Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama kembali menjadi sorotan pada 2026, ketika ribuan umat dan pengunjung umum memadati kompleks wihara di kawasan Jakarta Barat sejak pagi hingga malam hari. Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama tahun ini bukan hanya rangkaian ritual keagamaan, tetapi berkembang menjadi sebuah peristiwa budaya yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat, lintas usia dan lintas keyakinan, dalam suasana penuh warna dan keakraban.
Denyut Pagi di Wihara Menyambut Tahun Baru
Sejak sebelum matahari terbit, suasana di sekitar Wihara Ekayana Arama sudah terasa berbeda. Jalanan yang biasanya lengang berubah menjadi aliran kendaraan dan pejalan kaki yang datang dari berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya. Aroma dupa bercampur dengan wangi bunga segar menyambut setiap orang yang melangkah memasuki halaman wihara.
Di halaman utama, panitia sibuk menata stand informasi, pos kesehatan, serta area pembagian makanan vegetarian gratis. Para relawan mengenakan pakaian seragam bernuansa merah dan emas, warna yang identik dengan harapan dan keberuntungan. Di beberapa sudut, para petugas keamanan dan aparat kepolisian tampak berjaga, memastikan perayaan berlangsung tertib dan aman.
Suasana pagi di wihara pada hari Imlek selalu menyuguhkan kombinasi unik antara kekhusyukan dan keriuhan. Di satu sisi, terdengar lantunan paritta dan doa dari dalam ruang utama, sementara di sisi lain, suara tawa anak anak yang bermain di halaman menambah kehidupan pada perayaan ini. Keluarga keluarga datang berkelompok, membawa orang tua dan anak anak, menjadikan hari ini sebagai momen kebersamaan yang tidak ingin mereka lewatkan.
Rangkaian Ritual Utama Mengawali Tahun Baru
Perayaan Imlek di Wihara Ekayana Arama selalu diawali dengan rangkaian ritual yang tertata rapi. Tahun 2026 tidak berbeda, namun terasa lebih semarak karena jumlah peserta yang membludak dibanding tahun tahun sebelumnya.
Puja Pagi di Tengah Ramai Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama
Pada pukul enam pagi, lonceng besar di wihara dibunyikan beberapa kali sebagai tanda dimulainya puja pagi. Di dalam ruang utama, ratusan umat duduk bersila dengan rapi, sebagian mengenakan pakaian tradisional Tionghoa, sebagian lagi berpakaian sederhana serba putih. Di depan altar utama, deretan lilin merah besar menyala, memantulkan cahaya lembut pada patung Buddha dan rupang rupang Bodhisattva.
Puja pagi dalam rangka Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama ini dipimpin oleh para bhikkhu dan bhiksuni yang berdiri di barisan depan. Lantunan paritta dalam bahasa Pali dan sutra dalam bahasa Mandarin menggema melalui pengeras suara, menciptakan suasana yang khidmat meski di luar ruangan sudah mulai ramai oleh pengunjung.
Umat yang hadir memanjatkan doa untuk kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan keluarga, namun juga tidak sedikit yang berdoa untuk kedamaian bangsa dan dunia. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, doa doa semacam ini terasa semakin relevan. Setiap kali sesi pembacaan doa selesai, suasana hening beberapa detik, seolah memberi ruang bagi setiap orang untuk merenungkan harapan pribadinya.
“Ketika ratusan orang duduk diam dalam satu ruangan dan bernapas dalam ritme yang sama, perbedaan latar belakang seolah larut, yang tersisa hanyalah rasa bahwa kita semua saling terhubung.”
Persembahan Lilin dan Bunga Sebagai Simbol Harapan
Usai puja pagi, umat diarahkan untuk melakukan persembahan lilin dan bunga. Di pelataran luar, meja meja panjang telah disiapkan dengan barisan lilin kecil berwarna merah dan kuning. Setiap lilin diberi label kecil tempat menuliskan nama dan permohonan singkat.
Anak anak tampak antusias ketika diminta menyalakan lilin bersama orang tua mereka. Beberapa orang tua menjelaskan makna sederhana di balik tindakan menyalakan lilin, bahwa cahaya kecil itu melambangkan pencerahan batin dan tekad untuk menjalani tahun baru dengan lebih baik. Di sisi lain, barisan vas kaca berisi bunga segar menjadi simbol keindahan dan ketidakkekalan, mengingatkan bahwa segala sesuatu akan berubah dan tidak selamanya bertahan.
Ritual persembahan ini berlangsung hampir dua jam, mengingat panjangnya antrian umat dan pengunjung. Namun tidak ada keluhan berarti, karena suasana tertib dan teratur. Petugas wihara sigap mengarahkan alur antrian, sementara relawan membagikan air mineral kepada mereka yang menunggu.
Pertunjukan Barongsai dan Naga, Pusat Perhatian Pengunjung
Jika pagi hari diwarnai kekhusyukan, maka menjelang siang perayaan beralih pada suasana yang lebih riuh. Di area parkir yang telah disulap menjadi panggung terbuka, masyarakat sudah berkumpul menantikan pertunjukan barongsai dan naga yang menjadi ikon setiap Imlek.
Barongsai Menghampiri Altar di Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama
Tepat pukul sebelas siang, suara tabuhan tambur dan simbal menggelegar, menandai dimulainya atraksi barongsai. Dua pasang barongsai dengan warna merah dan kuning keemasan muncul dari sisi panggung, bergerak lincah mengikuti irama musik. Penonton yang semula duduk langsung berdiri, mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
Pertunjukan kali ini tidak sekadar hiburan. Dalam tradisi Tionghoa, barongsai dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir energi negatif. Di Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama, barongsai terlebih dahulu menghampiri altar khusus yang telah disiapkan di area panggung. Di atas altar itu, tersusun buah buahan, kue keranjang, serta amplop merah yang melambangkan rezeki.
Barongsai “mencicipi” persembahan dengan gerakan lucu, membuat anak anak tertawa. Namun setelah itu, gerakannya berubah lebih anggun ketika melakukan penghormatan tiga kali ke arah altar. Adegan ini disambut tepuk tangan panjang, karena dianggap sebagai simbol bahwa berkah dan keberuntungan telah “dibangunkan” untuk menyertai tahun yang baru.
Tarian Naga Mengelilingi Kompleks Wihara
Setelah barongsai, giliran tarian naga mengambil alih perhatian. Seekor naga panjang dengan tubuh berwarna hijau dan emas muncul dari sisi lain kompleks, diusung oleh belasan penari yang bergerak kompak. Naga ini tidak hanya menari di panggung, tetapi juga mengelilingi kompleks wihara, melewati area pintu masuk, halaman utama, hingga mendekati ruang puja.
Rute tarian naga ini bukan tanpa alasan. Panitia menjelaskan bahwa gerakan naga yang mengelilingi kompleks wihara melambangkan doa agar seluruh penjuru tempat ini dipenuhi energi baik. Pengunjung berusaha berdiri di sisi sisi jalur yang dilalui naga, berharap dapat “tersentuh” keberuntungan yang dibawanya.
Di beberapa titik, penari naga berhenti sejenak untuk melakukan gerakan khusus, seperti meliuk melingkar atau menunduk ke arah penonton. Suasana menjadi sangat meriah, dengan sorak sorai penonton bercampur suara alat musik tradisional yang tak henti ditabuh. Meski panas matahari cukup terik, antusiasme penonton tidak surut hingga pertunjukan usai.
Kuliner Vegetarian dan Pasar Mini di Halaman Wihara
Perayaan Imlek di Wihara Ekayana Arama tidak hanya berpusat pada ritual dan pertunjukan seni. Satu hal yang selalu dinanti oleh umat dan pengunjung adalah deretan stand kuliner vegetarian yang berjajar di halaman belakang wihara. Tahun 2026, jumlah stand meningkat signifikan, menandakan tingginya minat pelaku usaha kuliner untuk turut serta.
Ragam Hidangan di Tengah Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama
Di area kuliner, pengunjung dapat menemukan berbagai hidangan vegetarian khas Tionghoa dan Nusantara. Mulai dari bakso jamur, siomay tanpa daging, kwetiau goreng sayuran, hingga sate jamur dan rendang nabati. Tidak ketinggalan aneka kue tradisional seperti kue keranjang, onde onde, kue lapis, dan kue mochi yang disajikan dalam kemasan menarik.
Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama memang mendorong pola makan tanpa kekerasan terhadap makhluk hidup, sejalan dengan ajaran welas asih dalam Buddhisme. Meski tanpa daging, cita rasa makanan yang disajikan tidak kalah menggugah selera. Banyak pengunjung yang mengaku terkejut karena beberapa hidangan nabati terasa sangat mirip dengan versi non vegetarian.
Di sudut lain, tersedia minuman segar seperti wedang jahe, teh bunga krisan, dan jus buah segar. Panitia juga menyediakan area makan bersama dengan meja dan kursi panjang, sehingga pengunjung dapat menikmati makanan sambil bercengkerama dengan keluarga atau teman.
Stand Kerajinan, Buku, dan Souvenir Religius
Selain kuliner, terdapat pula stand yang menjual berbagai kerajinan tangan, aksesori, dan buku buku Buddhis. Beberapa stand menawarkan patung kecil Buddha dan Bodhisattva, gelang tasbih, serta lukisan kaligrafi berisi pesan pesan kebajikan dalam huruf Mandarin dan Indonesia.
Buku buku yang dijual mencakup tema ajaran dasar Buddhisme, meditasi, hingga kisah kisah inspiratif tentang praktik welas asih. Pengunjung dapat berkonsultasi langsung dengan penjaga stand, yang sebagian besar adalah relawan wihara, untuk mendapatkan rekomendasi bacaan sesuai kebutuhan mereka.
Area ini juga menjadi tempat banyak orang mencari oleh oleh untuk dibawa pulang. Souvenir kecil seperti gantungan kunci berbentuk barongsai, amplop angpao bergambar Buddha, dan stiker bertema kebajikan menjadi pilihan favorit, terutama bagi anak anak dan remaja.
“Di tengah hiruk pikuk perayaan, stand buku dan kerajinan ini terasa seperti ruang jeda, mengingatkan bahwa Imlek bukan hanya soal keberuntungan materi, tetapi juga kesempatan memperkaya batin.”
Suasana Toleransi dan Kebersamaan yang Terasa Nyata
Salah satu hal yang menonjol dari perayaan di Wihara Ekayana Arama adalah suasana kebersamaan lintas agama dan budaya. Di antara kerumunan pengunjung, tampak jelas bahwa tidak semua yang hadir adalah umat Buddha atau keturunan Tionghoa. Banyak warga sekitar dan pengunjung umum datang hanya untuk menikmati suasana dan belajar tentang tradisi Imlek.
Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama Sebagai Ruang Bertemu Beragam Kalangan
Panitia perayaan menyambut semua pengunjung tanpa membedakan latar belakang. Papan informasi yang dipasang di beberapa titik menjelaskan secara singkat makna ritual dan simbol simbol yang digunakan, sehingga mereka yang baru pertama kali datang tidak merasa asing. Relawan yang berjaga di pintu masuk dengan ramah menjawab pertanyaan pengunjung, mulai dari soal jadwal acara hingga aturan berpakaian saat memasuki ruang puja.
Di area kuliner dan panggung pertunjukan, suasana pergaulan tampak cair. Anak anak dari berbagai latar belakang bermain bersama, sementara orang dewasa saling berbagi tempat duduk dan berbincang ringan. Beberapa sekolah dan komunitas lintas iman juga tampak mengirimkan perwakilan untuk mengamati dan mendokumentasikan perayaan ini sebagai bagian dari program pendidikan keberagaman.
Kehadiran aparat keamanan dan tokoh masyarakat dari berbagai agama memperkuat pesan bahwa perayaan Imlek di wihara ini bukan milik satu kelompok saja, melainkan bagian dari kekayaan budaya bersama. Hal ini selaras dengan semangat hidup berdampingan yang sudah lama diupayakan oleh pengelola wihara.
Peran Relawan dalam Menghidupkan Perayaan
Di balik kemeriahan yang terlihat di permukaan, ada kerja panjang para relawan yang mempersiapkan perayaan ini jauh hari sebelumnya. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga.
Koordinasi Relawan Menyukseskan Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama
Pembagian tugas relawan di Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama cukup rinci. Ada tim yang bertugas di area parkir, tim kebersihan, tim konsumsi, tim informasi, hingga tim kesehatan. Sebagian relawan juga ditempatkan di dalam ruang puja untuk membantu mengatur alur umat yang ingin melakukan persembahan dan berdoa.
Sebelum hari H, para relawan mengikuti beberapa kali sesi briefing dan pelatihan singkat. Mereka diajarkan cara berkomunikasi dengan pengunjung, penanganan situasi darurat, serta pemahaman dasar mengenai alur ritual agar dapat memberikan informasi dengan tepat. Pada hari perayaan, mereka sudah berada di lokasi sejak dini hari untuk memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana.
Meski lelah, para relawan mengaku mendapatkan pengalaman berharga. Bagi banyak dari mereka, terlibat langsung dalam perayaan ini menjadi cara untuk mempraktikkan ajaran tentang pelayanan dan kepedulian pada sesama dalam bentuk nyata.
Layanan Kesehatan dan Posko Informasi
Di salah satu sudut halaman, sebuah tenda putih besar difungsikan sebagai posko kesehatan. Tenaga medis dari klinik sekitar dan relawan paramedis berjaga dengan peralatan sederhana namun memadai untuk penanganan awal. Mengingat kerumunan yang besar dan cuaca yang bisa berubah sewaktu waktu, keberadaan posko kesehatan menjadi hal yang sangat penting.
Posko ini menangani keluhan ringan seperti pusing, kelelahan, atau tekanan darah yang naik. Pengunjung yang membutuhkan obat dasar bisa mendapatkannya secara gratis. Di samping posko kesehatan, terdapat posko informasi yang dilengkapi papan pengumuman berisi jadwal acara lengkap, denah lokasi, serta nomor kontak penting.
Kehadiran dua posko ini membantu menjaga kelancaran perayaan, sekaligus memberi rasa aman bagi pengunjung yang datang bersama keluarga, terutama yang membawa anak kecil atau orang tua lanjut usia.
Sorotan Malam Hari, Puncak Perayaan yang Dinanti
Jika pagi hingga sore hari dipenuhi rangkaian ritual dan pertunjukan seni, maka malam hari menjadi puncak yang paling dinanti. Lampu lampion yang sejak siang digantung di berbagai sudut wihara mulai menyala, menciptakan pemandangan yang menawan.
Kilau Lampion dan Doa Malam di Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama
Menjelang pukul tujuh malam, halaman wihara kembali dipadati umat dan pengunjung. Lampion merah bergantungan di atas kepala, memantulkan cahaya lembut ke wajah wajah yang menengadah kagum. Di beberapa titik, panitia menyiapkan spot foto dengan latar belakang dekorasi khas Imlek, menjadi magnet bagi kaum muda untuk mengabadikan momen.
Acara malam diawali dengan puja singkat yang dipimpin oleh para bhikkhu, kali ini dengan penekanan pada rasa syukur atas tahun yang telah berlalu dan tekad untuk menjalani tahun baru dengan penuh kebajikan. Umat diajak untuk beberapa menit bermeditasi dalam keheningan, meski di luar ruangan suara keramaian masih terdengar.
Setelah puja, dilakukan sesi penyalaan lilin bersama. Setiap orang memegang satu lilin kecil, dan ketika aba aba diberikan, ribuan lilin itu dinyalakan hampir bersamaan. Pemandangan lautan cahaya kecil yang berkelip di tengah malam memberikan kesan mendalam, seolah menegaskan bahwa harapan dan tekad baik selalu bisa bersinar, meski dalam kegelapan.
Di sela sela acara, terdengar pembacaan pesan pesan kebajikan yang dikutip dari berbagai kitab dan tokoh spiritual. Pesan tersebut mengingatkan pentingnya welas asih, kejujuran, dan kesederhanaan sebagai bekal melangkah ke tahun yang baru.
Kesan Pengunjung dan Harapan untuk Tahun Berikutnya
Setiap orang yang datang ke Wihara Ekayana Arama pada perayaan Imlek 2026 membawa pulang kesan yang berbeda. Bagi sebagian umat, momen ini adalah kesempatan memperbarui komitmen spiritual. Bagi pengunjung umum, ini menjadi pengalaman menyelami tradisi yang mungkin sebelumnya hanya mereka lihat sekilas di media.
Banyak keluarga yang mengaku menjadikan kunjungan ke wihara sebagai agenda tahunan, bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk mengajarkan anak anak tentang nilai nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Anak anak yang awalnya datang demi menyaksikan barongsai dan mencicipi kue keranjang, perlahan mulai akrab dengan suasana wihara dan ajaran ajaran sederhana tentang kebaikan.
Pelaku usaha kuliner dan kerajinan yang membuka stand juga merasakan manfaat, baik secara ekonomi maupun sosial. Mereka dapat memperkenalkan produk berbasis vegetarian dan kerajinan bernuansa spiritual kepada publik yang lebih luas, sekaligus terlibat dalam kegiatan yang bernilai positif.
Perayaan Imlek Wihara Ekayana Arama 2026 menunjukkan bahwa sebuah tempat ibadah dapat berfungsi sebagai ruang perjumpaan yang hangat, tempat orang datang bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk belajar, berbagi, dan merayakan kehidupan bersama. Di tengah kota yang kerap disibukkan oleh hiruk pikuk dan persaingan, hari hari seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan kepedulian masih punya tempat yang kuat di hati banyak orang.






