Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya menjadi salah satu kisah menarik dalam sejarah hubungan internasional kuno di Asia. Di balik jalur rempah dan pelayaran samudra, terjalin jejaring keagamaan, kebudayaan, dan politik yang jauh lebih rumit dari sekadar jual beli barang. Di antara arus besar itu, para pendeta dan brahmana dari India Selatan datang ke Nusantara, termasuk ke Majapahit, membawa ajaran, teks suci, dan tradisi ritual yang kemudian ikut membentuk wajah peradaban di kepulauan ini.
Jejak Awal Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya di Samudra
Sebelum Majapahit berdiri, kawasan Nusantara telah lama berhubungan dengan India, terutama wilayah India Selatan yang meliputi kerajaan Chola, Chera, dan Dinasti Pandya. Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh di atas fondasi pelayaran dan perdagangan yang telah berlangsung berabad abad.
Para pelaut dari pantai Coromandel dan pesisir Tamil berlayar melintasi Teluk Benggala menuju Selat Malaka, Jawa, dan Bali. Kapal kapal dagang yang memuat beras, kain, logam, dan rempah sering kali turut mengangkut pendeta, brahmana, serta cendekiawan. Di titik inilah jalur dagang berubah menjadi jalur gagasan.
Catatan epigrafi di India Selatan dan Nusantara menunjukkan adanya komunitas pedagang Tamil yang menetap di pelabuhan pelabuhan Asia Tenggara. Mereka bukan hanya pedagang, tetapi juga perantara budaya yang menjembatani hubungan politik dan spiritual antara Majapahit dan Dinasti Pandya.
“Ketika kapal kapal dagang berlabuh, yang turun ke dermaga bukan hanya barang, tetapi juga ide dan keyakinan yang pelan pelan mengubah wajah sebuah negeri.”
Majapahit Mencari Legitimasi, Pandya Menawarkan Wibawa
Majapahit, yang berdiri pada akhir abad ke 13, muncul sebagai kekuatan baru setelah masa Singhasari. Untuk mengokohkan posisinya di antara kerajaan kerajaan lain di Asia, Majapahit membutuhkan legitimasi, baik di mata rakyatnya maupun di mata kerajaan asing. Di sinilah Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya memainkan peran penting.
Dinasti Pandya, yang berpusat di wilayah Tamil Nadu bagian selatan, dikenal sebagai pelindung tradisi Hindu, terutama aliran Shaiva dan Vaishnava. Reputasi mereka sebagai penjaga ortodoksi agama membuat nama Pandya disegani di kawasan Samudra Hindia. Bagi Majapahit, menjalin hubungan baik dengan Pandya berarti menautkan diri dengan sumber otoritas keagamaan yang diakui luas.
Sumber sumber sejarah memang tidak selalu menyebut secara gamblang perjanjian politik antara kedua kerajaan, namun pola hubungan kultural dan keagamaan yang tampak mengindikasikan saling pengakuan. Para brahmana dari India Selatan yang tiba di Jawa kerap disebut membawa silsilah dan otoritas ritual yang menguatkan klaim raja Majapahit sebagai penguasa sah yang diberkahi para dewa.
Jaringan Pelayaran yang Mengantar Para Pendeta ke Nusantara
Pelayaran menjadi urat nadi Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya. Jalur laut yang menghubungkan pesisir Tamil dengan Nusantara sudah ramai sejak awal milenium pertama. Dengan teknologi kapal yang terus berkembang, perjalanan antarbenua menjadi lebih pasti dan teratur.
Para pendeta dan brahmana biasanya menumpang kapal dagang milik komunitas Tamil atau pedagang campuran India Nusantara. Mereka membawa manuskrip berbahasa Sanskerta dan Tamil, peralatan ritual, serta kadang kala membawa rekomendasi dari istana Pandya untuk disampaikan kepada penguasa di seberang lautan.
Rute kapal umumnya berangkat dari pelabuhan di pantai Coromandel, menyeberangi Teluk Benggala, singgah di Sri Lanka atau Kepulauan Andaman, lalu menuju Selat Malaka. Dari sana, sebagian kapal terus ke utara menuju Semenanjung Melayu, sementara lainnya berbelok ke selatan menuju Jawa dan Bali. Di pelabuhan pelabuhan Majapahit inilah para pendeta dari India Selatan mulai menjejakkan kaki.
Mengapa Pendeta Pandya Tertarik ke Majapahit
Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya tidak hanya didorong oleh kebutuhan politik, tetapi juga oleh daya tarik spiritual dan intelektual yang dimiliki Majapahit sebagai pusat baru di timur. Ada beberapa faktor mengapa para pendeta dari lingkungan Pandya tertarik datang ke Nusantara.
Pertama, Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang kaya dan stabil, dengan patronase kuat terhadap kegiatan keagamaan. Dukungan istana terhadap pembangunan candi, pemeliharaan pura, dan kegiatan ritual menjanjikan posisi terhormat bagi pendeta asing yang diundang atau diterima di lingkungan kerajaan.
Kedua, adanya komunitas India Selatan di pelabuhan Nusantara menciptakan jaringan sosial yang memudahkan pendeta untuk menetap, mengajar, dan melakukan ritual. Mereka tidak datang ke tanah asing yang sepenuhnya baru, melainkan ke lingkungan yang sudah memiliki jejak budaya India.
Ketiga, dari sudut pandang spiritual, Nusantara dipandang sebagai wilayah yang potensial untuk penyebaran dan penguatan ajaran Hindu Buddha. Tradisi lokal yang terbuka terhadap sinkretisme membuat ajaran yang dibawa dari India dapat beradaptasi dan diterima tanpa perlawanan keras.
Peran Pendeta dalam Istana Majapahit
Setibanya di Majapahit, para pendeta dari lingkungan Dinasti Pandya tidak sekadar menjadi pemimpin ritual di pura pura, tetapi juga penasihat istana. Mereka terlibat dalam penetapan hari baik, penyusunan upacara kerajaan, hingga dalam proses penobatan raja.
Ritual penobatan raja atau rajasuya dan berbagai bentuk upacara kerajaan lain membutuhkan kehadiran brahmana yang diakui memiliki garis keilmuan sah dari pusat pusat keagamaan di India. Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya menyediakan jalur legitimasi itu. Dengan menghadirkan pendeta dari India Selatan, Majapahit menunjukkan bahwa kekuasaannya tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga sah secara religius.
Para pendeta ini juga berperan dalam menyebarkan teks teks keagamaan dan filsafat, baik dalam bahasa Sanskerta maupun Jawa Kuno. Mereka menjadi penghubung antara tradisi tulis India dan tradisi lokal, sehingga melahirkan karya karya sastra yang khas Jawa namun berakar India.
Bahasa, Sastra, dan Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya
Bahasa menjadi medium penting dalam Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya. Pendeta dan brahmana dari India Selatan membawa tradisi sastra Sanskerta yang kuat, sementara di lingkungan Pandya sendiri berkembang pula sastra berbahasa Tamil. Ketika mereka tiba di Majapahit, tradisi ini berinteraksi dengan bahasa Jawa Kuno.
Hasilnya dapat dilihat dalam berbagai karya sastra seperti kakawin dan kidung yang memadukan struktur dan kosakata Sanskerta dengan gaya dan imajinasi Jawa. Kisah kisah epik seperti Mahabharata dan Ramayana diadaptasi, diterjemahkan, dan diinterpretasi ulang sesuai kebutuhan lokal. Para pendeta berperan sebagai pengajar teks, sementara pujangga lokal menjadi penata ulang cerita.
Tulisan aksara juga mengalami pengayaan. Aksara India yang lebih tua memberi inspirasi pada bentuk aksara lokal yang kemudian berkembang menjadi berbagai varian di Jawa dan Bali. Keterhubungan dengan pusat keilmuan India Selatan membuat Majapahit tidak terputus dari arus pembaruan teks dan penafsiran.
Candi, Pura, dan Jejak Arsitektur India Selatan
Salah satu bukti visual Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya adalah jejak arsitektur dan ikonografi di candi dan pura. Meskipun gaya arsitektur Jawa memiliki kekhasan sendiri, pengaruh India Selatan terlihat pada bentuk menara, relief, dan ikon dewa dewi tertentu.
Beberapa candi di Jawa Timur menampilkan figur dewa dengan gaya yang mengingatkan pada pahatan di kuil kuil Tamil Nadu, terutama dalam penggambaran Shiva, Vishnu, dan Durga. Para pendeta dari India Selatan kemungkinan besar terlibat dalam penentuan ikonografi dan tata ruang sakral, meski pengerjaan teknis dilakukan oleh pemahat dan tukang lokal.
Di Bali, pengaruh India Selatan juga tampak dalam struktur pura dan ritual yang dijalankan. Meskipun perkembangan Bali pasca Majapahit memiliki dinamika tersendiri, akar hubungan dengan India Selatan melalui jalur Majapahit tidak dapat diabaikan.
Ritual, Upacara, dan Sinkretisme di Majapahit
Ritual ritual di Majapahit menunjukkan perpaduan unsur lokal dan India. Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya memberi ruang bagi pendeta India Selatan untuk memperkenalkan tata ritual yang mereka bawa, namun dalam praktiknya upacara itu berbaur dengan tradisi Nusantara yang telah ada sejak lama.
Upacara pemujaan dewa dewa Hindu dilakukan berdampingan dengan penghormatan kepada roh leluhur dan kekuatan lokal. Pendeta dari India Selatan menyesuaikan diri dengan realitas ini, sehingga lahir bentuk ritual yang tidak sepenuhnya sama dengan praktik di Tamil Nadu, tetapi tetap menjaga inti ajaran.
Dalam beberapa prasasti, disebutkan keberadaan brahmana yang bertugas di tempat tempat suci tertentu dengan hak istimewa dan tanah perdikan. Hal ini menunjukkan bahwa negara memberikan dukungan resmi terhadap komunitas pendeta, termasuk yang memiliki garis keilmuan dari India Selatan.
Diplomasi Sunyi di Balik Jalur Rempah
Di tengah hiruk pikuk perdagangan rempah, Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya berjalan seperti diplomasi sunyi. Tidak selalu tercatat dalam perjanjian politik, namun terasa dalam arus orang, gagasan, dan simbol yang bergerak melintasi laut.
Kehadiran pendeta dari India Selatan di Majapahit dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan timbal balik. Di satu sisi, Majapahit mengakui otoritas keilmuan dan spiritual yang berasal dari pusat pusat Hindu di India. Di sisi lain, Dinasti Pandya dan komunitas keagamaannya mengakui Majapahit sebagai mitra penting di timur yang layak dijangkau dan disapa.
Diplomasi seperti ini tidak selalu tampak dalam catatan kronik kerajaan, tetapi meninggalkan jejak kuat dalam budaya, bahasa, dan struktur keagamaan yang bertahan berabad abad.
Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya dalam Catatan dan Prasasti
Mencari bukti langsung Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya bukan perkara mudah. Sumber tertulis dari masa itu tersebar dan sering kali fragmentaris. Namun, sejumlah petunjuk dapat dirangkai dari prasasti, naskah, dan catatan asing.
Prasasti di India Selatan menyebut keberadaan komunitas pedagang dan brahmana yang beraktivitas di wilayah seberang laut, termasuk di “Tanah Jawa”. Sementara itu, di Nusantara, beberapa prasasti dan kakawin menyiratkan pengetahuan tentang India Selatan, baik dalam penyebutan nama wilayah maupun gaya bahasa yang khas.
Di luar itu, catatan pelancong asing seperti pengelana Tiongkok dan musafir dari dunia Islam sering kali menyebut adanya brahmana India di pelabuhan pelabuhan Asia Tenggara. Meskipun tidak selalu menyebut Pandya secara spesifik, pola migrasi ini sejalan dengan jaringan pelayaran yang menghubungkan wilayah Tamil dengan Nusantara.
Pengaruh Intelektual dan Filsafat India Selatan di Majapahit
Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya juga menyentuh ranah filsafat dan pemikiran keagamaan. Aliran filsafat yang berkembang di India Selatan, terutama terkait Shaiva Siddhanta dan berbagai tradisi bhakti, menemukan gaungnya di Nusantara.
Para pendeta yang datang membawa tradisi penafsiran teks yang matang, terutama terhadap Weda, Upanishad, dan Agama Shaiva. Di Majapahit, pemikiran ini berinteraksi dengan tradisi Buddha Mahayana yang telah lebih dulu mengakar, melahirkan sintesis unik yang tercermin dalam konsep Siwa Buddha.
Konsep Siwa Buddha, yang menempatkan Shiva dan Buddha dalam kesatuan metafisis, menjadi ciri khas pemikiran keagamaan Majapahit. Meskipun tidak semata mata berasal dari India Selatan, penguatan tradisi Shaiva yang dibawa pendeta Pandya berkontribusi pada keseimbangan unsur Hindu dan Buddha di lingkungan istana.
Peran Komunitas Tamil di Pelabuhan Majapahit
Selain pendeta, komunitas pedagang Tamil memainkan peran penting dalam menjaga Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya. Mereka menjadi jembatan sosial yang menghubungkan dunia India Selatan dengan kehidupan sehari hari di pelabuhan Nusantara.
Di lingkungan komunitas ini, pendeta dari India Selatan menemukan basis dukungan. Mereka memimpin ritual komunitas, mengajar bahasa dan teks keagamaan, serta menjadi penghubung dengan pihak istana ketika dibutuhkan. Hubungan antara pedagang dan pendeta sering kali bersifat simbiosis, di mana keberhasilan ekonomi komunitas memperkuat posisi sosial dan keagamaan mereka.
Keberadaan komunitas Tamil di beberapa titik strategis Nusantara juga membantu mempertahankan kesinambungan hubungan meski terjadi perubahan politik di tingkat kerajaan.
Dinamika Kekuasaan dan Lanjut Tidaknya Hubungan
Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya tidak berlangsung dalam ruang hampa. Di India Selatan, Dinasti Pandya mengalami pasang surut kekuasaan akibat tekanan dari kerajaan lain seperti Chola dan kemudian kekuatan baru yang muncul di kawasan itu. Di Nusantara sendiri, Majapahit menghadapi tantangan internal dan eksternal yang pada akhirnya melemahkan hegemoni mereka.
Meski demikian, hubungan kultural dan keagamaan cenderung lebih tahan lama dibanding aliansi politik. Ketika kekuasaan politik berubah, tradisi ritual, bahasa, dan sastra yang telah tertanam tetap hidup di kalangan masyarakat dan komunitas keagamaan.
Hal ini terlihat dari bertahannya tradisi Hindu di Bali dan jejak jejaknya di Jawa, yang meski mengalami islamisasi, tetap menyimpan lapisan budaya yang berakar pada masa Majapahit dan kontaknya dengan India Selatan.
Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya dan Warisan di Bali
Bali sering disebut sebagai salah satu pewaris paling jelas tradisi Majapahit. Di pulau ini, hubungan lama dengan India Selatan yang pernah terjalin melalui Majapahit menemukan bentuk baru dan berkelanjutan. Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya tercermin dalam praktik ritual, struktur pura, dan sistem kasta yang memiliki kemiripan dengan pola di India, meski telah mengalami lokaliasi.
Pendeta pendeta yang disebut sebagai sulinggih atau pandita di Bali menjalankan peran mirip brahmana di India, dengan adaptasi lokal yang kuat. Teks teks lontar berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masih digunakan, menunjukkan kesinambungan tradisi tulis yang dulu diperkuat oleh kehadiran pendeta dari India Selatan.
Dalam upacara besar, unsur unsur ritual yang mengingatkan pada tradisi Shaiva dan Vaishnava India Selatan masih dapat dikenali, meski telah dibalut dengan estetika dan simbolisme khas Bali.
Cara Sejarawan Menafsirkan Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya
Bagi sejarawan, Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya menjadi medan kajian yang menantang karena minimnya catatan langsung yang eksplisit. Banyak kesimpulan harus ditarik dari bukti tidak langsung seperti gaya arsitektur, pola bahasa, dan kesamaan ritual.
Sebagian peneliti menekankan pentingnya melihat hubungan ini sebagai bagian dari jaringan besar Samudra Hindia, di mana kerajaan kerajaan di Asia tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait melalui arus dagang dan agama. Dalam kerangka ini, Majapahit dan Dinasti Pandya adalah dua simpul penting yang saling memberi pengaruh.
Sebagian lain mengingatkan agar tidak berlebihan menafsirkan setiap kemiripan sebagai bukti hubungan langsung. Mereka menekankan perlunya kehati hatian dalam membaca data arkeologis dan filologis, serta pentingnya membedakan antara pengaruh umum India dengan pengaruh khusus India Selatan atau Pandya.
“Sejarah hubungan lintas samudra seringkali tersusun dari kepingan kecil yang tersebar. Tugas kita adalah merangkainya tanpa tergesa gesa mengisi celah dengan imajinasi semata.”
Relevansi Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya bagi Indonesia Kini
Di tengah upaya Indonesia memperkuat hubungan dengan India modern, memahami Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya memberi kedalaman historis pada kerja sama yang sedang dibangun. Hubungan kedua wilayah bukanlah sesuatu yang baru, melainkan kelanjutan dari jejaring panjang yang telah ada sejak berabad abad.
Kesadaran akan warisan ini dapat memperkaya cara pandang terhadap identitas Indonesia yang sejak awal terbentuk melalui pertemuan berbagai budaya. Majapahit dan Dinasti Pandya menunjukkan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga oleh pertukaran gagasan, keyakinan, dan pengetahuan.
Bagi dunia pendidikan dan kebudayaan, mengangkat kembali kisah ini dapat membuka ruang penelitian baru, baik di bidang sejarah, arkeologi, sastra, maupun studi agama. Pendekatan lintas disiplin diperlukan untuk menggali lebih jauh jejak pendeta, teks, dan tradisi yang menghubungkan Nusantara dengan India Selatan.
Menghidupkan Kembali Kajian Jalur Pendeta ke Nusantara
Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya menyoroti pentingnya jalur pendeta dan cendekiawan dalam pembentukan peradaban Nusantara. Selama ini, jalur rempah dan perdagangan sering kali lebih disorot, sementara jalur gagasan yang dibawa para pendeta belum sepenuhnya tergali.
Penelitian lanjutan terhadap prasasti, naskah kuno, serta perbandingan ritual antara Nusantara dan India Selatan dapat membantu mengungkap lebih jauh bagaimana hubungan ini bekerja pada tingkat sehari hari. Dengan demikian, gambaran tentang Majapahit tidak hanya berhenti pada kejayaan politik dan militernya, tetapi juga mencakup jaringan intelektual dan spiritual yang melingkupinya.
Melalui kajian yang lebih dalam, Persahabatan Majapahit Dinasti Pandya dapat dipahami bukan sekadar sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang Asia yang saling terhubung melalui laut, keyakinan, dan pencarian pengetahuan.






