Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, Dari Rumah Dinas Jadi Ikon Horor Rumah tua yang berdiri di tengah kawasan perkebunan Kertamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung, kini lebih dikenal masyarakat sebagai Rumah Pengabdi Setan. Popularitas nama tersebut melejit setelah Joko Anwar memilih bangunan itu sebagai lokasi utama film Pengabdi Setan yang tayang pada 2017. Namun, jauh sebelum kamera film datang, rumah tersebut sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang kawasan perkebunan di Bandung Selatan.
Bangunan ini berada di Kampung Kertamanah, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan. Kawasan tersebut dahulu berkembang bersama aktivitas perkebunan yang menjadi salah satu kegiatan ekonomi penting di wilayah pegunungan Jawa Barat sejak era Hindia Belanda. Sumber pemberitaan lama menyebut rumah yang kini menjadi tujuan wisata itu pernah digunakan sebagai rumah dinas pegawai perkebunan.
Nama Pengabdi Setan baru melekat puluhan tahun kemudian. Sebelum film dibuat, bangunan tersebut bahkan telah lama tidak dihuni. Kondisinya begitu rapuh sehingga lantai di beberapa bagian disebut tidak aman ketika tim produksi pertama kali melakukan pemeriksaan. Dari bangunan perkebunan yang sepi, tempat itu kemudian berubah menjadi salah satu lokasi film horor Indonesia yang paling mudah dikenali.
Sebelum Terkenal, Bangunan Ini Dikenal sebagai Rumah Kina
Sebelum publik mengenalnya sebagai Rumah Pengabdi Setan, masyarakat sekitar mengenal bangunan itu sebagai Rumah Kina. Sebutan tersebut berhubungan dengan material kayu yang digunakan pada sebagian besar dinding luarnya.
Pikiran Rakyat pada 2017 mencatat bahwa di kawasan Perkebunan Kertamanah terdapat tiga rumah lama yang menggunakan kayu kina. Salah satunya kemudian menjadi lokasi Pengabdi Setan. Rumah tersebut pada awalnya digunakan sebagai rumah dinas pegawai perkebunan dengan jabatan setingkat kepala bagian.
Pangalengan sendiri memiliki sejarah panjang sebagai daerah perkebunan. Selain teh, tanaman kina pernah menjadi komoditas penting di wilayah tersebut. Lingkungan pegunungan dengan suhu relatif sejuk membuat kawasan Bandung Selatan cocok untuk berbagai tanaman perkebunan.
Jejak kegiatan itu masih terlihat melalui rumah dinas, pabrik, perkebunan, serta sejumlah bangunan tua yang tersebar di kawasan Pangalengan.
Rumah yang kemudian digunakan dalam film tidak dibangun sebagai rumah horor. Bentuknya mengikuti kebutuhan hunian perkebunan pada zamannya.
Bentuk Rumah Mencerminkan Hunian Perkebunan Lama
Salah satu ciri paling mudah dikenali adalah atap yang sangat tinggi dan curam. Bagian depan memiliki balkon, jendela berukuran cukup besar, serta dinding kayu berwarna gelap yang kemudian menjadi sangat kuat secara visual ketika direkam untuk film.
Bagian bawah rumah menggunakan material batu, sedangkan bagian atas lebih banyak menggunakan kayu. Pikiran Rakyat pernah menggambarkannya bukan sebagai bangunan kolonial Art Deco, melainkan rumah perkebunan Hindia Belanda dengan konstruksi semi permanen.
Pilihan desain seperti atap tinggi juga sesuai dengan kondisi lingkungan Pangalengan.
Wilayah tersebut memiliki curah hujan tinggi dan suhu lebih dingin dibandingkan pusat Kota Bandung. Atap curam membantu air hujan mengalir lebih cepat, sementara penggunaan kayu memberi karakter berbeda dibandingkan rumah perkotaan dari bata dan beton.
Ketika bangunan mulai menua, kayu yang berubah warna serta lingkungan yang dipenuhi pepohonan justru menghasilkan tampilan yang kemudian dianggap sangat cocok untuk sebuah film horor.
“Menurut penulis, kekuatan rumah ini berasal dari bentuk aslinya. Tim film tidak perlu menciptakan sebuah rumah seram dari awal karena usia bangunan, kayu tua, tangga, lorong, dan lingkungan perkebunan sudah memberikan karakter yang sangat kuat.”
Rumah Pernah Menjadi Tempat Tinggal Pegawai Perkebunan
Informasi mengenai siapa penghuni awal rumah tidak selalu sama pada berbagai cerita wisata yang beredar. Beberapa tulisan populer menghubungkannya dengan lingkungan perkebunan milik pengusaha Eropa di Bandung Selatan.
Namun, sumber pemberitaan yang terbit tidak lama setelah film Pengabdi Setan dirilis memberikan keterangan yang lebih sederhana. Rumah tersebut disebut sebagai bekas rumah dinas pegawai atau pimpinan perkebunan. ANTARA pada 2022 juga menyebutnya sebagai bekas rumah dinas pimpinan perkebunan teh.
Setelah pengelolaan perkebunan berpindah ke perusahaan perkebunan milik negara, rumah itu tetap berada dalam kawasan yang kemudian dikelola PTPN VIII.
Bangunan sempat digunakan sebagai rumah dinas sebelum akhirnya tidak lagi ditempati.
Perubahan kebutuhan tempat tinggal pegawai, usia bangunan, dan keberadaan hunian lain membuat rumah perlahan kehilangan fungsi awalnya.
Lama Tidak Dihuni Sebelum Joko Anwar Datang
Ketika Joko Anwar mencari lokasi untuk Pengabdi Setan, kondisi rumah jauh dari tampilan lokasi wisata yang dikenal sekarang.
Joko mengatakan bangunan sudah beberapa tahun tidak ditempati. Pada kunjungan awal, beberapa bagian lantainya bahkan mudah jebol ketika diinjak. Rumah tersebut juga menjadi tempat kelelawar serta burung bersarang.
Kondisi itu sempat membuat tim mempertimbangkan lokasi lain.
Namun, mereka akhirnya kembali karena susunan ruang di dalam rumah sangat sesuai dengan skenario yang telah dibuat.
Posisi kamar, tangga, lorong, dan pembagian ruang tidak membutuhkan perubahan besar.
Menurut Joko, rumah tersebut hampir sama dengan gambaran yang sudah ada dalam tulisannya sebelum lokasi ditemukan.
Kesamaan itu menjadi salah satu alasan renovasi akhirnya dilakukan agar rumah dapat digunakan dengan aman selama produksi.
Pencarian Lokasi Memakan Waktu Lama
Menemukan rumah untuk Pengabdi Setan ternyata bukan proses sederhana.
Joko Anwar membutuhkan waktu panjang untuk mendapatkan bangunan dengan suasana yang sesuai. ANTARA mencatat pencarian lokasi berlangsung sekitar tiga bulan, sementara dalam kesempatan lain Joko pernah menyebut pencarian intensif berlangsung beberapa pekan sebelum keputusan akhir dibuat.
Sutradara tersebut tidak hanya mencari rumah tua.
Ia membutuhkan bangunan dengan tata ruang yang memungkinkan adegan berjalan sesuai rancangan film.
Tangga mempunyai peran besar. Kamar Ibu harus berada pada posisi tertentu. Koridor, ruang keluarga, halaman, dan hubungan antara lantai satu dengan lantai dua juga harus mendukung pergerakan pemain serta kamera.
Rumah Kertamanah memenuhi banyak kebutuhan tersebut tanpa harus dibangun ulang sebagai studio.
Renovasi Dilakukan Sebelum Syuting
Bangunan yang lama kosong tentu tidak dapat langsung digunakan untuk produksi film dengan puluhan orang.
Tim Pengabdi Setan kemudian melakukan perbaikan selama sekitar sepuluh hari. Renovasi terutama bertujuan membuat rumah cukup aman untuk pemain dan kru tanpa menghilangkan karakter tuanya.
Bagian lantai yang rapuh diperbaiki. Atap dan ruang tertentu juga membutuhkan penanganan.
Meski begitu, tim produksi tidak mengubah seluruh rumah menjadi bangunan baru.
Tampilan tua justru dipertahankan karena menjadi unsur penting dalam visual film.
Sejumlah bagian yang terlihat dalam film juga merupakan tambahan produksi. Sumur yang mempunyai peran penting, misalnya, bukan bagian asli rumah dan dibuat oleh tim.
Fakta tersebut menjadi penting karena pengunjung sering menganggap seluruh benda yang terlihat dalam film sudah berada di rumah sejak awal.
Rumah Menjadi Pusat Pengabdi Setan 2017
Film Pengabdi Setan versi Joko Anwar merupakan pengembangan baru dari film berjudul sama karya Sisworo Gautama Putra yang muncul pada 1980.
Joko sejak lama mengagumi film tersebut. Ia bahkan mengatakan Pengabdi Setan termasuk karya yang membuat dirinya ingin menjadi pembuat film. Keinginannya membuat versi baru telah disampaikan kepada Rapi Films sekitar sepuluh tahun sebelum proyek tersebut akhirnya terwujud.
Versi 2017 tidak menyalin cerita lama secara keseluruhan.
Kisah berpusat pada keluarga Rini yang mengalami kesulitan setelah Ibu menderita sakit dalam waktu lama. Rumah keluarga kemudian menjadi tempat berbagai peristiwa mengerikan setelah kematian Ibu.
Karena sebagian besar cerita berlangsung di rumah, pemilihan bangunan mempunyai peran sangat besar.
Rumah Kertamanah akhirnya bukan hanya latar. Tangga, kamar, jendela, halaman, dan lorong menjadi bagian yang terus dikenali penonton sepanjang film.
Syuting Berlangsung Hanya Belasan Hari
Pengabdi Setan dibuat dengan jadwal pengambilan gambar yang relatif singkat.
ANTARA mencatat proses syuting berlangsung sekitar 18 hari. Joko juga memilih pengambilan gambar secara kronologis agar emosi para pemain berkembang mengikuti perjalanan karakter dalam cerita.
Jumlah kru di dalam rumah sengaja dibatasi pada beberapa bagian.
Ruang yang tidak terlalu luas membuat terlalu banyak orang dapat mengganggu pergerakan pemain dan kamera.
Pendekatan tersebut sekaligus mempertahankan suasana sepi di dalam bangunan.
Rumah yang sudah lama kosong kemudian dipenuhi aktivitas produksi selama beberapa pekan sebelum kembali sepi setelah pengambilan gambar selesai.
Tidak banyak yang menduga tempat itu justru akan semakin ramai setelah film ditayangkan.
Film Meledak dan Rumah Mendadak Dicari Penonton
Pengabdi Setan mulai tayang secara luas di bioskop Indonesia pada 28 September 2017. Film tersebut segera menjadi salah satu fenomena perfilman nasional pada tahun itu.
Kesuksesan tersebut membawa perhatian langsung kepada rumah di Pangalengan.
Penonton mulai mencari lokasi sebenarnya. Foto bangunan tersebar di media sosial dan informasi menuju Kertamanah mulai banyak dibagikan.
Pada Oktober 2017, hanya beberapa pekan setelah penayangan film, detikTravel sudah melaporkan wisatawan datang ke lokasi untuk melihat langsung rumah yang digunakan selama pengambilan gambar.
Bangunan yang selama bertahun tahun tidak dihuni kemudian memperoleh fungsi baru sebagai tempat kunjungan.
Dari Rumah Dinas Menjadi Wisata Horor
Popularitas film akhirnya mengubah cara masyarakat melihat bangunan tersebut.
Rumah yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari kompleks perkebunan kini dikenal dengan nama karakter film yang melekat sangat kuat.
Pemerintah Kabupaten Bandung bahkan memasukkan Rumah Pengabdi Setan dalam kajian pengembangan wisata kawasan. Dokumen perencanaan daerah menyebut lokasi ini berada di kawasan Kertamanah dan menjadi tujuan wisata karena masyarakat ingin melihat kondisi asli rumah serta berfoto pada sejumlah bagian yang dibuat menyerupai suasana film.
Beberapa properti kemudian ditambahkan untuk memperkuat pengalaman pengunjung.
Salah satu yang paling mudah terlihat adalah area pemakaman buatan di sekitar halaman.
Kuburan tersebut bukan makam asli penghuni rumah. Bagian itu merupakan properti yang berkaitan dengan tampilan film dan pengembangan tempat wisata.
Kamar Ibu Menjadi Bagian yang Paling Dicari
Di antara seluruh ruangan, kamar Ibu menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian pengunjung.
Dalam film, Ibu yang diperankan Ayu Laksmi menghabiskan banyak waktu terbaring di kamar karena sakit.
Suara lonceng yang digunakan Ibu untuk memanggil anggota keluarga kemudian menjadi salah satu unsur yang paling dikenal dari Pengabdi Setan.
Saat wisatawan datang ke rumah, banyak yang mencari posisi kamar tersebut.
Tangga menuju lantai atas juga menjadi bagian favorit karena tampil berulang kali dalam adegan penting.
ANTARA mencatat wisatawan yang datang bahkan secara khusus menyebut pengalaman memasuki kamar Ibu sebagai salah satu bagian paling menyeramkan selama kunjungan.
“Rumah ini menunjukkan bagaimana lokasi film dapat memperoleh identitas baru setelah sebuah karya populer. Nama asli bangunan perlahan kalah dikenal dibandingkan nama yang diberikan penonton.”
Cerita Mistis Berkembang Setelah Rumah Populer
Seperti banyak bangunan tua, Rumah Pengabdi Setan juga dikelilingi berbagai cerita mengenai pengalaman mistis.
Warga dan pengunjung pernah menceritakan suasana tidak biasa, suara, atau perasaan tertentu ketika berada di dalam rumah.
Joko Anwar sendiri pernah menceritakan bahwa saat pertama ditemukan, rumah dihuni kelelawar dan burung serta mempunyai kondisi fisik yang sangat tua. Namun, cerita semacam itu tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa bangunan memiliki aktivitas supernatural.
Sebagian cerita berkembang karena rumah memang mempunyai unsur yang mudah menimbulkan rasa tidak nyaman.
Kayu tua menghasilkan bunyi ketika suhu berubah atau terkena tekanan. Bangunan berada di lingkungan perkebunan dengan pepohonan besar. Pada malam hari, pencahayaan kawasan juga berbeda dari permukiman padat.
Setelah penonton menghubungkannya dengan adegan film, suara dan bentuk bangunan semakin mudah diasosiasikan dengan horor.
Tidak Semua Properti Film Merupakan Bagian Asli Rumah
Pengunjung perlu membedakan antara sejarah bangunan dan kebutuhan produksi film.
Sumur yang tampil dalam Pengabdi Setan dibuat oleh tim produksi. Area kuburan yang terlihat di sekitar lokasi juga merupakan properti. Sejumlah dekorasi interior disesuaikan agar rumah terlihat cocok dengan periode cerita yang mengambil latar sekitar 1980 an.
Perabot tertentu juga ditempatkan khusus selama produksi.
Karena itu, cerita bahwa seluruh unsur menyeramkan sudah berada di rumah selama puluhan tahun tidak sepenuhnya benar.
Bangunan aslinya tetap memiliki sejarah panjang, tetapi sebagian identitas visual yang sekarang diingat masyarakat berasal dari pekerjaan tim artistik film.
Hal tersebut justru menunjukkan keberhasilan produksi dalam menyatukan bangunan nyata dan rancangan sinema.
Pengabdi Setan 2 Tidak Menggunakan Rumah Ini sebagai Lokasi Utama
Ketika Pengabdi Setan 2 Communion hadir pada 2022, Joko Anwar memilih lokasi berbeda.
Film kedua lebih banyak berlangsung di sebuah rumah susun tua di kawasan Bekasi. Bangunan tersebut juga kemudian mendapat perhatian wisatawan setelah film dirilis.
Perubahan lokasi berkaitan dengan perkembangan cerita.
Meski rumah Pangalengan tidak lagi menjadi pusat film kedua, kedudukannya sebagai ikon seri Pengabdi Setan tidak hilang.
Justru rumah pertama telah menjadi simbol visual yang lebih dahulu melekat pada penonton.
Banyak orang yang belum pernah datang ke Pangalengan sekalipun dapat mengenali bentuk atap dan balkon rumah hanya dengan melihat fotonya.
Lokasinya Berada di Tengah Lanskap Perkebunan
Daya tarik rumah juga tidak dapat dipisahkan dari wilayah di sekitarnya.
Kertamanah berada di Pangalengan yang dikenal melalui perkebunan teh, udara dingin, perbukitan, serta bentang alam hijau.
Rumah tersebut tidak berdiri sendirian di tengah hutan seperti yang mungkin dibayangkan setelah menonton film.
Di kawasan yang sama terdapat bangunan perkebunan dan rumah dinas lain. DetikTravel pada 2017 mencatat terdapat sejumlah rumah tua milik perkebunan di sekitar jalan menuju lokasi.
Posisi rumah yang berada agak ke belakang membuat suasananya terlihat lebih terpencil ketika direkam dengan sudut kamera tertentu.
Pilihan sinematografi kemudian membuat lingkungan itu terasa jauh dari permukiman.
Status Sejarah Rumah Perlu Dibedakan dari Cerita Populer
Banyak tulisan internet menyebut rumah pernah terkait langsung dengan tokoh perkebunan terkenal atau keluarga tertentu dari zaman Belanda.
Namun, informasi semacam itu tidak seluruhnya disertai dokumen sejarah yang jelas.
Sumber yang terbit dekat dengan masa peluncuran film menyebut bangunan sebagai rumah dinas pegawai perkebunan setingkat kepala bagian. ANTARA kemudian menyebutnya bekas rumah dinas pimpinan perkebunan teh.
Karena itu, penjelasan tersebut lebih aman digunakan daripada menyebut bangunan sebagai rumah pribadi seorang tokoh tertentu tanpa bukti arsip.
Hal yang cukup jelas adalah rumah memang lahir dari lingkungan perkebunan lama Pangalengan dan bukan bangunan yang sengaja dibuat untuk film.
Usianya sudah mencapai puluhan tahun sebelum Pengabdi Setan datang pada 2017.
Rumah Kini Menjadi Bagian dari Identitas Wisata Pangalengan
Pangalengan selama ini lebih dikenal melalui Situ Cileunca, perkebunan teh, kawasan Malabar, sumber air panas, serta wisata alam pegunungan.
Rumah Pengabdi Setan memberikan jenis daya tarik berbeda.
Pengunjung datang bukan untuk melihat pemandangan luas, melainkan mencari hubungan antara tempat nyata dan pengalaman ketika menonton film.
ANTARA pada 2022 bahkan memasukkan Rumah Pengabdi Setan sebagai salah satu destinasi wisata horor terkenal di Jawa Barat.
Dokumen Pemerintah Kabupaten Bandung juga mencatat tempat tersebut sebagai salah satu destinasi yang berkembang di kawasan Kertamanah.
Perjalanan panjang bangunan ini akhirnya cukup unik. Ia bermula sebagai rumah pegawai perkebunan, sempat kehilangan penghuni dan dibiarkan kosong, ditemukan oleh tim film dalam kondisi rapuh, direnovasi untuk syuting, kemudian berubah menjadi lokasi wisata setelah jutaan penonton mengenali bentuknya dari layar bioskop.
Keaslian Bangunan Menjadi Bagian yang Harus Dijaga
Semakin terkenal sebuah lokasi film, semakin besar pula tekanan akibat jumlah pengunjung.
Rumah berbahan kayu tua tentu tidak mempunyai ketahanan yang sama dengan bangunan wisata modern.
Lantai, tangga, dinding, jendela, serta balkon perlu dirawat agar tetap aman tanpa menghilangkan bentuk yang membuat rumah tersebut dikenal.
Perawatan juga penting karena nilai bangunan tidak hanya berasal dari Pengabdi Setan.
Rumah tersebut merupakan bagian dari jejak lingkungan perkebunan lama Pangalengan yang sudah ada jauh sebelum industri film menggunakannya.
Pengunjung yang datang kemudian melihat dua lapisan sejarah sekaligus. Lapisan pertama berasal dari kegiatan perkebunan dan hunian pegawai. Lapisan berikutnya lahir pada 2017 ketika sebuah film horor Indonesia mengubah rumah kosong tersebut menjadi salah satu bangunan paling terkenal dalam budaya populer Indonesia.






