiatan Ritual yang Terjaga
Selain program-program penguatan organisasi, pelantikan pengurus baru di bawah komando Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi keagamaan dan kegiatan ritual yang sudah berjalan. Perayaan hari besar seperti Waisak, Asadha, Kathina, dan Imlek Buddhis menjadi momen penting bagi umat untuk berkumpul dan memperkuat ikatan batin.
Pengurus baru berkomitmen untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan hari besar keagamaan, baik dari segi tata ritual maupun pengelolaan acara. Keterlibatan umat dari berbagai latar belakang usia dan vihara diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan. Selain itu, kegiatan-kegiatan pra dan pasca perayaan seperti bakti sosial, donor darah, dan kunjungan ke panti asuhan akan terus dikembangkan.
Tradisi sembahyang leluhur dan penghormatan kepada orang tua juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Buddha di Kubu Raya. Pengurus baru ingin memastikan bahwa nilai-nilai penghormatan kepada leluhur dan orang tua tetap tertanam kuat, terutama di kalangan generasi muda yang hidup di era serba cepat dan modern.
Dalam setiap kegiatan ritual, Permabudhi Kubu Raya juga menekankan pentingnya memaknai ajaran Buddha secara mendalam, bukan sekadar mengikuti rangkaian upacara. Ceramah Dhamma, sesi tanya jawab, dan diskusi kelompok kecil akan menjadi bagian yang diperkuat dalam setiap perayaan besar.
Harapan Lima Tahun ke Depan bagi Umat Buddha Kubu Raya
Pelantikan pengurus baru periode 2026-2030 yang dipimpin oleh Steven Greatness Permabudhi Kubu Raya membuka ruang harapan yang besar bagi umat Buddha di Kubu Raya. Dengan struktur pengurus yang lebih segar, visi yang jelas, dan program yang disusun berdasarkan kebutuhan lapangan, umat berharap kehadiran Permabudhi akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Harapan itu mencakup meningkatnya kualitas pembinaan spiritual di vihara, bertambahnya kesempatan pendidikan bagi generasi muda, serta menguatnya solidaritas sosial di antara umat. Di sisi lain, banyak yang berharap Permabudhi Kubu Raya dapat menjadi contoh organisasi keagamaan yang modern namun tetap berakar pada ajaran luhur Buddha.
Dalam suasana yang penuh semangat, pelantikan pengurus baru ini menjadi titik awal perjalanan panjang lima tahun ke depan. Jalan yang akan dilalui tentu tidak selalu mulus, namun dengan komitmen yang kuat, kerja sama yang solid, dan dukungan umat, Permabudhi Kubu Raya memiliki modal yang cukup untuk melangkah lebih jauh dalam pengabdian.
