Tempat Pemujaan Dewa Bumi

Di dalam satu klenteng, selain dewa tuan rumah pasti ada Dewa Bumi. Umat biasanya berdoa kepada Tian (Tuhan / langit) lalu kepada Tei (dewa bumi). Dewa Bumi atau Hok Tek Ceng Sin merupakan dewa rezeki dan berkah.

Awalnya umat berdoa kepada Dewa Bumi untuk meminta kesuburan tanah, hasil panen yang berlimpah dan bebas hama. Tapi tidak menutup kemungkinan, umat juga bisa meminta kesehatan, keselamatan, dagangan laris, hidup damai dan makmur kepada Dewa Bumi.

Dewa Bumi memiliki pengawal berupa macan hitam yang namanya Houw Ciang Kun. Di depan tempat Dewa Bumi, ada penjaga pintu yang bernama Ue Tek Kiong dan Sie Siok Po Kelahiran Hok Tek Ceng Sin dirayakan setiap tanggal 2 bulan 2 kalender Tionghoa.

Sementara setiap tanggal 15 bulan 8 kalendar Tionghoa dirayakan sebagai hari ucapan terima kasih untuk Hok Tek Ceng Sin. Umat akan memberikan kue rembulan sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah dan rezeki sepanjang tahun kemarin.

 

Makam Kyai Juru Mudi

Nahkoda armada Zheng He yang bernama Ong Keng Hong / Wang Jing Hong saat datang ke Pulau Jawa untuk kedua kalinya mendadak jatuh sakit. Dikarenakan sakit keras, ia tidak bisa melanjutkan perjalanan dan harus beristirahat di Semarang untuk mendapat pengobatan.

Setelah sembuh, Wang memilih untuk tetap tinggal di Simongan dan bergaul dengan penduduk setempat. Ia menggarap lahan dan membangun rumah. Berkat jerih payahnya, lingkungan sekitar gua jadi berkembang dan makmur.

Wang Jing Hong meninggal pada usia 87 tahun dan dimakamkan di samping gua Sam Poo Kong. Makam tersebut dikenal dengan sebutan Makam Kyai Juru Mudi. Sejak itu penduduk kota Semarang dan sekitarnya sering datang ke sini untuk berziarah atau berdoa meminta berkah. Khususnya setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon.

 

Tempat Pemujaan Sam Poo Kong / Sam Poo Tay Djien

Di sinilah tempat utama bagi umat yang ingin sembahyang pada Sam Poo Kong. Dinding luar gedung dihiasi oleh relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He selama kurang lebih 30 tahun di abad ke-15. Bebatuan yang digunakan untuk relief ini berasal dari Tiongkok. Sementara ukirannya dikerjakan oleh seniman Bali.

Di dalamnya barulah ada tempat sembahyang. Ada dua patung kecil yang menjadi simbol kedatangan Zheng He ke Semarang. Patung pertama berwajah hitam terbuat dari kayu cendana, melambangkan kedatangan pertama Zheng He pada tahun 1406. Saat itu ia masih muda, sekitar 30 – 40 tahun.

Patung kedua berwajah merah terbuat dari porselen, melambangkan kedatangan kedua Zheng He pada tahun 1416. Wajahnya sudah lebih tua. Di kiri kanannya ada patung tay jiang atau pengawal pribadi Zheng He. Namanya, Tio Kee dan Lauw Im. Patungnya terbuat dari kayu cendana juga.

Sementara itu ada satu patung besar Sam Poo Kong di tengah-tengah. Bahannya terbuat dari emas dan perunggu. Patung besar ini hanya sekedar simbol. Namun yang memiliki nilai penting justru kedua patung kecil tersebut.

Di dalam Gedung Batu ini juga ada sumur berisi mata air. Sumur ini sendiri sebenarnya merupakan peninggalan Oey Tiong Ham. Air ini dianggap suci dan kerap dimanfaatkan oleh umat maupun pengunjung yang ingin minta rezeki dalam berdagang, bertani, kesembuhan dari sakit, air siraman supaya pernikahannya lancar dan langgeng.

Air ini tidak boleh digunakan untuk sumpah, perceraian atau air minum. Umat dan pengunjung diperbolehkan mengambil air dari sumur dengan asistensi Bio Kong. Sebelumnya umat dan pengunjung harus menjelaskan keperluannya terlebih dulu agar air tersebut dapat didoakan oleh Bio Kong.

 

Makam Kyai Djangkar, Tempat Pemujaan Kong Hu Cu & Rumah Arwah Hoo Ping

Di gedung ini ada tiga tempat pemujaan sekaligus. Paling kiri ada Makam Kyai Djangkar. Dinamakan seperti itu karena di sinilah letak jangkar sekoci  yang jatuh ketika armada Zheng He pertama datang ke Pulau Jawa.

Jangkar sekoci ini pertama kali ditemukan di Kali Kuping. Sedangkan jangkar kapal utama jatuh di Rembang. Banyak orang yang datang ke Makam Kyai Djangkar untuk meminta berkah baik untuk usaha maupun kerja.

Di tengah, ada tempat pemujaan untuk pendiri agama Kong Hu Cu. Posisinya mengambil porsi paling besar. Kemudian di sisi paling kanan ada Rumah Arwah Hoo Ping. Arwah Hoo Ping adalah arwah orang meninggal yang tidak dirawat oleh keluarganya. Mereka ditampung di sini untuk didoakan. Arwah Hoo Ping diperingati tiga kali dalam setahun: sehari sebelum Imlek, saat Ceng Beng dan saat upacara Ulambama (Jit Gwee).

 

Tempat Nyai Cundrik Bumi

Dulunya, area ini dijadikan tempat penyimpanan dan perawatan pusaka. Di sini juga merupakan tempat goa lama berada sebelum dipindahkan karena longsor. Sekarang di sini hanya menjadi simbolisasi saja. Sudah tidak ada lagi pusaka yang tersisa di sini.

 

Apa yang Wajib Anda Lihat: Pohon Rantai

Mendongaklah ke atas dan lihat keunikan pohon yang satu ini. Bentuk dahannya menyerupai rantai  atau tambang kapal. Anda mungkin tidak akan menemukan fenomena alam unik seperti ini di tempat lain.

 

Tempat Kyai Nyai Tumpeng – Juru Masak

Kyai Nyai Tumpeng adalah juru masak Zheng He. Nama aslinya Han Li Bao, putri dari Tiongkok yang diboyong oleh Zheng He untuk membantu memasak di kapal. Dulunya ini tanah biasa. Sampai ketika ada seorang suhu yang datang untuk sembahyang dan kerasukan. Ia menyebut-nyebut “Tumpeng! Tumpeng!”. Maka yayasan membuatkan tempat ini sebagai penghormatan terhadap Han Li Bao.