Kisah Pilu Mpu Prapanca selalu memikat perhatian siapa pun yang menelusuri sejarah Majapahit. Di balik namanya yang diabadikan sebagai penulis kitab Negarakertagama, tersembunyi cerita getir tentang seorang pujangga istana yang terseret intrik politik, difitnah, lalu terbuang dari lingkar kekuasaan yang dahulu sangat ia muliakan. Sosok yang seharusnya dikenang sebagai saksi kejayaan Majapahit justru menyimpan luka batin yang panjang, antara kesetiaan, pengabdian, dan pengkhianatan yang datang dari orang dekat.
Jejak Awal Kisah Pilu Mpu Prapanca di Lingkar Istana
Sebelum menjadi tokoh penting dalam Kisah Pilu Mpu Prapanca, ia terlebih dahulu dikenal sebagai seorang pejabat keagamaan dan pujangga di lingkungan istana Majapahit. Namanya tercatat dalam Negarakertagama sebagai mantan Dharmadyaksa Kasogatan, yaitu pejabat tinggi yang mengurusi urusan agama Buddha aliran tertentu di lingkungan kerajaan. Posisi ini bukan jabatan biasa, melainkan kursi yang menandakan kepercayaan besar dari raja dan para pejabat tinggi.
Sebagai pujangga istana, Mpu Prapanca hidup di tengah hiruk pikuk pusat kerajaan yang dipenuhi para pejabat, pendeta, bangsawan, dan utusan dari berbagai daerah. Istana Majapahit pada masa itu bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat kebudayaan dan pengetahuan. Di sanalah sastra, hukum, agama, dan politik saling bertaut, menciptakan atmosfer intelektual yang kaya sekaligus penuh persaingan.
Dalam situasi seperti itu, kedudukan seorang pujangga istana tidak pernah benar benar aman. Ia berada di antara kepentingan raja, kepentingan para pejabat, dan kepentingan kelompok keagamaan yang kadang saling bertentangan. Mpu Prapanca yang dikenal tekun dan cermat dalam mencatat perjalanan kerajaan, pada akhirnya ikut terseret dalam arus besar konflik yang tidak ia ciptakan sendiri.
“Seorang penulis sejarah di istana selalu berjalan di tepi jurang, satu kalimat bisa menyelamatkan kejayaan, satu kalimat lain bisa mengundang kehancuran bagi dirinya sendiri.”
Latar Sejarah Majapahit dalam Kisah Pilu Mpu Prapanca
Untuk memahami Kisah Pilu Mpu Prapanca, perlu melihat latar sejarah Majapahit pada masa ia hidup. Mpu Prapanca menulis Negarakertagama sekitar tahun 1365 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Periode ini sering disebut sebagai puncak kejayaan Majapahit, terutama setelah penaklukan berbagai wilayah di Nusantara di bawah kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada.
Namun di balik kejayaan itu, Majapahit juga menyimpan berbagai ketegangan. Perebutan pengaruh di antara pejabat tinggi, pertentangan antar kelompok agama, dan sisa sisa konflik dari masa sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari hari di istana. Kejayaan politik tidak selalu berarti ketenangan di dalam tubuh pemerintahan.
Majapahit adalah kerajaan yang multikultural. Di sana hidup berdampingan berbagai aliran keagamaan, seperti Siwa, Buddha, dan kepercayaan lokal. Masing masing memiliki lembaga, pejabat, dan jaringan kekuasaan sendiri. Posisi Dharmadyaksa Kasogatan yang pernah dijabat Mpu Prapanca menempatkannya pada titik yang sangat sensitif, karena ia menjadi penghubung antara istana dan kelompok keagamaan tertentu.
Situasi politik yang rumit ini menciptakan ruang subur bagi fitnah. Dalam kondisi di mana laporan, catatan, dan pujian tertulis dapat memengaruhi persepsi raja, seorang pujangga seperti Mpu Prapanca dengan mudah dijadikan sasaran. Ketika satu faksi merasa terancam oleh kedekatan seorang pejabat dengan raja, jalan tercepat untuk menyingkirkannya adalah dengan menjatuhkan nama baiknya.
Posisi Dharmadyaksa dan Awal Kisah Pilu Mpu Prapanca
Jabatan Dharmadyaksa Kasogatan yang dipegang Mpu Prapanca adalah titik awal penting dalam Kisah Pilu Mpu Prapanca. Dharmadyaksa merupakan pejabat tinggi keagamaan yang memiliki otoritas atas urusan keagamaan, lembaga keagamaan, hingga hubungan dengan komunitas rohaniawan. Dalam struktur Majapahit, jabatan ini tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan politik.
Sebagai Dharmadyaksa Kasogatan, Mpu Prapanca berada dalam posisi yang membuatnya sering bersentuhan dengan kebijakan istana. Ia mungkin terlibat dalam penataan ulang lembaga keagamaan, penentuan status vihara, atau pengelolaan dana dan tanah yang terkait institusi agama. Kekuasaan seperti ini sering kali menimbulkan kecemburuan, baik dari pejabat lain maupun dari kelompok keagamaan yang merasa tersisih.
Dalam Negarakertagama, Mpu Prapanca menyebut dirinya sebagai mantan Dharmadyaksa. Ini menandakan bahwa pada saat ia menulis karya tersebut, ia sudah tidak lagi menjabat. Perubahan status ini menjadi pintu masuk untuk membaca kemungkinan bahwa ia tersingkir dari jabatan karena konflik yang terjadi di balik layar. Peralihan dari pejabat tinggi keagamaan menjadi pujangga yang menulis dari kejauhan menyimpan cerita getir yang tidak pernah ia ungkap secara gamblang.
Perubahan status itu juga memberi gambaran bahwa kehidupan istana Majapahit tidak stabil bagi siapa pun yang sedang berada di puncak kekuasaan. Hari ini seseorang dapat dihormati sebagai pejabat tinggi, besok ia bisa kehilangan jabatan karena intrik atau fitnah yang sulit dibantah. Di tengah suasana seperti itu, Mpu Prapanca menjadi salah satu korban.
Fitnah dan Intrik Gelap di Balik Kisah Pilu Mpu Prapanca
Kisah Pilu Mpu Prapanca tidak bisa dilepaskan dari tradisi fitnah dan intrik di lingkungan istana. Dalam banyak kerajaan, termasuk Majapahit, persaingan antar pejabat sering kali berujung pada usaha menghilangkan lawan politik melalui tuduhan yang tidak selalu dapat dibuktikan kebenarannya. Fitnah menjadi senjata halus yang bekerja dalam bisik bisik, laporan rahasia, dan dokumen yang disusun rapi.
Dalam kasus Mpu Prapanca, para sejarawan mencoba membaca jejak fitnah itu melalui teks Negarakertagama dan konteks sejarah sekitarnya. Ia menulis dengan sangat detail tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk, struktur pemerintahan, wilayah kekuasaan, dan kehidupan keagamaan. Namun, hampir tidak ada bagian yang secara langsung menjelaskan kejatuhan dirinya. Justru dari keheningan itulah dugaan fitnah menguat.
Ada kemungkinan bahwa Mpu Prapanca difitnah terkait pengelolaan lembaga keagamaan atau kedekatannya dengan kelompok tertentu yang dianggap berseberangan dengan faksi kuat di istana. Fitnah bisa berupa tuduhan penyalahgunaan wewenang, ketidaksetiaan, atau bahkan penyimpangan ajaran. Dalam situasi di mana raja harus menjaga keseimbangan kekuasaan, satu tuduhan yang terkesan logis bisa cukup untuk menyingkirkan seorang pejabat.
Fitnah yang menimpa Mpu Prapanca tidak hanya menjatuhkan jabatannya, tetapi juga mengubah seluruh alur hidupnya. Dari seorang pejabat yang berada di pusat kekuasaan, ia berubah menjadi sosok yang menulis dari pinggiran, jauh dari hiruk pikuk istana yang dulu sangat ia kenal. Luka batin akibat pengkhianatan dan ketidakadilan itu kemudian tercermin secara halus dalam cara ia menggambarkan Majapahit, penuh pujian namun menyimpan nada sendu yang samar.
Terbuangnya Seorang Pujangga dalam Kisah Pilu Mpu Prapanca
Terbuangnya Mpu Prapanca dari lingkar kekuasaan menjadi inti emosional dalam Kisah Pilu Mpu Prapanca. Terbuang di sini bukan sekadar kehilangan jabatan, tetapi juga kehilangan posisi sosial, jaringan, dan rasa memiliki terhadap istana yang selama ini menjadi pusat hidupnya. Bagi seorang pujangga istana, jarak dari pusat kekuasaan berarti juga jarak dari sumber inspirasi dan kebanggaan.
Dalam Negarakertagama, ada kesan kuat bahwa Mpu Prapanca menulis dari suatu tempat yang tidak lagi berada di jantung istana. Ia menggambarkan perjalanan keliling kerajaan, memuji raja, dan mengabadikan struktur kekuasaan dengan sangat rinci, seakan berusaha menegaskan bahwa meski ia tidak lagi di dalam lingkar kekuasaan, ia masih memegang pengetahuan yang sangat berharga tentang Majapahit. Pengetahuan itu menjadi satu satunya kekuatan yang masih ia miliki.
Terbuangnya seorang pujangga seperti Mpu Prapanca juga mengandung ironi. Di satu sisi, ia adalah sosok yang mengabadikan kejayaan Majapahit dalam bentuk tulisan yang kelak menjadi sumber utama bagi generasi berikutnya. Di sisi lain, ia sendiri tidak menikmati pengakuan penuh di masa hidupnya, karena bayang bayang fitnah telah lebih dulu menutup namanya di mata sebagian kalangan istana.
Ada kemungkinan bahwa pengasingan sosial ini justru memberi ruang bagi Mpu Prapanca untuk menulis dengan lebih leluasa. Jarak dari pusat kekuasaan membuatnya dapat melihat kerajaan dengan pandangan yang lebih luas, tidak sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai pengamat yang menyadari rapuhnya kekuasaan manusia. Dari keterbuangan itulah lahir karya besar yang menjadi warisan abadi.
“Sering kali, sejarah paling jujur justru ditulis oleh mereka yang disingkirkan dari panggung utama, karena hanya dari pinggiran seseorang bisa melihat seluruh panggung tanpa tertutup tirai kepentingan.”
Negarakertagama sebagai Cermin Terselubung Kisah Pilu Mpu Prapanca
Negarakertagama sering dibaca sebagai pujian agung kepada Raja Hayam Wuruk dan kejayaan Majapahit, namun di dalamnya juga terselip bayangan Kisah Pilu Mpu Prapanca. Karya ini disusun dalam bentuk kakawin dengan bahasa Jawa Kuno yang halus, penuh simbol dan rujukan keagamaan. Di balik struktur pujian itu, ada jejak emosional seorang penulis yang tengah menata ulang hubungannya dengan kerajaan yang ia cintai.
Dalam beberapa bagian, Mpu Prapanca menyebut dirinya secara singkat, menunjukkan posisinya sebagai mantan pejabat keagamaan dan sekaligus pujangga. Cara ia menyebut dirinya dengan nada rendah hati, bahkan cenderung merendah, bisa dibaca sebagai refleksi dari posisi sosialnya yang telah berubah. Ia tidak lagi berbicara sebagai pejabat tinggi, tetapi sebagai pelayan ilmu yang mengabdi melalui tulisan.
Negarakertagama juga mencerminkan upaya Mpu Prapanca untuk menempatkan kembali dirinya dalam sejarah. Dengan mengabadikan struktur pemerintahan, daerah kekuasaan, dan perjalanan raja, ia seakan berkata bahwa meski dirinya terbuang, pengetahuannya tentang Majapahit tidak dapat dihapus. Ia mengikat dirinya pada sejarah melalui karya, bukan lagi melalui jabatan.
Bagi pembaca masa kini, Negarakertagama bukan hanya sumber informasi tentang Majapahit, tetapi juga jendela untuk memahami pergulatan batin seorang pujangga yang terluka. Pujiannya kepada raja bisa dibaca sebagai bentuk kesetiaan yang tetap ia pegang, meski istana telah menjauhkannya. Di situlah letak kegetiran yang membuat Kisah Pilu Mpu Prapanca terasa sangat manusiawi.
Konflik Batin dan Kesetiaan dalam Kisah Pilu Mpu Prapanca
Salah satu sisi paling menyentuh dari Kisah Pilu Mpu Prapanca adalah konflik batin antara rasa sakit karena difitnah dan rasa setia kepada kerajaan. Meski telah terbuang, ia tidak menumpahkan kemarahan secara langsung dalam tulisannya. Ia tetap menempatkan raja sebagai figur utama yang diagungkan, seolah memisahkan antara pribadi pribadi yang menyakitinya dengan institusi kerajaan yang ia hormati.
Konflik batin ini terlihat dalam cara ia menyusun narasi Negarakertagama. Ia menekankan harmoni, keteraturan, dan keagungan Majapahit, seakan ingin menegaskan bahwa di atas segala intrik kecil, ada cita cita besar yang harus tetap dijaga. Di satu sisi, ini bisa dibaca sebagai bentuk idealisme, di sisi lain sebagai cara untuk menghibur dirinya sendiri, bahwa pengorbanannya tidak sia sia.
Kesetiaan Mpu Prapanca kepada Majapahit juga tercermin dari ketekunannya dalam mencatat detail detail yang mungkin dianggap sepele. Ia menuliskan urutan pejabat, struktur pemerintahan, hingga perjalanan raja ke berbagai daerah. Semua itu menunjukkan bahwa ia masih merasa bertanggung jawab untuk memastikan gambaran tentang Majapahit tersampaikan dengan baik kepada generasi mendatang.
Konflik antara luka pribadi dan kesetiaan terhadap kerajaan menjadikan sosok Mpu Prapanca lebih dari sekadar penulis istana. Ia menjadi contoh bagaimana seseorang bisa tetap memegang prinsip pengabdian, meski diperlakukan tidak adil oleh sistem yang ia layani. Di situlah letak kepiluan yang membuat kisahnya relevan hingga kini.
Majapahit, Kekuasaan, dan Bayang Bayang Ketidakadilan
Kisah Pilu Mpu Prapanca juga membuka sisi lain tentang Majapahit sebagai kerajaan besar yang tidak luput dari ketidakadilan. Di tengah catatan kejayaan, ekspansi wilayah, dan kemakmuran, ada individu individu yang menjadi korban permainan kekuasaan. Mpu Prapanca adalah salah satu wajah dari mereka yang tersapu oleh arus besar kebijakan dan intrik yang tidak bisa ia kendalikan.
Kekuasaan besar seperti Majapahit memerlukan stabilitas politik, dan untuk menjaga stabilitas itu, penguasa sering kali harus mengambil keputusan keras, termasuk menyingkirkan orang orang yang dianggap mengganggu keseimbangan. Dalam proses ini, kebenaran personal kerap dikorbankan demi kepentingan yang dianggap lebih besar. Fitnah yang menimpa Mpu Prapanca mungkin hanya satu dari sekian banyak kasus serupa.
Namun, berbeda dengan banyak korban lain yang namanya hilang ditelan waktu, Mpu Prapanca meninggalkan jejak kuat melalui tulisannya. Inilah ironi sejarah: yang berkuasa mungkin mengira telah menyingkirkannya, tetapi lewat Negarakertagama, justru nama Mpu Prapanca yang bertahan kuat dalam ingatan kolektif. Sementara banyak pejabat lain hanya tinggal sebagai nama dalam daftar, ia hadir sebagai suara yang hidup dalam teks.
Kisah ini mengingatkan bahwa di balik kemegahan sebuah kerajaan, selalu ada cerita individu yang memikul beban keputusan politik. Sejarah resmi sering kali menonjolkan kemenangan dan kejayaan, tetapi di sela sela barisnya, ada air mata orang orang yang tersisihkan. Kisah Pilu Mpu Prapanca adalah salah satu di antara air mata yang berhasil menembus permukaan catatan sejarah.
Warisan Kisah Pilu Mpu Prapanca bagi Pembaca Masa Kini
Membaca Kisah Pilu Mpu Prapanca pada masa kini bukan sekadar mengenang sosok pujangga Majapahit, tetapi juga belajar tentang hubungan antara kekuasaan, pengetahuan, dan manusia. Mpu Prapanca menunjukkan bahwa seorang penulis bisa menjadi saksi penting sebuah zaman, sekaligus korban dari zaman itu sendiri. Ia berada di persimpangan antara pengabdian dan penderitaan, antara kehormatan dan pengasingan.
Bagi pembaca modern, kisah ini mengajarkan pentingnya membaca sejarah tidak hanya dari sudut pandang penguasa, tetapi juga dari sudut pandang mereka yang disingkirkan. Negarakertagama bukan hanya karya sastra kerajaan, melainkan juga testimoni diam tentang perjalanan seorang pujangga yang mencoba tetap setia pada kebenaran versinya, meski ia harus membayar mahal.
Kisah Pilu Mpu Prapanca juga menegaskan bahwa tulisan memiliki daya tahan yang melampaui kekuasaan politik. Jabatan bisa dicabut, nama bisa dicemarkan, tetapi karya yang ditulis dengan ketekunan dan kejujuran batin akan menemukan jalannya sendiri untuk bertahan. Berabad abad setelah Majapahit runtuh, nama Mpu Prapanca masih disebut dan kisah getirnya masih digali.
Dalam setiap baris Negarakertagama, seakan ada bisikan halus dari seorang pujangga yang pernah berdiri dekat dengan pusat kekuasaan, kemudian dijatuhkan, namun memilih untuk meninggalkan jejak pengetahuan bagi mereka yang datang kemudian. Di situlah, Kisah Pilu Mpu Prapanca menemukan maknanya yang paling dalam bagi generasi masa kini yang terus berusaha memahami sisi manusiawi dari sejarah yang agung.






