Raja Singasari Kertanagara Tantrayana, Pemersatu Nusantara

Spiritual3 Views

Raja Singasari Kertanagara Tantrayana sering disebut sebagai salah satu penguasa paling berani dan visioner dalam sejarah Nusantara. Ia bukan hanya raja yang memimpin perang dan ekspedisi, tetapi juga tokoh yang menggabungkan kekuatan militer, diplomasi, dan spiritualitas Tantrayana untuk menyatukan berbagai wilayah di bawah pengaruh Singasari. Di tengah riuh rendah perebutan kekuasaan antar kerajaan Jawa dan ancaman dari luar, sosok Kertanagara muncul sebagai figur yang mencoba mengangkat Nusantara ke panggung regional Asia.

Jejak Awal Raja Singasari Kertanagara Tantrayana di Jawa Timur

Sebelum menjadi Raja Singasari Kertanagara Tantrayana, ia adalah seorang pangeran dari wangsa Rajasa, dinasti yang didirikan oleh Ken Arok. Latar belakang politik Singasari pada masa mudanya penuh intrik, persaingan keluarga, dan ancaman eksternal yang terus mengintai. Kerajaan ini berdiri di atas sisa-sisa Kerajaan Kediri, sehingga masih menyimpan dendam dan rivalitas yang belum sepenuhnya padam.

Kertanagara naik takhta sekitar tahun 1268 M, menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana. Sejak awal pemerintahannya, ia sudah menunjukkan watak yang berbeda dibandingkan para pendahulunya. Ia tidak puas hanya memerintah Jawa Timur, tetapi ingin menjadikan Singasari sebagai kekuatan maritim dan politik yang disegani di seluruh kepulauan.

Sumber-sumber seperti Kitab Pararaton dan Negarakertagama menggambarkan Kertanagara sebagai raja yang cerdas, berwibawa, serta memiliki minat mendalam terhadap ajaran agama, khususnya Tantrayana yang saat itu berkembang kuat di Jawa dan Asia Selatan. Penggabungan antara kepemimpinan politik dan spiritual inilah yang kemudian menjadi ciri khas pemerintahannya.

“Jika dilihat dari data sejarah yang tersisa, Kertanagara bukan sekadar raja penakluk, tetapi seorang perancang tatanan baru di Nusantara yang mencoba keluar dari pola kekuasaan lokal.”

Tantrayana Menjadi Landasan Spiritualitas Kerajaan Singasari

Pengaruh ajaran Tantrayana pada Raja Singasari Kertanagara Tantrayana menjadi aspek yang membedakannya dari banyak raja lain di Jawa. Tantrayana, sebagai salah satu aliran dalam Buddhisme Mahayana yang bercorak esoteris, menekankan ritual, mantra, visualisasi dewa, dan penyatuan unsur maskulin dan feminin dalam kosmos. Di tangan Kertanagara, ajaran ini tidak hanya berdiam di ruang-ruang vihara, tetapi meresap ke dalam kebijakan negara.

Akar Pemikiran Raja Singasari Kertanagara Tantrayana

Raja Singasari Kertanagara Tantrayana disebut-sebut menjalani inisiasi tingkat tinggi dalam ajaran Tantrayana. Ia digambarkan sebagai raja yang mendapat konsekrasi spiritual, sehingga dipandang bukan hanya sebagai penguasa duniawi, tetapi juga memiliki legitimasi sakral. Konsep raja sebagai penjelmaan dewa atau bodhisattva mulai tampak kuat pada masa ini.

Dalam ajaran Tantrayana, terdapat gagasan bahwa penguasa ideal adalah ia yang mampu menyeimbangkan kekuatan duniawi dan rohani. Kertanagara memanfaatkan gagasan ini untuk mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin tunggal yang sah. Penggambaran dirinya kemudian banyak ditemukan dalam arca, yang menunjukkan persatuan antara sosok raja dan figur ilahi, misalnya arca Joko Dolog yang kerap dikaitkan dengan dirinya.

Ritual Tantrayana yang sarat simbol juga digunakan untuk melegitimasi ekspansi kekuasaan. Penaklukan wilayah bukan hanya dilihat sebagai upaya politik, tetapi sebagai perluasan dharma, yaitu tatanan kebenaran dan kosmis yang harus dijaga oleh sang raja.

Tantrayana dan Sinkretisme Hindu Buddha di Singasari

Raja Singasari Kertanagara Tantrayana tidak menempatkan Tantrayana sebagai ajaran eksklusif. Di Jawa, sudah berkembang tradisi Hindu Siwa dan Buddha Mahayana yang saling berbaur. Kertanagara justru menguatkan sinkretisme itu. Ia memadukan simbol Siwa, Buddha, dan Tantrayana dalam upacara kerajaan, arsitektur candi, dan penataan ruang sakral.

Candi Jawi dan Candi Singasari sering disebut sebagai contoh arsitektur yang mencerminkan perpaduan Siwa Buddha. Di sana, unsur pemujaan terhadap dewa Hindu berdampingan dengan pemujaan Buddha, mencerminkan pandangan bahwa semua jalan bermuara pada kebenaran yang sama. Tantrayana menjadi semacam lapisan spiritual yang mengikat berbagai unsur tersebut.

Pendekatan sinkretis ini juga berdampak pada stabilitas sosial. Kelompok pemuja Siwa, Buddha, dan aliran lain diberi ruang dalam struktur keagamaan kerajaan. Dengan demikian, Kertanagara mengurangi potensi konflik keagamaan dan menjadikan keberagaman keyakinan sebagai bagian dari kekuatan politik Singasari.

Strategi Politik Raja Singasari Kertanagara Tantrayana Menyusun Kekuatan

Di balik aura spiritual, Raja Singasari Kertanagara Tantrayana adalah seorang politikus ulung. Ia memahami bahwa untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan, diperlukan strategi yang matang, baik di dalam negeri maupun di wilayah seberang laut. Pemerintahannya menandai pergeseran Singasari dari kerajaan agraris ke kerajaan yang mulai berorientasi maritim dan regional.

Di dalam negeri, Kertanagara harus menjaga keseimbangan antara bangsawan, pejabat istana, dan penguasa daerah. Di luar negeri, ia berhadapan dengan ancaman besar dari Dinasti Yuan di Tiongkok yang dipimpin Kubilai Khan, serta persaingan dengan kerajaan lain seperti Kediri yang masih menyimpan potensi perlawanan.

Ekspedisi Pamalayu dan Ambisi Maritim Nusantara

Ekspedisi Pamalayu adalah salah satu kebijakan paling terkenal dari Raja Singasari Kertanagara Tantrayana. Ekspedisi ini bukan sekadar pengiriman pasukan ke Sumatra, tetapi bagian dari strategi besar untuk mengendalikan jalur perdagangan di Selat Malaka dan mengamankan hubungan dengan kerajaan Melayu di seberang.

Latar Belakang Ekspedisi Pamalayu Raja Singasari Kertanagara Tantrayana

Raja Singasari Kertanagara Tantrayana menyadari bahwa kekuatan sebuah kerajaan di Nusantara tidak bisa hanya bertumpu pada penguasaan daratan Jawa. Selat Malaka dan jalur perdagangan maritim adalah nadi ekonomi kawasan. Jika jalur ini dikuasai, maka arus rempah, emas, dan komoditas lain dapat dikendalikan, sekaligus meningkatkan wibawa Singasari di mata kerajaan asing.

Ekspedisi Pamalayu yang dimulai sekitar tahun 1275 M mengarah ke wilayah Melayu Dharmasraya di Sumatra. Tujuannya tidak hanya penaklukan militer, tetapi juga membangun hubungan politik dan perdagangan yang erat. Sumber-sumber menyebut adanya pengiriman arca Amoghapasa sebagai hadiah kepada penguasa Melayu, yang sekaligus menjadi simbol perlindungan dan pengaruh Singasari.

Ekspedisi ini menunjukkan bahwa Kertanagara berpikir jauh melampaui batas Jawa. Ia ingin menjadikan Singasari sebagai poros utama di antara kerajaan-kerajaan di Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Hasil dan Pengaruh Ekspedisi Pamalayu

Ekspedisi Pamalayu membawa hasil penting bagi Raja Singasari Kertanagara Tantrayana. Singasari berhasil menanamkan pengaruh di Melayu dan menjalin hubungan yang kemudian menjadi dasar bagi munculnya jaringan kekuasaan yang lebih luas di Nusantara. Kelak, Majapahit mewarisi dan mengembangkan jaringan ini, sehingga Pamalayu bisa dianggap sebagai landasan awal pembentukan hegemoni Jawa atas wilayah barat Nusantara.

Selain itu, ekspedisi ini memperkuat peran Singasari dalam perdagangan internasional. Kapal-kapal dari India, Tiongkok, dan dunia Arab yang melintas di sekitar Selat Malaka tidak lagi hanya berurusan dengan kerajaan lokal, tetapi juga dengan kekuasaan besar di Jawa yang mulai menata pengaruhnya.

“Ekspedisi Pamalayu memperlihatkan bahwa visi Kertanagara tidak berhenti pada Jawa. Ia melihat Nusantara sebagai satu kesatuan ruang politik yang bisa ditata dan diikat di bawah satu pusat kekuasaan.”

Menantang Kubilai Khan, Keberanian Raja Singasari Kertanagara Tantrayana

Salah satu episode paling dramatis dalam kehidupan Raja Singasari Kertanagara Tantrayana adalah ketika ia menolak tunduk kepada Kubilai Khan. Dinasti Yuan yang baru berdiri di Tiongkok berupaya menancapkan pengaruh ke berbagai wilayah Asia, termasuk ke Jawa. Kubilai Khan mengirim utusan untuk menuntut Singasari mengakui supremasi Yuan dan membayar upeti.

Alih-alih tunduk, Kertanagara justru menghina utusan itu. Dalam beberapa catatan, disebutkan bahwa utusan Tiongkok itu dirusak wajahnya sebagai bentuk penolakan keras terhadap tuntutan Kubilai Khan. Tindakan ini bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi pernyataan politik bahwa Singasari tidak akan menjadi vasal kekaisaran asing.

Keputusan berani ini membawa konsekuensi besar. Kubilai Khan kemudian menyiapkan ekspedisi militer ke Jawa untuk menghukum Singasari. Namun, sebelum pasukan Mongol tiba, situasi di dalam negeri sudah lebih dulu berguncang akibat pemberontakan internal.

Keberanian Raja Singasari Kertanagara Tantrayana menantang kekaisaran besar seperti Yuan menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi atas kekuatan kerajaan dan jaringan Nusantara yang dibangunnya. Ia tampaknya yakin bahwa posisi geografis, armada laut, dan aliansi regional bisa menjadi tameng terhadap dominasi asing.

Pemberontakan Jayakatwang dan Keruntuhan Singasari

Di tengah upaya memperluas pengaruh dan menghadapi ancaman luar, Raja Singasari Kertanagara Tantrayana menghadapi bahaya dari dalam. Jayakatwang, penguasa Kediri yang masih menyimpan ambisi dan dendam terhadap Singasari, melihat kesempatan ketika banyak pasukan Singasari berada di luar Jawa untuk ekspedisi.

Serangan Jayakatwang ke ibu kota Singasari terjadi dengan cepat dan mengejutkan. Kertanagara yang sedang berada di istana tidak siap menghadapi pengkhianatan ini. Dalam peristiwa itu, ia tewas dan kekuasaan Singasari runtuh. Jayakatwang kemudian mengangkat dirinya sebagai penguasa, menghidupkan kembali nama Kediri.

Kejatuhan Raja Singasari Kertanagara Tantrayana menunjukkan betapa rapuhnya sebuah kerajaan yang sedang memperluas pengaruh ke luar, tetapi melemahkan pertahanan di pusat. Ambisi besar yang ia bangun di luar Jawa ternyata tidak diimbangi dengan pengamanan yang memadai terhadap ancaman dalam negeri.

Namun, kematian Kertanagara bukan akhir dari gagasan besar tentang penyatuan Nusantara. Justru dari reruntuhan Singasari, muncul tokoh lain yang akan melanjutkan visinya, yaitu Raden Wijaya yang kelak mendirikan Majapahit.

Warisan Politik Raja Singasari Kertanagara Tantrayana bagi Majapahit

Warisan Raja Singasari Kertanagara Tantrayana tidak berhenti pada masa hidupnya. Banyak sejarawan melihat bahwa Majapahit sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang telah diletakkan oleh Singasari, khususnya pada masa Kertanagara. Konsep hegemoni Jawa atas wilayah seberang, penguasaan jalur perdagangan, serta penggunaan legitimasi religius Siwa Buddha yang sinkretis, semuanya diteruskan dan diperkuat oleh Majapahit.

Raden Wijaya, menantu Kertanagara, memanfaatkan kekacauan pasca serangan Mongol untuk mendirikan kerajaan baru. Dengan memadukan pengalaman politik dari Singasari dan situasi baru setelah ekspedisi Mongol, ia melanjutkan cita cita yang pernah digagas Kertanagara, yaitu menjadikan Jawa sebagai pusat kekuasaan Nusantara.

Negarakertagama yang disusun pada masa Majapahit juga memberi tempat terhormat bagi Raja Singasari Kertanagara Tantrayana, menggambarkannya sebagai raja besar yang menjadi pendahulu penting. Hal ini menunjukkan bahwa secara ideologis, Majapahit mengakui warisan Kertanagara sebagai bagian dari legitimasi mereka.

Citra Raja Singasari Kertanagara Tantrayana dalam Arca dan Candi

Jejak Raja Singasari Kertanagara Tantrayana tidak hanya tersimpan dalam teks, tetapi juga dalam arca dan bangunan suci. Arca Joko Dolog yang kini berada di Surabaya sering dikaitkan dengan sosok Kertanagara. Arca ini menggambarkan sosok Buddha dengan inskripsi yang menyebutkan tokoh penting dalam lingkungan kerajaan Singasari.

Di Malang dan sekitarnya, Candi Singasari dan Candi Jawi menjadi saksi bisu masa kejayaan Singasari. Relief, struktur, dan gaya arsitektur yang memadukan unsur Hindu dan Buddha menunjukkan corak keagamaan yang hidup pada masa Kertanagara. Di beberapa arca, raja digambarkan sebagai penjelmaan dewa, menegaskan konsep dewaraja yang diperkuat oleh ajaran Tantrayana.

Penggambaran Raja Singasari Kertanagara Tantrayana sebagai figur semi ilahi mencerminkan upaya untuk mengabadikan kekuasaannya tidak hanya di dunia fana, tetapi juga dalam tatanan kosmis. Dengan demikian, ia tidak sekadar dikenang sebagai raja yang pernah memerintah, tetapi sebagai bagian dari susunan spiritual yang terus dihormati.

Pengaruh Ajaran Raja Singasari Kertanagara Tantrayana dalam Tradisi Jawa

Ajaran dan kebijakan keagamaan Raja Singasari Kertanagara Tantrayana meninggalkan jejak panjang dalam tradisi Jawa. Sinkretisme Siwa Buddha yang diperkuat pada masanya kemudian berpengaruh pada pola keagamaan di Majapahit dan bahkan meluas ke tradisi kejawen di masa selanjutnya.

Dalam tradisi kejawen, konsep menyatunya aspek duniawi dan rohani, pentingnya keseimbangan kosmis, serta penghormatan terhadap leluhur dan tokoh sakral, memiliki benang merah dengan pola pemikiran yang hidup pada masa Singasari dan Majapahit. Walau Tantrayana secara formal tidak lagi tampak kuat dalam praktik keagamaan modern, unsur unsur esoteris dan simbolisnya seolah bertransformasi dan menyatu dalam praktik budaya dan spiritual Jawa.

Raja Singasari Kertanagara Tantrayana juga menjadi contoh bagaimana seorang penguasa di Jawa memadukan kekuasaan politik dengan peran spiritual. Pola ini kemudian muncul kembali dalam berbagai bentuk pada masa masa berikutnya, ketika raja atau pemimpin lokal dianggap sebagai sosok yang memiliki kekuatan batin dan kedekatan khusus dengan dunia gaib.

Kertanagara sebagai Pemersatu Nusantara dalam Perspektif Sejarah

Sebutan pemersatu Nusantara bagi Raja Singasari Kertanagara Tantrayana bukanlah tanpa alasan. Walaupun secara faktual wilayah yang benar benar berada di bawah kendalinya belum seluas Majapahit di masa puncak, namun ia adalah tokoh yang pertama kali secara sadar menyusun strategi untuk menjadikan kerajaan di Jawa sebagai pusat jaringan kekuasaan kepulauan.

Ekspedisi Pamalayu, hubungan dengan wilayah wilayah di Kalimantan dan Bali, serta sikap berani terhadap kekuatan asing seperti Yuan, menunjukkan bahwa ia memandang Nusantara sebagai satu ruang yang bisa diatur dari pusat kekuasaan di Jawa Timur. Gagasan ini kemudian menjadi model bagi Majapahit ketika menyusun sistem mandala dan daerah bawahan di berbagai pulau.

Dalam kacamata sejarah, Raja Singasari Kertanagara Tantrayana bisa dipandang sebagai arsitek awal integrasi politik Nusantara. Meski kerajaannya runtuh akibat pemberontakan internal, ide ide yang ia tanamkan justru berkembang lebih jauh di tangan penerusnya. Ia menjadi jembatan antara masa kerajaan Jawa awal dan masa kejayaan Majapahit yang sering dirujuk sebagai titik puncak persatuan Nusantara pra modern.

Penggambaran Kertanagara dalam sumber sumber kemudian cenderung menempatkannya sebagai raja besar yang visioner, meski juga tidak luput dari kritik atas kerapuhan pertahanan internalnya. Namun, warisan strateginya dalam memandang laut sebagai penghubung, bukan pemisah, menjadikan namanya tetap relevan dalam pembahasan sejarah maritim dan politik kepulauan hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *