Saur Matua, Upacara Adat Batak Toba untuk Menghormati Orang Tua

Saur Matua merupakan salah satu upacara kematian yang dikenal dalam adat masyarakat Batak Toba. Sebutan ini diberikan kepada orang tua yang meninggal ketika anak anaknya telah menikah dan dirinya telah memiliki cucu. Dalam sejumlah kelompok masyarakat Batak Toba, keadaan tersebut dipandang sebagai perjalanan hidup yang telah mencapai tahap lengkap karena orang yang meninggal telah melihat keturunannya membentuk keluarga.

Suasana dalam upacara Saur Matua tetap mengandung kesedihan karena keluarga kehilangan orang yang dicintai. Namun, ekspresi duka berjalan bersama rasa syukur atas perjalanan panjang orang tua yang telah menyaksikan kehidupan anak dan cucunya.

Karena kedudukan tersebut, tata upacara Saur Matua biasanya melibatkan keluarga besar. Hula hula, dongan tubu, boru, cucu, kerabat semarga, masyarakat sekitar hingga tokoh agama dapat memiliki bagian masing masing dalam rangkaian kegiatan.

Ulos, gondang, tortor, umpasa, pembagian jambar dan penyampaian kata penghiburan menjadi beberapa unsur yang kerap terlihat. Meski demikian, bentuk pelaksanaannya tidak selalu sama di setiap wilayah. Keluarga dapat menyesuaikan tata acara berdasarkan kebiasaan marga, daerah asal, kesepakatan keluarga dan ketentuan agama.

Apa Itu Saur Matua dalam Adat Batak Toba?

Istilah Saur Matua berasal dari bahasa Batak Toba. Saur dapat dipahami sebagai lengkap atau sempurna, sedangkan matua berkaitan dengan keadaan telah tua.

Dalam pemahaman adat, orang yang meninggal dengan status Saur Matua telah menyelesaikan sebagian besar tanggung jawab keluarga karena anak anaknya sudah menikah dan keturunan berikutnya telah hadir.

Kondisi tersebut yang membuat pelaksanaan adatnya berbeda dengan orang yang meninggal ketika masih mempunyai anak yang belum berkeluarga.

Saur Matua juga tidak semata ditentukan oleh usia. Seseorang yang telah berumur panjang belum tentu langsung masuk dalam kategori ini apabila susunan keluarganya belum memenuhi ketentuan adat yang digunakan oleh keluarga dan masyarakat setempat.

Karena itu, status biasanya dibicarakan oleh keluarga bersama pihak adat sebelum susunan acara ditetapkan.

Saur Matua Berbeda dengan Sari Matua

Istilah Sari Matua dan Saur Matua sering terdengar hampir bersamaan sehingga orang yang tidak terbiasa dengan adat Batak dapat menganggap keduanya sama.

Padahal, terdapat perbedaan penting.

Sari Matua biasanya mengacu pada orang tua yang meninggal ketika sudah mempunyai cucu, tetapi masih terdapat anak yang belum menikah. Artinya, masih terdapat tanggung jawab keluarga yang secara adat dianggap belum selesai.

Sementara dalam Saur Matua, seluruh anak telah menikah dan orang yang meninggal telah mempunyai cucu sesuai ketentuan adat keluarga tersebut.

Di atasnya juga dikenal istilah tertentu seperti Mauli Bulung dalam sebagian masyarakat Batak Toba. Status ini mempunyai ketentuan keluarga yang lebih lengkap lagi.

Perbedaan tersebut memengaruhi susunan serta kelengkapan upacara yang dilakukan.

Keluarga Bermusyawarah Sebelum Upacara Dilaksanakan

Ketika seorang orang tua meninggal dan dinilai memenuhi status Saur Matua, keluarga tidak langsung menyusun acara secara sendiri sendiri.

Musyawarah menjadi bagian penting.

Keluarga inti terlebih dahulu membicarakan keadaan, jadwal pemakaman, kebutuhan adat, kehadiran kerabat serta berbagai hal yang harus disiapkan.

Setelah itu, pembicaraan dapat melibatkan unsur kekerabatan yang lebih luas.

Dalam adat Batak Toba dikenal kegiatan musyawarah yang sering disebut martonggo raja atau maria raja dalam beberapa penggunaan. Pertemuan ini digunakan untuk membicarakan pembagian tugas serta susunan acara.

Siapa yang menerima tamu, menyiapkan konsumsi, berhubungan dengan pihak gereja, mengatur gondang, mengurus perlengkapan adat hingga pembagian jambar dapat dibicarakan melalui musyawarah.

Dengan cara tersebut, upacara tidak hanya menjadi pekerjaan keluarga inti.

Dalihan Na Tolu Menjadi Dasar Hubungan Kekerabatan

Saur Matua sulit dijelaskan tanpa membicarakan Dalihan Na Tolu. Sistem kekerabatan ini menjadi salah satu dasar penting kehidupan sosial masyarakat Batak Toba.

Dalihan Na Tolu terdiri dari tiga posisi utama, yaitu hula hula, dongan tubu dan boru.

Hula hula merupakan pihak keluarga pemberi perempuan dalam hubungan perkawinan. Kedudukannya mendapat penghormatan khusus dalam berbagai acara adat.

Dongan tubu mengacu pada saudara semarga yang berada dalam satu garis kekerabatan.

Sementara boru adalah pihak penerima perempuan dalam hubungan perkawinan dan mempunyai peran besar dalam membantu berbagai kebutuhan pelaksanaan acara.

Ketiga unsur tersebut saling berhubungan.

Seseorang tidak selalu berada dalam satu posisi sepanjang kehidupan sosialnya. Dalam acara tertentu ia dapat menjadi hula hula, sedangkan pada acara keluarga lain dapat berada sebagai boru.

“Saur Matua memperlihatkan bahwa upacara kematian Batak Toba bukan hanya urusan keluarga serumah, tetapi melibatkan hubungan kekerabatan yang telah terbangun melalui beberapa generasi.”

Hula Hula Memiliki Posisi Penting dalam Saur Matua

Hula hula menjadi salah satu pihak yang sangat dihormati ketika upacara berlangsung.

Kehadiran mereka berkaitan dengan hubungan perkawinan dalam keluarga orang yang meninggal.

Dalam rangkaian tertentu, hula hula dapat memberikan ulos kepada keluarga yang berduka serta menyampaikan kata penguatan kepada keturunan yang ditinggalkan.

Urutannya biasanya mengikuti susunan hubungan keluarga.

Karena keluarga Saur Matua telah mempunyai anak, menantu dan cucu, jumlah hubungan kekerabatan yang hadir dapat cukup luas.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan acara dapat melibatkan banyak orang.

Pihak hula hula juga biasanya diberikan ruang khusus dalam penyampaian kata adat sesuai susunan yang telah disepakati.

Boru Banyak Terlibat dalam Pelaksanaan Acara

Jika hula hula mendapat penghormatan tinggi, boru memiliki peran besar dalam melayani serta menjalankan berbagai kebutuhan kegiatan.

Dalam kehidupan adat Batak, pelayanan boru bukan dipandang sebagai posisi yang lebih rendah. Peran tersebut merupakan bagian dari hubungan timbal balik dalam Dalihan Na Tolu.

Boru dapat membantu menyiapkan kebutuhan keluarga, mengatur hidangan, menerima pihak tertentu hingga memastikan rangkaian yang telah disepakati berjalan.

Pada acara besar, jumlah pekerjaan tentu semakin banyak.

Kerabat dari berbagai daerah dapat datang untuk menyampaikan penghormatan terakhir. Konsumsi, tempat duduk serta kebutuhan acara harus disiapkan.

Kerja bersama menjadi unsur yang membuat kegiatan keluarga besar dapat berjalan.

Ulos Menjadi Unsur Penting dalam Upacara

Ulos memiliki kedudukan khusus dalam berbagai upacara masyarakat Batak Toba, termasuk Saur Matua.

Kain tradisional tersebut tidak sekadar digunakan sebagai pakaian atau hiasan.

Dalam rangkaian Saur Matua, pemberian ulos berkaitan dengan hubungan kekerabatan serta penghormatan kepada keluarga.

Pada sejumlah pelaksanaan, hula hula memberikan ulos kepada keturunan orang yang meninggal.

Jenis, penerima serta urutan pemberian dapat disesuaikan dengan aturan adat yang digunakan.

Karena hubungan keluarga Saur Matua sudah luas hingga tingkat cucu, pemberian ulos dapat melibatkan beberapa kelompok kerabat.

Setiap keluarga perlu mengikuti kesepakatan agar pemberian tersebut sesuai dengan kedudukan masing masing pihak.

Gondang Mengiringi Sejumlah Bagian Upacara

Suara gondang menjadi unsur yang cukup kuat dalam upacara adat Batak Toba.

Dalam tradisi Batak, terdapat margondang adat yang digunakan pada berbagai kegiatan, termasuk perkawinan dan Saur Matua.

Musik tidak sekadar hadir sebagai hiburan.

Gondang menjadi bagian yang menyertai gerakan tortor dan sejumlah susunan acara adat.

Pargonsi, yaitu para pemain musik, mengikuti permintaan sesuai tahapan yang sedang berlangsung.

Irama dapat berubah mengikuti pihak yang mendapat giliran.

Dalam masyarakat tertentu, pelaksanaan margondang juga telah mengalami penyesuaian dengan ketentuan agama.

Karena itu, bentuk gondang dalam Saur Matua dapat berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.

Tortor Dilakukan Bersama Gondang

Tortor menjadi bagian lain yang mudah dikenali ketika masyarakat menghadiri upacara adat Batak.

Gerakan dalam tortor tidak dilakukan tanpa aturan.

Posisi tangan, arah gerakan, pihak yang berada di depan serta kelompok yang sedang memperoleh giliran berkaitan dengan hubungan adat.

Dalam Saur Matua, beberapa kelompok keluarga dapat manortor secara bergantian.

Hula hula, dongan tubu, boru serta keturunan orang yang meninggal dapat mempunyai urutannya masing masing.

Gerakan berlangsung mengikuti gondang.

Bagi orang yang pertama kali menghadiri upacara, bagian ini mungkin terlihat seperti tarian bersama. Namun, bagi keluarga Batak, setiap pihak mengetahui posisi serta hubungan yang sedang ditampilkan dalam acara tersebut.

Umpasa Disampaikan dalam Bahasa Adat

Bahasa memiliki peran kuat dalam pelaksanaan Saur Matua.

Selain percakapan sehari hari, terdapat umpasa yang digunakan dalam berbagai upacara masyarakat Batak Toba.

Umpasa memiliki susunan bahasa yang khas dan dapat berisi doa, harapan, penguatan serta nasihat bagi keluarga.

Penyampaiannya membutuhkan kemampuan berbahasa Batak yang baik.

Orang yang terbiasa berbicara dalam acara adat biasanya dapat menggunakan pilihan kata dengan lebih teratur dan sesuai.

Generasi muda yang hidup di kota terkadang tidak lagi menguasai seluruh bentuk bahasa adat tersebut.

Karena itu, tokoh keluarga atau orang yang memahami adat sering mendapat peran besar ketika menyampaikan kata kata dalam acara.

Keberadaan umpasa sekaligus mempertahankan tradisi lisan Batak Toba dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Mandok Hata Menjadi Ruang Menyampaikan Penghiburan

Mandok hata merupakan bagian ketika keluarga dan kerabat menyampaikan perkataan kepada pihak yang berduka.

Isi pembicaraan dapat berupa kenangan terhadap orang yang meninggal, penghiburan serta pesan kepada keturunannya.

Bagian ini dapat berlangsung cukup emosional.

Anak dan cucu yang kehilangan orang tua tentu tetap merasakan kesedihan meskipun secara adat orang yang meninggal telah mencapai status Saur Matua.

Ucapan yang disampaikan keluarga membantu menguatkan mereka.

Di sinilah terlihat dua suasana berjalan secara bersamaan. Ada rasa kehilangan, tetapi terdapat pula rasa syukur karena orang tua telah menjalani usia panjang dan menyaksikan keturunannya berkembang.

Panambolon Dikenal dalam Pelaksanaan Adat Tertentu

Dalam beberapa pelaksanaan Saur Matua terdapat kegiatan panambolon yang berkaitan dengan penyembelihan hewan adat.

Kerbau atau lembu dapat digunakan sesuai kesepakatan dan kemampuan keluarga.

Namun, bagian ini tidak boleh dianggap sebagai ketentuan yang selalu identik di seluruh masyarakat Batak Toba.

Pelaksanaan dapat berbeda menurut wilayah, kemampuan keluarga serta keputusan pihak adat.

Hewan yang disiapkan mempunyai hubungan dengan pembagian jambar kepada pihak tertentu.

Proses tersebut memiliki aturan sehingga bukan semata kegiatan memasak daging untuk tamu.

Keluarga biasanya melibatkan orang yang memahami tata pembagian agar setiap pihak menerima sesuai kedudukannya.

Parjambaran Mengikuti Susunan Hubungan Adat

Jambar merupakan bagian yang dikenal dalam berbagai upacara Batak.

Dalam Saur Matua, parjambaran berkaitan dengan pembagian bagian tertentu kepada pihak yang mempunyai kedudukan dalam susunan adat.

Pembagian tidak dilakukan secara sembarangan.

Jenis bagian yang diterima dapat berbeda berdasarkan posisi kekerabatan.

Karena itu, seseorang yang tidak memahami hubungan keluarga mungkin melihat pembagian tersebut sebagai sesuatu yang rumit.

Bagi masyarakat yang menjalankannya, parjambaran menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap posisi setiap kelompok dalam acara.

Kesalahan pembagian dapat menimbulkan perdebatan sehingga pembicaraan mengenai hal tersebut biasanya dilakukan dengan cermat.

Agama dan Adat Berjalan Bersama dalam Banyak Keluarga

Sebagian besar pelaksanaan Saur Matua saat ini juga melibatkan tata ibadah sesuai agama keluarga.

Pada keluarga Kristen, kegiatan gerejawi dapat menjadi bagian utama sebelum pemakaman.

Pendeta, pelayan gereja serta jemaat dapat hadir memberikan penghiburan.

Doa, nyanyian dan pemberitaan firman berjalan bersama rangkaian adat yang telah disiapkan keluarga.

Adat ditempatkan sesuai keyakinan yang dianut.

Penyesuaian ini sudah berlangsung dalam kehidupan masyarakat Batak Toba di banyak daerah.

Karena itu, susunan acara di satu kampung belum tentu sama persis dengan keluarga Batak yang tinggal di Medan, Jakarta atau kota lainnya.

Pelaksanaan Saur Matua Bisa Berlangsung Lebih dari Satu Hari

Besarnya keluarga yang terlibat membuat Saur Matua dapat berlangsung dalam waktu yang tidak singkat.

Kerabat mungkin datang dari berbagai kota bahkan luar pulau.

Musyawarah keluarga, penerimaan kerabat, kegiatan keagamaan, adat dan pemakaman harus ditempatkan dalam jadwal yang teratur.

Pada keluarga tertentu, keseluruhan kegiatan dapat berlangsung beberapa hari.

Namun, tidak semua keluarga harus membuat acara besar.

Kemampuan ekonomi, waktu serta kesepakatan keluarga tetap menjadi pertimbangan.

Dalam kehidupan sekarang, sebagian keluarga memilih menyederhanakan beberapa bagian tanpa meninggalkan unsur yang dianggap paling penting.

Biaya Upacara Perlu Dibicarakan dengan Terbuka

Pelaksanaan adat dalam skala besar tentu membutuhkan dana.

Konsumsi, tempat acara, perlengkapan, musik, transportasi, kebutuhan pemakaman serta berbagai pengeluaran lainnya dapat menambah biaya keluarga.

Karena itu, musyawarah mempunyai fungsi penting sejak awal.

Keluarga perlu mengetahui kemampuan masing masing dan menentukan acara yang dapat dilaksanakan tanpa menciptakan persoalan baru setelah pemakaman selesai.

Tidak semua bentuk penghormatan harus diukur melalui kemegahan.

Nilai utama berada pada bagaimana keluarga menjalankan kewajibannya secara tertib serta menghargai pihak yang mempunyai posisi dalam hubungan adat.

“Penghormatan terhadap orang tua tidak seharusnya berubah menjadi persaingan besar kecilnya pesta. Kekuatan Saur Matua justru terlihat dari kebersamaan keluarga dan ketertiban menjalankan adat.”

Saur Matua Tetap Mengandung Kesedihan bagi Anak dan Cucu

Penggunaan gondang dan tortor terkadang membuat orang dari luar masyarakat Batak mempertanyakan mengapa kegiatan tersebut hadir dalam suasana kematian.

Jawabannya berkaitan dengan kedudukan Saur Matua.

Orang yang meninggal dipandang telah mencapai tahap hidup yang lengkap menurut ukuran adat tertentu. Ia telah membangun keluarga, membesarkan anak serta melihat generasi cucu.

Namun, bukan berarti keluarga dilarang bersedih.

Anak tetap kehilangan orang tua. Cucu kehilangan sosok ompung yang mungkin selama bertahun tahun menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga.

Adat memberi ruang bagi rasa kehilangan tersebut sekaligus mengingatkan keluarga bahwa orang tua telah menjalani perjalanan hidup yang panjang.

Generasi Muda Mulai Mempelajari Kembali Susunan Adat

Perpindahan masyarakat Batak ke berbagai kota membuat pelaksanaan adat terus mengalami penyesuaian.

Generasi muda tidak semuanya tumbuh di kampung halaman atau menggunakan bahasa Batak setiap hari.

Akibatnya, istilah seperti hula hula, boru, parjambaran, umpasa dan susunan tortor terkadang baru dipahami ketika mereka mulai terlibat dalam acara keluarga.

Saur Matua menjadi salah satu kesempatan ketika generasi muda melihat secara langsung luasnya hubungan kekerabatan mereka.

Orang yang sebelumnya hanya dikenal sebagai saudara jauh mulai terlihat posisinya dalam Dalihan Na Tolu.

Keluarga yang memahami adat biasanya membantu menjelaskan hubungan tersebut agar generasi berikutnya tidak sekadar mengikuti acara tanpa mengetahui alasannya.

Tata Saur Matua Tidak Selalu Sama di Setiap Daerah

Masyarakat Batak Toba tersebar di wilayah yang luas dan memiliki kebiasaan lokal yang tidak selalu identik.

Cara masyarakat di Toba, Humbang Hasundutan, Samosir, kawasan Silahisabungan dan daerah lainnya dapat mempunyai perbedaan pada detail pelaksanaan.

Perbedaan juga muncul setelah banyak keluarga tinggal di kota.

Keterbatasan tempat, waktu kerja, aturan gedung serta jarak antaranggota keluarga membuat sejumlah bagian perlu disesuaikan.

Karena itu, satu pengalaman menghadiri Saur Matua tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa seluruh keluarga Batak wajib melakukan susunan yang sama persis.

Raja adat, tokoh keluarga serta Dalihan Na Tolu biasanya menjadi pihak yang membantu menentukan tata pelaksanaan sesuai kebiasaan keluarga.

Tamu Perlu Menghormati Susunan Acara yang Berlangsung

Orang yang bukan berasal dari keluarga Batak tetap dapat menghadiri Saur Matua ketika diundang sebagai sahabat, tetangga atau rekan kerja.

Tamu tidak harus menguasai seluruh aturan adat.

Hal terpenting adalah mengikuti arahan keluarga dan menghormati jalannya acara.

Ketika bagian adat sedang berlangsung, hindari berdiri di area yang digunakan untuk tortor atau menghalangi pihak keluarga.

Pengambilan foto juga sebaiknya dilakukan tanpa mengganggu kegiatan.

Apabila diminta mengikuti gerakan tertentu, tamu dapat melihat arahan orang di sekitarnya.

Tidak perlu merasa malu bertanya kepada anggota keluarga mengenai tata acara.

Sikap tersebut justru dapat menjadi cara mengenal Saur Matua sebagai salah satu tradisi penting masyarakat Batak Toba yang mempertemukan keluarga besar, hubungan Dalihan Na Tolu, ulos, gondang, tortor, bahasa adat serta penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah menyaksikan anak dan cucunya membangun kehidupan keluarga masing masing.