Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit Hilangkan Arca Candi

Spiritual3 Views

Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit menjadi salah satu babak paling rumit dalam sejarah Nusantara, terutama ketika dikaitkan dengan hilangnya arca dan relief di berbagai candi peninggalan masa itu. Di tengah citra Majapahit sebagai kerajaan yang makmur dan toleran, jejak arkeologis justru menunjukkan adanya kerusakan, penghilangan, hingga pengaburan simbol keagamaan di sejumlah situs. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah konflik internal antar pemeluk agama di Majapahit ikut mendorong lenyapnya banyak arca candi yang dahulu menjadi pusat pemujaan dan identitas budaya?

Jejak Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit di Tengah Keragaman

Kerajaan Majapahit kerap digambarkan sebagai kerajaan yang merangkul perbedaan, namun berbagai sumber sejarah mengindikasikan bahwa Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit tidak bisa diabaikan. Di satu sisi, ada harmoni antara Hindu Siwa, Hindu Wisnu, dan Buddha. Di sisi lain, muncul ketegangan laten yang menyentuh ranah politik, ekonomi, hingga simbol keagamaan di candi dan pura.

Para ahli sejarah menemukan bahwa hubungan antar kelompok agama di Majapahit tidak selalu berjalan mulus. Perebutan pengaruh di istana, perbedaan tafsir ajaran, serta perubahan kebijakan penguasa dari satu masa ke masa lain, menciptakan dinamika yang terkadang meledak menjadi konflik terbuka maupun terselubung. Konflik semacam ini berpotensi berimbas pada situs sakral, terutama candi yang menjadi simbol keberadaan satu kelompok keagamaan di suatu wilayah.

“Ketika agama menjadi bagian dari perebutan kuasa, arca dan candi sering kali berubah dari tempat suci menjadi medan simbolis untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.”

Citra Toleransi dan Bayangan Konflik di Majapahit

Sebelum menelusuri lebih jauh soal hilangnya arca, penting untuk memahami bagaimana Majapahit membangun citra toleransi. Kitab Negarakertagama menggambarkan raja yang mengayomi berbagai aliran keagamaan. Di pusat kerajaan, para pendeta Siwa, Buddha, dan aliran kepercayaan lokal dilaporkan hidup berdampingan, bahkan saling terlibat dalam ritus kenegaraan.

Namun, harmoni di tingkat elit tidak selalu sepenuhnya tercermin di daerah. Di wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan, perbedaan ajaran dan perebutan sumber daya bisa menjelma menjadi gesekan. Arca dan bangunan suci sering menjadi sasaran karena dianggap mewakili “pihak lain” dalam konflik yang berlapis antara politik, ekonomi, dan agama.

Candi Sebagai Panggung Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit

Candi pada era Majapahit bukan sekadar bangunan keagamaan. Ia adalah simbol legitimasi, penanda kekuasaan, sekaligus media propaganda halus. Karena itu, ketika terjadi Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit, candi dan arca di dalamnya menjadi titik sensitif yang mudah terseret dalam arus konflik.

Candi yang didedikasikan untuk dewa tertentu atau untuk memuliakan seorang raja yang menganut aliran tertentu, dapat dipandang sebagai lambang dominasi kelompok tersebut. Jika terjadi perubahan kekuasaan atau perubahan orientasi keagamaan di istana, maka simbol lama berpotensi dihapus, diganti, atau dibiarkan rusak tanpa perawatan.

Arca Hilang di Balik Perubahan Keyakinan dan Kekuasaan

Hilangnya arca di banyak candi peninggalan Majapahit tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar yang terjadi setelah masa kejayaannya. Peralihan kekuasaan, masuknya pengaruh Islam, dan runtuhnya struktur politik lama membuka ruang bagi pergeseran nilai keagamaan yang drastis. Di tengah perubahan itu, arca yang dahulu diagungkan berubah status menjadi benda asing, bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran baru.

Di sejumlah situs, arca ditemukan dalam kondisi terpotong, terkubur, atau dipindahkan dari posisi aslinya. Ada yang diduga sengaja disembunyikan untuk melindungi dari amukan kelompok yang menentang pemujaan berhala, ada pula yang dihancurkan sebagai simbol penolakan terhadap kepercayaan sebelumnya. Rangkaian peristiwa ini menyiratkan bahwa hilangnya arca tidak hanya disebabkan faktor alam, melainkan juga tindakan manusia yang dipicu oleh perbedaan keyakinan.

Peran Perubahan Agama Penguasa dalam Nasib Arca Candi

Penguasa Majapahit dan penerusnya memiliki peran besar dalam menentukan nasib situs keagamaan. Ketika raja dan elit istana berpindah aliran atau menurunkan prioritas pada satu agama tertentu, dukungan terhadap pemeliharaan candi pun melemah. Perubahan orientasi politik dan agama di tingkat atas dapat mengakibatkan candi kehilangan patron, lalu perlahan terbengkalai.

Dalam beberapa kasus, ketika kekuasaan baru dengan identitas keagamaan berbeda mulai menguat, candi peninggalan sebelumnya dipandang tidak lagi relevan. Arca yang berada di dalamnya menjadi simbol masa lalu yang hendak digantikan. Saat itulah, tindakan penghilangan, pemindahan, atau penghancuran arca bisa terjadi, baik secara sistematis maupun sporadis oleh kelompok tertentu yang terdorong semangat keagamaan.

Ketegangan Hindu Buddha di Tengah Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit

Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit tidak hanya berkisar pada masuknya agama baru, tetapi juga ketegangan internal antara penganut Hindu dan Buddha sendiri. Meski banyak bukti menunjukkan adanya sinkretisme Siwa Buddha, perbedaan penekanan ajaran dan kepentingan politik di baliknya tidak bisa diabaikan.

Di beberapa wilayah, candi yang semula bercorak Buddha mengalami penyesuaian simbolik ketika kekuatan Siwais menguat, dan sebaliknya. Arca Buddha bisa dipindah, diganti dengan arca Siwa atau dewa lain, atau diletakkan di posisi yang kurang menonjol. Tindakan semacam ini mungkin tidak selalu disertai kekerasan fisik, tetapi tetap menunjukkan adanya persaingan simbolik di ruang sakral.

Sinkretisme Siwa Buddha dan Sisi Gelap yang Jarang Dibicarakan

Majapahit sering dipuji karena mampu memadukan ajaran Siwa dan Buddha dalam satu kerangka keagamaan. Banyak candi yang memperlihatkan perpaduan ikonografi kedua tradisi itu. Namun, sinkretisme tidak selalu berarti ketiadaan konflik. Di balik penyatuan simbol, terdapat proses negosiasi panjang yang kadang diwarnai perselisihan.

Terdapat indikasi bahwa sebagian arca yang tidak sesuai dengan pola sinkretis baru dipindahkan atau ditinggalkan. Ketika satu aliran berusaha menonjolkan diri sebagai representasi resmi kerajaan, simbol keagamaan yang tak sejalan dengan arah baru bisa saja dikesampingkan. Di lapangan, hal ini berarti arca tertentu tidak lagi dirawat, dibiarkan rusak, bahkan diambil masyarakat untuk kepentingan lain.

Islamisasi Jawa dan Tekanan Baru terhadap Arca Majapahit

Gelombang Islamisasi yang menguat setelah menurunnya Majapahit menghadirkan babak baru dalam kisah hilangnya arca candi. Ajaran Islam yang dominan di Jawa membawa pandangan lebih ketat terhadap representasi figuratif sebagai objek pemujaan. Di beberapa daerah, arca dan patung dipandang sebagai berhala yang harus dijauhi atau dihancurkan.

Walau proses Islamisasi di Jawa berlangsung beragam dan tidak selalu keras, ada bukti bahwa sejumlah arca Majapahit dipindahkan, dikubur, atau dipecah. Sebagian mungkin dilakukan oleh penguasa baru yang ingin menghapus simbol lama, sebagian lain oleh masyarakat yang mulai menginternalisasi ajaran baru. Dalam situasi seperti ini, Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit berlanjut dalam bentuk yang lebih luas, melibatkan benturan antara warisan Hindu Buddha dan arus Islam yang menguat.

Arca sebagai Korban dan Saksi Peralihan Zaman

Arca candi Majapahit pada akhirnya menjadi korban sekaligus saksi bisu perubahan besar di Jawa. Dari pemujaan di masa kejayaan, lalu dipinggirkan ketika aliran baru menguat, hingga akhirnya banyak yang lenyap dari tempat asalnya. Arca bukan hanya objek seni, tetapi juga penanda identitas komunitas yang kerap menjadi sasaran ketika identitas itu dipertentangkan.

Di beberapa desa, arca ditemukan tertanam di pekarangan rumah, dipakai sebagai batu penyangga bangunan, atau dibiarkan di pematang sawah. Kondisi ini menunjukkan bagaimana status arca merosot drastis seiring perubahan keyakinan. Apa yang dahulu dijaga sebagai lambang sakral berubah menjadi benda biasa, bahkan kadang dianggap mengganggu karena terkait dengan “agama lama”.

Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit dalam Temuan Arkeologi

Penelitian arkeologi di wilayah bekas Kerajaan Majapahit mengungkapkan banyak kejanggalan pada struktur candi dan arca yang tersisa. Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit tercermin dalam pola kerusakan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh faktor alam. Banyak arca ditemukan tanpa kepala, tanpa lengan, atau terpisah dari singgasananya, seolah sengaja dirusak.

Beberapa situs menunjukkan adanya penguburan arca secara teratur, yang diduga sebagai upaya menyelamatkan dari penghancuran atau penodaan. Di sisi lain, ada pula jejak pemotongan halus yang mengindikasikan pengambilan bagian tertentu untuk dipindahkan ke tempat lain, mungkin ke candi baru yang dianggap lebih sesuai dengan orientasi keagamaan saat itu. Semua ini mengarah pada kesimpulan bahwa arca tidak sekadar rusak oleh waktu, tetapi juga oleh tindakan sadar manusia.

Pembacaan Ulang Naskah Kuno dan Kabar Tersirat soal Konflik

Naskah kuno dari era Majapahit dan sesudahnya jarang secara eksplisit menggambarkan penghancuran arca. Namun, pembacaan ulang terhadap teks yang membahas perebutan kekuasaan, perubahan restu dewa, dan kutukan terhadap aliran tertentu, membuka peluang interpretasi bahwa konflik keagamaan memang terjadi. Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit sering disamarkan dalam bahasa simbolik, misalnya dengan menggambarkan dewa tertentu “menghilang” atau “marah”.

Dalam tradisi sastra Jawa, pergeseran dari satu keyakinan ke keyakinan lain kerap dituturkan lewat kisah tokoh yang mendapat wahyu baru atau kemenangan spiritual. Di balik kisah itu, perubahan nyata di lapangan mungkin melibatkan tindakan terhadap situs dan arca. Ketika satu aliran dinyatakan kalah secara spiritual, bisa jadi arca yang melambangkannya pun kehilangan status dan perlindungan sosial.

Arca yang Dipindahkan ke Museum dan Koleksi Pribadi

Selain hilang karena konflik dan perubahan agama, banyak arca Majapahit berpindah ke museum maupun koleksi pribadi, baik pada masa kolonial maupun sesudahnya. Proses pemindahan ini kadang menyelamatkan arca dari kehancuran total, tetapi juga memutusnya dari konteks aslinya. Candi yang dulu penuh arca kini tampak kosong, menyisakan pertanyaan bagi pengunjung mengenai apa yang hilang dari ruang sakral itu.

Dalam beberapa kasus, pemindahan arca dilakukan setelah ditemukan masyarakat di lokasi yang tak lagi dianggap suci. Namun, ada pula laporan bahwa arca diambil dari candi yang masih berdiri untuk kepentingan koleksi. Situasi ini menambah lapisan baru pada kisah hilangnya arca, di mana warisan konflik agama masa lalu bertemu dengan kepentingan ilmu pengetahuan dan pasar seni modern.

“Setiap arca yang berpindah dari candi ke rak museum membawa serta kisah panjang tentang keyakinan, penolakan, dan lupa yang menyelimutinya.”

Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit dan Ingatan Kolektif yang Terputus

Bagi masyarakat di sekitar situs peninggalan Majapahit, ingatan tentang Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit tidak selalu tersimpan secara runtut. Banyak cerita yang tinggal dalam bentuk legenda, mitos, atau larangan-larangan lokal yang samar. Arca yang ditemukan di sawah, misalnya, kadang dianggap membawa sial jika dipindah, atau justru diyakini sebagai penunggu wilayah.

Putusnya ingatan kolektif ini mempersulit upaya merekonstruksi secara utuh bagaimana perselisihan agama berpengaruh pada candi dan arca. Yang tersisa adalah kombinasi antara data arkeologis yang fragmentaris dan cerita lisan yang bercampur unsur kepercayaan baru. Namun, justru di titik inilah terlihat betapa dalamnya luka sejarah yang ditinggalkan konflik keagamaan, hingga jejaknya tampak kabur tetapi tetap terasa di bawah permukaan.

Upaya Rekonstruksi dan Tantangan Pelestarian Arca Candi

Upaya pelestarian candi dan arca peninggalan Majapahit kini berhadapan dengan tantangan ganda. Di satu sisi, ada kerusakan fisik yang merupakan warisan konflik dan pengabaian masa lalu. Di sisi lain, ada sensitivitas keagamaan masa kini yang masih bisa muncul ketika simbol lama diangkat kembali ke ruang publik. Arca yang dulunya menjadi pusat pemujaan kini dipandang sebagai artefak budaya, namun tidak semua pihak memandangnya dengan cara yang sama.

Para arkeolog dan sejarawan berusaha merekonstruksi posisi arca, memahami alur perusakan, serta menjelaskan kepada publik bahwa benda ini adalah saksi sejarah, bukan lagi objek pemujaan. Namun, bayang-bayang Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit dan perubahan keyakinan setelahnya membuat proses edukasi ini harus dilakukan dengan hati-hati, menghormati keyakinan masyarakat tanpa menghapus nilai historis yang terkandung pada arca.

Candi yang Kosong dan Pertanyaan yang Tak Terjawab

Berjalan di antara reruntuhan candi peninggalan Majapahit, pengunjung sering mendapati relung kosong tempat arca pernah berdiri. Kekosongan itu bukan hanya fisik, tetapi juga menandai kekosongan pengetahuan tentang apa yang benar-benar terjadi pada masa lalu. Apakah arca dihancurkan karena kebencian agama, dipindah untuk diselamatkan, atau hilang karena dicuri? Jawabannya jarang tunggal.

Perselisihan Agama Kerajaan Majapahit memberikan salah satu kunci untuk memahami kekosongan itu, namun bukan satu-satunya. Bencana alam, perubahan aliran sungai, aktivitas ekonomi, hingga penjarahan pada masa perang juga berperan. Meski demikian, sulit menafikan bahwa perbedaan keyakinan dan perebutan kuasa spiritual telah memberi kontribusi besar pada lenyapnya banyak arca yang dulu menjadi pusat ritual di candi candi Majapahit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *