Ratusan umat Buddha dari berbagai daerah tampak khusyuk melangkah bersama dalam kegiatan Dharmayatra ke Candi Borobudur yang digelar pada akhir pekan ini. Sejak pagi buta, barisan peziarah berbusana putih dan cokelat muda mulai menyusuri jalur yang mengarah ke kompleks candi, menjadikan kawasan warisan dunia itu seolah kembali ke wajah spiritualnya yang paling asli. Di sepanjang perjalanan, lantunan paritta dan doa mengalun pelan, menandai bahwa Dharmayatra ke Candi Borobudur bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin yang sarat perenungan.
Arus Peziarah Mengalir Menuju Borobudur
Gelombang kedatangan umat Buddha sudah terlihat sejak sehari sebelum puncak kegiatan. Bus pariwisata, kendaraan pribadi, dan rombongan komunitas lintas kota memenuhi area parkir yang disiapkan panitia. Banyak di antara mereka datang bersama keluarga, ada pula yang hadir sebagai bagian dari vihara atau komunitas meditasi.
Panitia penyelenggara mencatat peserta Dharmayatra berasal dari berbagai provinsi, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Sumatera. Kehadiran mereka menunjukkan daya tarik spiritual Candi Borobudur yang melampaui batas administratif dan latar belakang sosial. Bagi sebagian peserta, ini bukan kali pertama mereka mengikuti Dharmayatra, namun setiap kedatangan selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Seorang peserta yang telah tiga kali ikut Dharmayatra mengatakan bahwa setiap langkah menuju Borobudur selalu membawa nuansa batin yang baru. Ia mengaku merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan ketika berjalan bersama ratusan orang lain dengan tujuan yang sama, yakni memperdalam pemahaman Dhamma melalui pengalaman langsung.
Mengapa Dharmayatra ke Candi Borobudur Terus Diminati
Di balik angka kehadiran yang terus meningkat, tersimpan alasan kuat mengapa Dharmayatra ke Candi Borobudur tetap menjadi agenda penting bagi umat Buddha Indonesia. Bagi banyak umat, Borobudur bukan hanya monumen batu, melainkan simbol perjalanan spiritual menuju pencerahan, sebagaimana tercermin dalam relief dan struktur bertingkat yang menghiasi candi.
Dharmayatra menjadi jembatan antara ajaran yang dibaca dalam kitab dengan pengalaman yang dirasakan secara langsung. Ketika umat berjalan dengan penuh kesadaran, mengamati napas, langkah, dan suasana sekitar, mereka merasakan Dhamma tidak lagi berada di luar diri, tetapi menyatu dalam setiap gerakan. Hal inilah yang membuat banyak peserta rela menempuh perjalanan jauh, mengatur cuti kerja, hingga menabung selama berbulan bulan.
Selain itu, Dharmayatra juga dianggap sebagai momen memperkuat kebersamaan komunitas. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kesempatan untuk berkumpul dan berlatih bersama dalam skala besar menjadi sesuatu yang langka. Borobudur, dengan latar alam perbukitan Menoreh dan hamparan sawah, menghadirkan ruang yang ideal untuk melepas penat sekaligus menyegarkan batin.
Rangkaian Acara Dharmayatra ke Candi Borobudur
Rangkaian kegiatan Dharmayatra ke Candi Borobudur tahun ini disusun dengan cukup padat, namun tetap memberikan ruang bagi peserta untuk beristirahat dan berlatih secara mandiri. Panitia merancang alur acara agar mengalir dari aktivitas fisik menuju pendalaman batin, sejalan dengan semangat perjalanan spiritual yang ingin dihadirkan.
Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi orientasi dan pengarahan teknis. Di sini, panitia menjelaskan rute perjalanan, tata tertib, serta etika yang perlu dijaga selama berada di kawasan candi. Peserta diingatkan untuk menjaga ketenangan, tidak berisik, serta menghormati pengunjung lain dan aturan pengelola situs.
Malam harinya, digelar puja bakti dan meditasi bersama di area yang telah ditentukan. Lampu lampu kecil dan lilin menambah khidmat suasana, menghadirkan nuansa hening di tengah keramaian. Bagi banyak peserta, momen ini menjadi kesempatan untuk memusatkan niat dan menyiapkan batin sebelum melangkah ke puncak kegiatan keesokan hari.
Tahapan Perjalanan Dharmayatra ke Candi Borobudur
Pada hari puncak, rombongan Dharmayatra ke Candi Borobudur dimulai sejak fajar menyingsing. Peserta berkumpul di titik awal yang telah disepakati, membentuk barisan memanjang. Dengan dipandu oleh para bhikkhu dan pemimpin rombongan, mereka mulai melangkah perlahan.
Perjalanan dimulai dengan pembacaan paritta pelindung, sebagai simbol tekad dan perlindungan batin. Langkah demi langkah diupayakan dilakukan dengan penuh kesadaran. Peserta diminta untuk tidak banyak berbicara, menjaga perhatian pada napas, langkah, dan lantunan doa yang terdengar lembut di udara pagi.
Sesampainya di kompleks Candi Borobudur, rombongan berhenti sejenak untuk menyesuaikan formasi. Mereka kemudian melanjutkan dengan pradaksina, berjalan mengelilingi candi searah jarum jam. Setiap putaran dilakukan dengan sikap hormat, beberapa peserta menangkupkan tangan di depan dada, sementara yang lain memilih hening dalam meditasi berjalan.
Setelah rangkaian pradaksina, digelar sesi puja bakti dan pembabaran Dhamma. Para bhikkhu menyampaikan uraian ajaran yang relevan dengan tema perjalanan batin, mengaitkan struktur Candi Borobudur dengan tahapan tahapan pengembangan batin menurut ajaran Buddha. Peserta diajak merenungkan bagaimana kehidupan sehari hari dapat menjadi ladang praktik, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.
Candi Borobudur Sebagai Pusat Perjalanan Batin
Candi Borobudur selama ini dikenal luas sebagai destinasi wisata dunia, namun bagi umat Buddha, candi ini memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam. Struktur bertingkat dari kaki hingga puncak candi sering dimaknai sebagai simbol perjalanan batin manusia, dari kehidupan yang terikat pada nafsu duniawi menuju kebebasan batin yang penuh kedamaian.
Relief relief yang mengelilingi candi menggambarkan kisah kehidupan, ajaran moral, dan perjalanan spiritual yang dapat menjadi bahan renungan. Dalam konteks Dharmayatra ke Candi Borobudur, setiap relief seakan menjadi cermin yang mengajak umat melihat kembali dirinya sendiri. Di tengah keramaian, para peserta berusaha menemukan keheningan batin, membaca pesan ajaran yang terukir dalam batu.
Borobudur juga menjadi pengingat bahwa ajaran Buddha pernah berkembang dan berakar kuat di Nusantara. Keberadaan candi ini menegaskan bahwa tradisi spiritual yang kini dipraktikkan umat Buddha Indonesia bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari sejarah panjang bangsa. Dharmayatra menjadi cara untuk menyambung kembali mata rantai sejarah itu, menjadikannya hidup dalam praktik masa kini.
Suasana Khusyuk di Tengah Keramaian Wisata
Salah satu tantangan utama dalam penyelenggaraan Dharmayatra ke Candi Borobudur adalah menyeimbangkan kebutuhan spiritual dengan realitas Borobudur sebagai objek wisata populer. Di satu sisi, umat Buddha membutuhkan suasana tenang untuk berlatih dan berdoa. Di sisi lain, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang setiap hari dengan berbagai kepentingan, mulai dari edukasi hingga rekreasi.
Panitia Dharmayatra bekerja sama dengan pengelola kawasan untuk mengatur alur pergerakan peserta. Waktu kegiatan disesuaikan agar tidak terlalu bertabrakan dengan jam kunjungan puncak wisatawan. Meski demikian, interaksi antara peziarah dan wisatawan tetap tak terhindarkan. Banyak wisatawan yang berhenti sejenak, mengamati barisan umat yang berjalan khusyuk, bahkan ada yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera.
Bagi sebagian peserta, keberadaan wisatawan justru menjadi latihan tambahan untuk menjaga konsentrasi. Mereka berusaha tetap tenang, tidak terganggu oleh suara dan lalu lalang orang. Di sisi lain, pemandangan Dharmayatra memberikan gambaran kepada publik bahwa Borobudur bukan hanya tempat berfoto, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan yang hidup.
“Ketika melihat umat berjalan pelan dengan penuh kesadaran di antara keramaian wisata, saya merasa seolah Borobudur sedang mengingatkan kita bahwa keheningan tidak selalu membutuhkan kesunyian total.”
Peran Bhikkhu dan Tokoh Agama dalam Dharmayatra
Kehadiran para bhikkhu dan tokoh agama menjadi elemen penting dalam Dharmayatra ke Candi Borobudur. Mereka tidak hanya memimpin doa dan ritual, tetapi juga menjadi sumber bimbingan bagi umat yang ingin memperdalam pemahaman ajaran. Di sela sela kegiatan, banyak peserta yang memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, atau meminta nasihat terkait persoalan batin dan kehidupan sehari hari.
Dalam sesi pembabaran Dhamma, para bhikkhu mengangkat tema tema yang dekat dengan realitas peserta, seperti bagaimana menjaga ketenangan di tengah tekanan pekerjaan, mengelola emosi dalam keluarga, hingga cara bersikap bijak menghadapi perubahan zaman. Dharmayatra menjadi ruang di mana ajaran yang sering terdengar di vihara diperdalam dalam suasana yang berbeda, di hadapan monumen yang menjadi saksi sejarah ajaran itu sendiri.
Peran tokoh agama juga tampak dalam upaya menjaga kedisiplinan dan ketertiban rombongan. Mereka mengingatkan peserta untuk tidak mengotori area candi, tidak menaiki bagian yang dilarang, serta menghormati aturan yang ditetapkan pengelola. Dengan demikian, Dharmayatra berjalan tidak hanya khusyuk, tetapi juga tertib dan menghargai situs warisan budaya.
Keterlibatan Generasi Muda dalam Dharmayatra
Satu hal yang mencolok dalam Dharmayatra ke Candi Borobudur tahun ini adalah meningkatnya kehadiran generasi muda. Remaja dan mahasiswa tampak cukup dominan dalam beberapa rombongan, datang bersama keluarga maupun komunitas pemuda vihara. Mereka membawa energi baru, sekaligus harapan akan keberlanjutan tradisi spiritual ini.
Bagi generasi muda, Dharmayatra bukan hanya tentang ritual, tetapi juga kesempatan untuk mengenal akar budaya dan spiritualitas yang mungkin terasa jauh dari keseharian mereka. Di tengah gempuran teknologi dan budaya populer, pengalaman berjalan bersama ratusan orang dalam keheningan menjadi sesuatu yang unik dan berkesan. Beberapa di antara mereka mengaku baru pertama kali merasakan meditasi berjalan dalam skala besar, dan merasakan ketenangan yang berbeda dari biasanya.
Panitia pun menyadari pentingnya menjangkau generasi muda. Mereka menyusun materi pembabaran Dhamma dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, mengaitkan ajaran dengan isu isu yang dekat dengan anak muda, seperti kesehatan mental, tekanan akademik, dan kecanduan gawai. Pendekatan ini diharapkan membuat Dharmayatra tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga pengalaman yang relevan dan bermakna bagi peserta muda.
Dimensi Sosial dan Kebersamaan dalam Perjalanan
Di balik nuansa spiritual yang kuat, Dharmayatra ke Candi Borobudur juga mengandung dimensi sosial yang tidak kalah penting. Pertemuan umat dari berbagai daerah menciptakan ruang perjumpaan lintas komunitas. Mereka saling berbagi cerita tentang aktivitas di vihara masing masing, program sosial yang dijalankan, hingga tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlangsungan komunitas di daerah.
Kebersamaan ini tampak sederhana, misalnya ketika peserta saling membantu membagikan air minum, berbagi alas duduk, atau sekadar menyapa di sela sela istirahat. Namun dari interaksi kecil seperti inilah rasa persaudaraan sebagai sesama umat Buddha Indonesia terbangun. Banyak peserta yang kemudian menjalin komunikasi lebih lanjut setelah kegiatan usai, merencanakan kolaborasi kegiatan lintas vihara atau komunitas.
Dharmayatra juga menjadi ajang latihan kepedulian. Beberapa panitia menyediakan pos kesehatan kecil untuk membantu peserta yang kelelahan atau mengalami gangguan ringan. Relawan yang bertugas dengan sigap mendampingi peserta lanjut usia, memastikan mereka tetap nyaman selama perjalanan. Semua ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tidak lepas dari praktik welas asih yang konkret.
Tantangan Teknis dan Pengelolaan Kawasan Candi
Penyelenggaraan Dharmayatra ke Candi Borobudur dalam skala besar tentu tidak lepas dari berbagai tantangan teknis. Koordinasi dengan pihak pengelola kawasan, aparat keamanan, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar kegiatan berjalan lancar. Penentuan rute, pengaturan waktu, hingga pembatasan jumlah peserta di area tertentu harus diperhitungkan dengan matang untuk menjaga keamanan dan kelestarian candi.
Isu kelestarian menjadi perhatian khusus. Sebagai situs warisan dunia, Candi Borobudur memiliki batasan terkait beban kunjungan dan aktivitas di atas struktur candi. Panitia Dharmayatra perlu menyesuaikan pola kegiatan dengan aturan yang berlaku, misalnya membatasi jumlah peserta yang naik ke tingkat tertentu dalam satu waktu, atau mengalihkan sebagian kegiatan ke area yang tidak langsung menyentuh struktur batu candi.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Hujan deras atau panas terik dapat memengaruhi kenyamanan dan keselamatan peserta. Panitia menyiapkan skenario alternatif, seperti mempersingkat rute atau memindahkan sebagian kegiatan ke area yang lebih teduh jika kondisi tidak memungkinkan. Fleksibilitas ini penting agar semangat Dharmayatra tetap terjaga tanpa mengorbankan keselamatan.
Ekonomi Lokal Ikut Bergerak Saat Dharmayatra
Kehadiran ratusan peserta Dharmayatra ke Candi Borobudur juga membawa efek positif bagi warga sekitar. Penginapan, rumah makan, pedagang kaki lima, hingga penyedia jasa transportasi merasakan peningkatan aktivitas ekonomi selama rangkaian kegiatan berlangsung. Banyak peserta yang menginap beberapa hari, memanfaatkan waktu untuk berwisata ke destinasi lain di sekitar Borobudur.
Pedagang makanan di sekitar kawasan menceritakan bahwa penjualan mereka meningkat signifikan selama hari hari Dharmayatra. Mereka menyesuaikan menu dengan kebutuhan peserta, misalnya menyediakan makanan vegetarian atau menu sederhana yang mudah dikonsumsi. Beberapa penginapan kecil juga mengaku sudah menerima pemesanan jauh hari sebelum acara berlangsung.
Keterlibatan ekonomi lokal ini menegaskan bahwa kegiatan keagamaan berskala besar seperti Dharmayatra tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan warga. Tentu, hal ini perlu diimbangi dengan upaya menjaga kebersihan dan ketertiban, agar manfaat yang dirasakan tidak diiringi dengan masalah baru seperti sampah atau kemacetan yang berlebihan.
Suara Peserta: Antara Haru dan Syukur
Di akhir rangkaian Dharmayatra ke Candi Borobudur, banyak peserta yang mengungkapkan rasa haru dan syukur. Setelah melalui perjalanan panjang, mengikuti pradaksina, dan mendengarkan pembabaran Dhamma, mereka merasakan perubahan halus dalam batin. Beberapa mengaku merasa lebih ringan, seolah beban pikiran yang selama ini menumpuk perlahan mencair.
Seorang ibu rumah tangga yang datang dari luar pulau menyampaikan bahwa Dharmayatra menjadi momen berharga untuk menata ulang prioritas hidup. Ia merasa selama ini terlalu larut dalam kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan, hingga lupa memperhatikan kesehatan batin sendiri. Perjalanan di Borobudur mengingatkannya bahwa menjaga ketenangan hati sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan materi.
Seorang pemuda yang baru pertama kali ikut Dharmayatra mengaku awalnya hanya tertarik karena ajakan teman. Namun setelah mengikuti seluruh rangkaian, ia merasakan pengalaman yang sulit dilupakan. Ia terkesan dengan suasana ketika ratusan orang berjalan dalam keheningan, di bawah bayang bayang stupa Borobudur yang megah.
“Melihat ratusan orang melangkah pelan dalam hening di Candi Borobudur, saya merasa seolah sedang menyaksikan pertemuan antara sejarah, budaya, dan batin manusia dalam satu tarikan napas.”
Bagi banyak peserta, pengalaman ini akan mereka bawa pulang ke kehidupan sehari hari. Mereka berharap ketenangan yang dirasakan di Borobudur dapat dijaga dalam menghadapi rutinitas dan tantangan hidup. Dharmayatra bukan hanya berhenti di langkah kaki, tetapi berlanjut dalam sikap dan pilihan hidup setelah kembali ke rumah.






